Cerita berikut adalah legenda tutur yang beredar di masyarakat. Sehingga letak kesejarahannya belum terferivikasi. Kami tampilkan di halaman ini agar legenda tutur ini tidak hilang ditelan zaman.
Perkampungan yang terletak di perbatasan antara Kecamatan Wonokromo dan Kecamatan Wonocolo, tepatnya di Jalan Sidosermo Dalam Surabaya, Jawa Timur, itu bermula dari sebutan sang kiai pengasuhnya, KH Mas Sayyid Ali Akbar, yang kemudian diikuti masyarakat sekitar dan berlanjut hingga sekarang. Nama itu memang diambil dari asal kata lima santri yang Nderes. Nderes itu mengaji yang terus menerus sepanjang hari.
Sebelum menjelma menjadi ponpes besar seperti sekarang, Sidosermo adalah sebuah rumah kecil yang dihuni beberapa orang pengikut Sayyid Ali Akbar. Mas Sayyid Ali Akbar adalah anak Sayyid Sulaiman, cucu Sunan Gunung Jati Cirebon, Jawa Barat. Hasil perkawinannya dengan anak Mbah Sholeh Semendhi dari Pasuruan.
Bermula dari dua orang bersaudara bernama Sayyid Arif dan Sayyid Sulaiman, cucu Sunan Gunung jati Cirebon Jawa Barat, yang berkelana ke Jawa Timur untuk berguru di pondok pesantren yang diasuh Raden Rohmat (Sunan Ampel) Surabaya.
Ketika menimba ilmu di pondok pesantren Sunan Ampel, pada suatu malam ketika Sunan Ampel melaksanakan sholat malam, tampaklah oleh beliau diantara para santri yg sedang tidur dua orang santri yang terlihat memancarkan sinar, kemudian oleh beliau kedua orang santri itu didekati dan masing masing di ikat kain jariknya.
Keesokan harinya setelah selesai menunaikan sholat subuh,semua santri dikumpulkan, kemudian Sunan Ampel bertanya: "wahai santri-santriku, siapa diantara kalian yg merasa kain jariknya terikat, mendekatlah kepadaku".
Lalu mendekatlah, kedua santri yang bernama Sayyid Arif dan Sayyid Sulaiman kepada beliau, kemudian Sunan Ampel bertanya kepada para santrinya: Barang apakah yg paling berharga di dunia ini?, secara serempak mereka menjawab: "EMAS".
Dengan kejadian tersebut, maka Sunan Ampel menyuruh semua santrinya untuk memanggik kedua santrinya itu dengan panggilan "EMAS" didepan nama kedua santri tersebut,dan mulai saat itulah kedua santri tersebut berikut keturunannya diberi gelar "MAS" didepan nama aslinya dan terus berlanjut hingga sekarang.
Selang beberapa waktu Sunan Ampel meminta kepada kedua santri itu untuk sowan kepada Mbah Sholeh Semendhi dan menyampaikan salamnya, setelah memperhatikan perangai keduanya, timbullah keinginan Embah Sholeh Semendhi Pasuruan untuk mengambil kedua santri tersebut sebagai menantu
Karena sebelumnya beliau memang sudah bernadzar bahwa: "Aku tidak akan mengawinkan kedua orang anakku,apabila tidak ada dua orang bersaudara yg datang kepadaku secara bersama sama".
Dalam melaksanakan kehendak Mbah Sholeh Semendhi, Mas Sayyid Sulaiman merasa perlu minta waktu mohon izin kepada kedua orang tuanya di Cirebon. Sementara adiknya Mas Sayyid Arif tetap tinggal di Pasuruan. Pada saat Mas Sayyid Sulaiman berada dalam perjalanan yang memakan waktu selama tiga bulan, ketika itulah Mas Sayyid Arif di nikahkan terlebih dahulu. Dan barulah sekembalinya Mas Sayyid Sulaiman dari Cirebon, Mbah Sholeh Semendhi menikahkan beliau dengan putrinya yg kedua yaitu adik dari istri Mas Sayyid Arif.
Dari perkawinan Mas Sayyid Sulaiman dengan putri Mbah Sholeh Semendhi lahirlah seorang putra yg di beri nama "ALI AKBAR". Mas Sayyid Ali Akbar inilah yg kemudian membuka lembaran emas keluarga besar Sidoresmo. Dan Mas Sayyid Sulaiman sendiri menetap di Kanigoro Pasuruan. Ketika beliau hendak pulang ke Cirebon, dalam perjalanan beliau jatuh sakit di daerah sekitar Jombang, Jawa timur, hingga beliau dipanggil menghadap Sang Kholiq dan dikebumikan di Mojoagung Jombang. Sedangkan Mas Sayyid Ali Akbar sendiri akhirnya menuntut ilmu di pondok pesantren Sunan Ampel, Surabaya.
Setelah lama belajar di ponpes milik Sunan Ampel, Sayyid Ali Akbar kemudian diperintahkan kembali pulang untuk menyebarkan ajaran Islam oleh Sunan Ampel. Dalam perjalanannya dari Ampel kembali ke masyarakat untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh selama mengaji, Ali singgah di sebuah tempat sebelah timur Wonokromo, Surabaya. Saat itu, daerah Wonokromo dan sekitarnya masih berupa hutan belantara.
Kemudian, dibantu sejumlah pengikutnya, Mas Sayyid Ali Akbar mendirikan perkampungan untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Setelah berdiri, terus berdatangan masyarakat sekitar untuk ikut mengaji dan belajar ilmu agama kepada Mas Sayyid Ali Akbar.
Setiap hari komunitas masyarakat kecil itu terus mengaji (Nderes). Hingga suatu malam pemandangan itu menyita perhatian Mas Sayyid Ali Akbar, ia terkesima melihat lima santri pengikut setianya terus menerus Nderes.
Sejenak Mas Sayyid Ali Akbar termenung, pemandangan itu kemudian menginspirasinya untuk memberi nama perkampungan tersebut dengan sebutan "Nderesmo". Kalimat itu berasal dari Nderes-nya Santri Limo.
Saat ini, perkampungan itu berkembang pesat, banyak ponpes berdiri. Santri yang mengaji atau belajar ilmu agama di kawasan tersebut tidak hanya dari Jatim, melainkan dari berbagai wilayah di tanah air.
Sumber : KH Mas Nidlomuddin Tholhah