Waktu itu memang agak sulit bagi saya mengentertaint tamu. Wawasan dolan saya memang minim, padahal kali ini tamunya adalah seorang professor asli Jepang.
Tempat istimewa, ya tempat seperti itulah yg saya googling dari pikiran saya. Tapi apa boleh buat, sebagai seorang santri, tempat istimewa tentu saja Makam Sunan Ampel. Tapi masak ya sih, saya ajak ziarah.
Ternyata setelah saya jelaskan kemana tujuan kita, beliau setuju. Ya sudah, dalam waktu singkat mobil saya arahkan ke Ampel. Dan mulailah kebiasaan saat ziarah saya mulai.
Pertama saya ajak beliau masuk Masjid Ampel. Sembari menunggu saya tahiyatal Masjid, beliau mengamati bangunan masjid. Saya pikir, ini mirip waktu di Jepang, muslim diajak ke Otera atau Jinja, lalu pada ndangak2 liat plafon bangunan kunonya.
Bangga juga saya ketika menunjukkan papan pengumuman tata cara kunjungan yang di tembok tempat wudlu itu tertulis dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Jepang.
Selanjutnya kami menuju makam. Sampai gapura makam, saya berdiri takdhim lalu mengucap salam kepada Sunan Ampel dan seluruh ahli kubur di sana.
Ternyata beliau juga ikut saya berdiri, lalu tak disangka juga mengucap salam
"Konnichiwa..."
(Selamat Siang Sunan Ampel)
Sebetulnya saya ingin ketawa, tapi saya sadar itu adalah ungkapan hormat beliau. Bagaimanapun menghormat dan memuliakan satu sama lain terutama terhadap yang memiliki jasa besar adalah akhlaq universal. Siapapun pasti akan dapat merasakan dan memilikinya.
Sumber : Agus Zainal Arifin