Hafiz Syirazi, adalah seorang sufi, sastrawan dan penyair terbesar Persia, menggantikan Sa’di Syirazi. Hafiz lahir tahun 1325 M. Nama lengkapnya Syamsuddin Muhammad Hafizh al-Syirazi. Ia seorang Khawaja, sebutan untuk ulama besar, Syeikh atau Maulana. Ia dikenal dengan sebutan : “Lisan al-Ghaib” (Suara Misteri) dan “Tarjuman al-Asrar” (Penafsir Rahasia-rahasia).Abd al-Rahman Jami (1492-1414 M), sufi sastrawan, mengomentari predikat tersebut dalam bukunya yang terkenal “Nafahat al-Uns”. “Syeikh Hafiz adalah sufi besar yang sangat piawai dalam memahami makna-makna yang tersembunyi dari kata-kata. Ia membungkusnya dalam bahasa aforisme yang mengalir halus dan tenang. Puisi-puisi Hafiz menggoncang dahsyat jiwa pembacanya sekaligus memabukkan atau dengan kata lain membangkitkan kerinduan yang mendalam dan mencerahkan”.
وقد أطلق الشاعر عبد الرحمن جامي (817/1414-898/1492) في كتابه "نفحات الأنس" على حافظ لقب لسان الغيب وترجمان الأسرار وفسره بأن صاحب هذا اللقب كشف عن كثير من الأسرار الغيبية والمعاني الحقيقية التي التفّت بألبسة المجاز. وهي مع ذلك خالية من التكلف والاضطراب. وهذا كله يدل على أن أشعار حافظ كانت تهز الناس وتطربهم أيما طرب وتبعث في نفوسهم نشوة عميقة.
Karya-karya sastranya memeroleh apresiasi luar biasa di dunia timur maupun barat, dan dicatat sebagai karya sastra abadi. Pikiran-pikirannya jernih, tajam, kritikal sekaligus kontroversial. Ia acap menggoncangkan pikiran-pikiran para otoritas mapan (status quo).
Perdebatan tentang posisi Hafiz
Manakala dia meninggal dunia, para tokoh agama melarang public/masyarakat menyampaikan dukacita dan mengantarkan jenazahnya. Mereka menganggap Hafiz telah sesat dan kafir. Tetapi sebagian masyarakat menentang pandangan itu sekaligus membelanya sebagai seorang sufi besar, seorang saleh. Perdebatan itu pada akhirnya diselesaikan melalui “undian” untuk menentukan apakah Hafiz seorang saleh atau orang yang sesat dan kafir. Mereka memilih sebuah puisi aforisme 47 dari karya Hafiz. Puisi ini terdiri dari dua bagian : awal dan akhir. Jika bagian awal yang keluar, maka pendapat para tokoh agama yang mengkafirkan Syeikh Sa’di yang menang. Jika bagian kedua yang keluar, maka kemenangan di pihak pembelanya. Hasilnya ialah ; Puisi bagian akhir yang keluar.
Puisi yang ditulis dalam bahasa Persia itu berbunyi :
قدم در بغ مدار از جنازة حافظ كه كرجه غرق كنا هست ميرود به بهشت
Dalam terjemahan bahasa Arab ia berbunyi :
لا تؤخر قدمك او تتردد عن جنازة حا فظ فهو غريق فى الاثم / ولكنه ذاهب الى الجنة
Jangan kau tunda kakimu melangkah
Jangan ragu atas jenazah Hafiz
Dia tenggelam dalam dosa/ tetapi ia pulang ke surga
Menarik sekali. Para tokoh agama yang semula menuduh Hafiz sesat dan kafir itu, kemudian percaya bahwa dia layak diantarkan jenazahnya dan dimakamkan di kuburan kaum muslimin. Bahkan dia ditempatkan secara istimewa di sebuah tempat bernama “Raudhah al-Mushalli” (taman orang yang salat). Ia semacam “zawiyah”, pojok, tempat permenungan, kontempelasi atau khalwat, para darwisy, dan para “salik” (para pengembara yang menempuh jalan menuju Tuhan). Pada masa hidupnya Hafiz Syirazi acap tinggal di situ berhari-hari. Pada masa sesudah itu ia berubah namanya menjadi “Al-Hafizhiyyah” atau “Barkah Hafizh”. Kuburan ini diziarahi tiap hari oleh para peziarah dari seluruh penjuru dunia.
Ini adalah satu di antara puisi-puisi Khawaja Hafiz al-Syirazi :
اَنَا الدَّرْوِيش فَارْحَمْنِى اَيَا رَبِّى فَلاَ اَدْرِى سِوَى ذَاالْبَابِ اَبْغِيهِ وَاَنْتَ الْقَصْدَ وَالْمَطْمَعُ
وَزَادَتْ حِيْرِتِى لَمَّا رَأَيْتُ الْعَذْبَ مِنْ شِعْرِى وَلَمْ أَجْمَعْ بِهِ مَالاً وَحَتَّى الشُّكْرَ لَمْ اَسْمَعْ
Aku seorang darwisy, pengembara
Anugerahi aku Kasih-Mu, Oh, Tuhanku
Aku tak tahu, apa lagi yang aku harapkan
Selain pintu-Mu ini
Kaulah tujuan dan tempat hasratku
Cemasku semakin bertambah
Manakala puisiku begitu tawar
Tak menghasilkan apapun
Kata terima kasih juga tak aku dengar
Lahu Al-Faatihah
Sumber : KH. Husein Muhammad