Saturday, April 18, 2015

KH. Ahmad Said Probolinggo

11138609_1396614013990637_4885523595790470878_n copyLahir di kelurahan Mayangan kota Probolinggo tanggal 4 Januari 1952. Lahir dari seorang ayah bernama Lam Ho ji dan ibu bernama Maisaroh. Dari garis ayahnya, silsilahnya sampai pada Raden Ahmad salah satu Raja Sumenep, Madura. Sejak kecil beliau memang dicekoki ilmu agama Islam dari ayahnya yg juga seorang ustadz. Setelah lulus dari Sekolah Rakyat, beliau melanjutkan belajar di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan selama 13 tahun. Disana ilmu agamanya semakin bertambah.

Beberapa prestasi diraihnya terutama dalam bidang Membaca Kitab Kuning. Oleh karena kemapanan ilmunya beliau juga mengajar di pesantren tersebut. Banyak murid-muridnya yang kini telah menjadi kiai, ustadz, pejabat, dll. Hingga selepas dari pesantren pun beliau selalu mengabdikan seluruh cintanya untuk pesantren Sidogiri. Beliau melanjutkan perjuangan ayahnya yg mulai sepuh. Beliau mengajar ngaji, menjadi penceramah di pengajian, hingga menjadi tetua yang selalu dipatuhi fatwanya oleh masyarakat Mayangan. Beliau menikah dengan gadis bernama Kholila. Dikaruniai 4 anak bernama Rofiatun, Ahmad Fais, Uswatun Hasanah (wafat usia 1th), dan Nasrul Fatah Sofar.

Hidup beliau sangat sederhana. Dulu rumahnya hanya berdinding triplek dan beralaskan tanah. Beliau juga bekerja sebagai kuli pabrik kayu ternama. Sementara Sang istri berdagang kebutuhan rumah tangga. Suka duka dilalui bersama. Sampai ditahun 1998 menunaikan ibadah haji. Masyarakat sekitar banyak yang tidak percaya. “ustad miskin rumahnya dr triplek kok bisa naik haji?”.

Murid-murid beliau semakin hari semakin banyak bahkan sampai ada yang menginap di musolla kecilnya. Siang mengajar madrasah diniyah, malam mengajar ngaji alquran, setelah isya’ mengajar kitab kuning. Ikhlas dan Tanpa lelah beliau mengajar. Beliau memang suka sekali membaca kitab kuning, kadang sampai subuh. Anak didiknya hanya membayar iuran bulanan sebesar Rp. 300. Dan itupun hanya untuk membiayai keperluan musolla dan madrasahnya.

Sejak lama juga beliau masuk dalam kepengurusan NU di Probolinggo. Mengabdi dengan ikhlasnya pada NU. Beliau juga aktif di MUI dan FKUB (forum kerukunan umat beragama). Beliau juga berpolitik lewat PKB dan sempat menjadi anggota DPRD 2 periode. Meskipun menjadi anggota dewan, hidupnya tetap sederhana. Ke kantor hanya mengendarai Honda Supra th 1997. Setelah tidak menjadi anggota DPRD, beliau kembali focus mengajar di musolla dan melayani masyarakat yang membutuhkan bantuannya. Ketika tetangga ada yang punya hajat pasti selalu berdiskusi dulu dengan beliau.

Yah beliau memang sederhana. Sampai suatu hari beliau mencoba usaha kayu bakar. Mulai dari menurunkan kayu dari pick up, memotong kayu menjadi kecil-kecil, hingga mengantarnya langsung ke konsumen, beliau kerjakan sendiri. Sungguh seorang yang pekerja keras demi keluarganya.

Suatu malam yaitu malam Senin tgl 20 Oktober 2013 beliau mengisi ceramah di pengajian rutin yg berlokasi di samping rumahnya. Acaranya selesai jam 22.00 WIB. Setelah itu beliau pulang kerumah dan berbincang dengan kedua putranya, Ahmad Fais dan Nasrul Fatah sampai jam 23.00 WIB. Lalu beliau keluar rumah berbincang-bincang dengan masyarakat sekitar yang memang suka melekan. Jam 00.00 beliau pulang dan beristirahat. Jam 02.00 beliau bangun untuk sholat tahajud. Setelah mengambil wudhu’ beliau duduk sebentar diranjang karena merasa kepalanya pusing. Minta dibuatin teh hangat. Setelah dibuatin beliau sudah terbaring lemas tak bernafas. Teh hangat yang diminta belum sempat diminumnya. Jam 02.30 nyawa beliau tidak tertolong. Beliau dimakamkan di pemakaman umum disamping makam istrinya yg lebih dulu wafat tahun 2011 lalu.

Lahu Al-Faatihah

Sumber : Hisyam Firdaus Maulawiyah