Saturday, April 18, 2015

Al-Farabi

20525_370592669794162_1158388847363858714_nNama lengkapnya Abu Nasr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzlag al-Farobi. Seorang filusuf muslim terkemuka pada zamannya yang sukar dicari padanannya (Farob, 257 H/870 M - Aleppo, 339 H/959 M).

Al- Farobi selalu selalu berpindah tempat tinggal dari waktu ke waktu. Di masa kecil beliau yang dikenal rajin belajar dan memiliki otak yang cerdas, belajar agama, bahasa Arab, bahasa Turki, dan bahasa Parsi di kota kelahirannya, Farob. Setelah besar al-Farobi pundah ke Baghdad dan tinggal disana sekitar 20 tahun lamanya. Di sini beliau memperdalam filsafat, logika, matematika, etika, ilmu politik, musik, dan lain sebagainya. Dari Baghdad, al-Farobi kemudian pindah ke Harran (Iran). Di sana ia belajar filsafat Yunani kepada beberapa orang ahli, diantaranya Yuhana bin Hailan. Tidak lama kemudian, al-Farobi meninggalkan Harran dan kembali ke Baghdad.

Selama di Baghdad beliau menghabiskan waktunya untuk mengajar dan menulis. Al-Farobi mengarang buku tentang Logika, Fisika, Ilmu Jiwa, Metafisika, Kimia, Ilmu Politik, Musik, dan lain-lain. Tetapi kebanyakan karyanya yang ditulis dalam bahas Arab hilang dari peredaran. Sekarang diperkirakan hanya tersisa sekitar 30 buah saja. Yang terpenting diantaranya ialah:

1. Agrad al-Kitab ma Ba'da at-Tabi'ah (Intisari buku Metafisika)
2. Al-Jam'u Baina Ra'yi al-Hakimaini (Mempertemukan dua pendapat Filusuf; Plato dan Aristoteles)
3. Uyunul Masa'il (Pokok-pokok persoalan)
4. Ara'u Ahl Madinah (Pikiran-pikiran penduduk kota)
5. Ihsa'ul Ulum (Statistik Ilmu)

Ketika pergolakan politik di Baghdad memuncak pada Tahun 330 H/ 941 M, al-Farobi merantau ke Haleb (Aleppo) dan disana ia mendapat perlakuan istimewa dari Sulatan Dinasti Hamdani yang berkuasa ketika itu, yaknu Saifuddawlah. Atas perlakuan baik itulah maka al-Farobi tetap tinggal di Aleppo sampai akhir hayatnya.

Jasa al-Farobi bagi perkembangan filsafat pada umumnya dan filsafat Islam pada khususnya sangat besar. Menurut banyak sumber ia menguasai banyak cabang keilmuan.

Dalam bidang Ilmu Pengetahuan, keahliannya yang paling menonojol ialah dalam ilmu mantik (logika). Kepiawaiannya dibidang ini jauh melebihi gurunya, Aristoteles. Menurut Al-Ahwani, pengarang Al-Falsafah al-Islamiyyah, besar kemungkinan gelar "Guru Kedua" (al-muallim as-sani) yang disandang al-Farobi diberikan orang karena kemasyhurannya dalam cabang ilmu mantik. Dialah orangnya yang pertama kali menemukan ilmu logika dengan memasukkan dasar-dasarnya.

Di bidang Filsafat, al-Farobi tergolong ke dalam kelompok Filusuf Kemanusiaan. Beliau lebih mementingkan soal-soal kemanusiaan, seperti akhlak (etika), kehidupan intelektual, politik dan seni.

Filsafat al-farobi sebenarnya merupakan campuran antara filsafat Aristoteles dan Neo-Platonisme dengan pikiran keislaman yang jelas. Dalam soal mantik dan filsafat fisika, umpamanya, beliau mengikuti pemikiran-pemikiran Aristoteles, sedangkan dalam lapangan metafisika al-farobi mengikuti jejak Plotinus, seorang tokoh Neoplatonisme.

Al-Farobi berkeyakinan penuh bahwa antara agama dan filsafat tidak terdapat pertentangan karena sama-sama membawa kebenaran. Namun dsmikian, beliau tetap berhati-hati atau bahkan khawatir kalau-kalau filsafat itu membuat iman seseorang menjadi rusak, dan oleh karena itu beliau berpendapat seyogyanya di samping dirumuskan dengan bahasa yang samar-samar filsafat juga hendaknya jangan sampai bocor ke tangan orang awam.

Diantara pemikiran Filaafat Al-Farobi yang terkenal ialah penjelasannya tentang emanasi (al-Faid), yaitu teori yang mengajarkan tentang proses urut-urutan kejadian suatu wujud yang mungkin (alam makhluk) dari Dzat yang wajib al-wujud (Tuhan). Menurut al-Farobi, Tuhan adalah akal pikiran yang bukan berupa benda. Segala sesuatu, demikian menurut al-Farobi, keluar (memancar) dari Tuhan karena Tuhan mengetahui (memikirkan) Dzat-Nya dan mengetahui bahwa Ia menjadi dasar susunan wujud yang sebaik-baiknya. Ilmu-Nya menjadi sebab bagi wujud semua yang diketahui-Nya.

Bagaimana cara emanasi itu terjadi? Al-Farobi mengatakan bahwa Tuhan itu benar-benar Esa sama sekali. Karena itu, yang keluar daripada-Nya juga tentu harus satu wujud saja. Kalau yang keluar dari Dzat itu berbilang, maka berarti Dzat Tuhan juga berbilang. Menurut Al-Farobi, dasar adanya emanasi ialah karena dalam Pemikiran Tuhan dan pemikiran akal-akal (yang timbul dari Tuhan) terdapat kekuatan emanasi dan penciptaan.

Selain filsafat emanasi, al-Farobi juga terkenal dengan filsafat kenabian dan filsafat politik kenegaraannya. Dalam hal filsafat kenabian, al-Farobi disebut-sebut sebagai filusuf pertama yang membahas soal kenabian secara lengkap. Al-Farobi berkesimpulan bahwa baik para nabi/rosul maupun para filusuf sama-sama dapat berkomunikasi dengan akal Fa'al, yakni Akal Kesepuluh (malaikat).

Perbedaannya, demikian al-Farobi, komunikasi nabi/rosul dengan Akal Kesepuluh terjadi melalui perantaraan imajinasi (al-mutakahayyilah) yang sangat kuat. Sedangkan para filusuf berkomunikasi dengan Akal Kesepuluh melalui Akal Mustafad, yaitu akal yang mempunyai kesanggupan dalam menangkap inspirasi dari akal kesepuluh yang ada diluar diri manusia.

Dalam hal filsafat kenegaraan, al-Farobi membedakan negara menjadi lima macam:

1. Negara Utama (al-madinah al-fadhilah), yaitu negara yang penduduknya berada dalam kebahagiaan. Menurut Al-Farobi, negara terbaik adalah negara yang dipimpin oleh Rosul dan kemudian oleh para Filusuf.
2. Negara Orang-Orang Bodoh (al-madinah al-jahilah), yaitu negara yang penduduknya tidak mengenal kebahagiaan;
3. Negara Orang-orang yang Fasik (al-madinah al-fasiqoh), yakni negara yang penduduknya mengenal kebahagiaan, Tuhan dan Akal Fa'al seperti penduduk utama (al-madinah al-fadhilah), akan tetapi tingkah laku mereka sama dengan penduduk negeri yang bodoh.
4. Negara Yang Berubah-ubah (al-madinah al-mutabaddilah), ialah negara yang penduduknya semula mempunyai pikiran dab pendapat seperti yang dimiliki negara utama, tetapi kemudian mengalami kerusakan.
5. Negara Sesat (al-madinah ad-dhoolalah), yaitu negara yang penduduknya mempunyai konsepsi pemikiran yang salah tentang Tuhan dan Akal Fa'al, tetapi kepala negaranya beranggapan bahwa dirinya mendapat wahyu dan kemudian ia menipu orang banyak dengan ucapan dan perbuatannya.

Sumber : BINU, Badan Intelejen NU