Saturday, April 18, 2015

KIAI MAHFUDZ ANWAR, Pakar Astronomi NU

news08329rKH. Mahfudz Anwar adalah salah seorang ulama kharismatik yang memiliki kualifikasi keilmuan yang sangat mumpuni. Tiga cabang ilmu dasar dikuasai dengan sangat mendalam yakni fikih, tafsir dan ilmu falak (astronomi). Selain ketiga bidang itu, KH. Mahfudz Anwar juga dikenal sebagai seorang Muhaddits (ahli hadits), Sufi (ahli tasawuf), dan ahlul lughah (ahli bahasa/ etimolog). Kemampuan yang dimilikinya itu tidak lepas dari latar belakang keluarga yang membimbingnya, lembaga pendidikan yang menempanya, dan perjuangan sosial kemasyarakatan yang dijalaninya dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Tetapi diantara sekian banyak ilmu yang dikuasai ia lebih dikenal sebagai seorang pakar ilmu falak, yang ditekuni hingga akhir hayatnya.



Masa Pembentukan

Kiai yang hafal al Quran itu dilahirkan di Paculgowang Jombang 12 April 1912 M dari pasangan Kiai Anwar Alwi dan Nyai Khadijah, ia anak keenam dari 12 orang bersaudara. Ayahnya adalah pengasuh Pesantren Pacul Gowang, generasi kedua. KH. Anwar Ali satu periode dengan KH. Moh. Hasyim Asy’ari, Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Mereka sama-sama murid KH. Kholil Bangkalan Madura. Selain KH. Hasyim, KH. Abdul Karim (pendiri pondok pesantren Lirboyo Kediri) dan KH. Ma’ruf (Kedunglo Kediri) juga teman karibnya. Kiai Anwar Alwi juga murid KH. Mahfudz Termas Pacitan yang berdomisili di Makkah ketika studi di sana.

Melihat latar belakang keluarga yang berbasis pesantren itu sangat wajar apabila KH. Mahfudz Anwar tumbuh dalam suasana religius dan keilmuan agama yang tinggi Saat itu Pesantren Tebuireng telah muncul sebagai pesantren terkenal kualitas keilmuannya, kenyataan itu membuat Kiai Anwar Ali memondokkan anaknya ke sana. Jarak antara Tebuireng dengan Paculgowang hanya sekitar 3 km. Maka dikirimlah Mahfudz kecil ke Pondok Pesantren Tebuireng untuk menimba ilmu dari Kiai Hasyim.

Masa pendidikan Mahfudz banyak dihabiskan di Tebuireng, ditempuh mulai dari kelas shifir awal, tsani, tsalis, (kelas 1 sampai kelas VI) Ibtidaiyah. Karena kecerdasannya yang tinggi maka ketika mencapai kelas IV ia sudah ditugasi untuk mengajar adik kelasnya, padahal umumnya tidak jauh beda atau lebih tua darinya. Ini menunjukkan bahwa Mahfudz kecil memang sudah kelihatan kecerdasannya. Baru setelah lulus kelas VI, ia diangkat menjadi guru resmi di Pesantren Tebuireng. banyak murid ustadz Mahfudz yang nantinya menjadi orang besar, pemimpin masyarakat, misalnya KH. Ahmad Shiddiq dan KH. Tholhah Hasan bahkan Kiai As’ad Syamsul Arifin sempat berguru padanya.

Selain kepada Kiai Hasyim, Mahfudz juga belajar kepada Kiai Ma’shum Ali, seorang ulama besar, ahli falaq dan pencetus nazam Ilmu Sharaf yang sangat heboh di Timur Tengah. Kiai Ma’shum Ali adalah Direktur Madrasah Tebuireng. Posisi penting itu ia duduki baik karena keilmuannya juga karena menantu KH. Hasyim Asy’ari dengan putrinya Hj. Khoiriyah Hasyim. Pada saat yang sama ia juga mengasuh pesantren sendiri di Seblak, tidak jauh dari situ. Pada kiai muda itu Mahfudz khusus mempelajari ilmu falaq, dan ia menunjukkan bakat yang luar biasa dalam disiplin itu. Hal itu bisa dipahami mengingat sejak usia belasan tahun, Mahfudz sudah belajar ilmu itu. Karena itu meski usianya belum genap 20 tahun, kata Kiai Sahal Mahfud, ia sudah disegani oleh santri Tebuireng.

Sebagai santri yang menonjol kepandaiannya, akhirnya Mahfudz diambil menantu oleh Kiai Maksum, karena itu ketika Kiai Maksum meninggal pada usia yang sangat muda, 33 tahun tepat pada tahun 1933, maka kepemimpinan pesantren Seblak diserahkan kepada ustadz Mahfudz. Kesibukan mengurusi pesantren di Seblak tidak membuat Kiai Mahfudz melupakan Tebuireng ia tetap mengajar di Tebuireng. Walaupun sudah menjadi pengasuh pondok pesantren dan sudah menguasai sederet ilmu dengan mendalam, namun semangat belajar Kiai Mahfudz tidak pernah padam. Diantara sekian ilmu yang terus giat dipelajari adalah ilmu falaq sayang guru di bidang itu Kiai Ma’shum Ali keburu meninggal dunia, karena itu langsung belajar falaq lagi kepada Mas Dain, seorang santri seniornya yang menjadi kepala pondok Seblak, yang masih terbilang cucu Kiai Rahmat Kudus. Karena minatnya sangat besar maka ia belajar dengan tekun dan teliti, sehingga bisa menyerap ilmu gurunya itu dengan cepat.

Ilmu Falak Sebagai pilihan.

Maka tidak heran, KH Mahfudz dan Mas Dain dalam tempo yang singkat mampu menjadi pakar falak yang betul-betul mumpuni. Momentum paling tepat untuk menguji kepakaran mereka adalah saat rukyatul hilal (penentuan) awal Ramadlan dan Syawal, sebuah momen yang akurasinya sangat ditunggu oleh masyarakat.
Setiap menjelang Rhamadan dan Syawal, Kiai Mahfudz dan Mas Dain pergi ke gunung Tunggorono, sebelah barat kota Jombang, untuk melakukan rukyah (pemantauan), melihat bulan setelah diperhitungkan sesuai dengan hasil hisab (perhitungan) masing-masing. Setelah rukyah selesai, mereka kembali ke pondok mendiskusikan hasil rukyah masing-masing. Perdebatan, untuk adu argumentasi dan ketajaman menganalisa serta kecermatan dalam mengamati hilal (tanggal) menjadi kunci kemenangan. Siapa yang paling benar dan kuat dalilnya yang keluar sebagai pemenang. Kiai Mahfudz sering menang dalam perdebatan ini.

Dengan kecemelangan dalam ilmu falak semakin mengukuhkan kualitas keulamaan dan kelebihannya di atas ulama lain. Kebanyakan ulama, khususnya ulama NU hanya menguasai ilmu fikih. Jarang dari mereka yang memiliki kepakaran langsung bidang fikih, tafsir dan sekaligus falak.
Di organisasi NU, dia menempuh jalur dari yang paling bawah sebagai pengurus ranting (desa) Seblak dan akhirnya masuk ke jajaran PCNU (pengurus Cabang Nahdlatul Ulama). Ia pernah menjadi rais syuriah dua periode berturut-turut. Dari NU Cabang Jombang kemudian dipromosikan sebagai pengurus NU Wilayah Jawa Timur. Namun, karena kepakarannya yang sulit tertandingi pada ilmu falaq, maka dia diserahi tugas memegang posisi Ketua Lajnah Falakiyah PBNU sampai tahun 1993.

Sebagai Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, KH Mahfudz sering mendapat tantangan berat khususnya dari pihak pemerintah orde baru. Pernah hasil rukyah untuk menentukan hari raya berbeda dengan pemerintah selama tiga kali berturut-turut. Seluruh kyai dan warga NU berada penuh di belakang Kiai Mahfudz, benturan antara NU dan pemerintah tidak terelakkan.

Walaupun pikirannya tidak diterima pemerintah, sebaliknya masyarakat sangat menghormatinya. Terbukti setiap menjelang 1 Syawal mulai bada Maghrib sampai larut malam, halaman rumahnya penuh dengan masyarakat yang ingin mendapatkan kepastian tanggal jatuhnya bulan Syawal. Kehandalannya dalam ilmu fikih dan falak membuat pemerintah pada tahun 1951 mengangkatnya sebagai Hakim Agama Kabupaten Jombang. Jabatan itu diduduki selama 4 tahun. Melihat prestasi Kiai Mahfudz yang sangat baik di Pengadilan Agama Jombang, akhirnya tahun 1955, beliau dipromosikan menjadi Wakil Direktur Peradilan Agama Depag Jakarta.

Ia hanya kuat bertahan 3 bulan di Jakarta. Beruntung, permintaan kembali ke kampung halaman dikabulkan. Namun tidak di Jombang, tapi di Mojokerto. Di kota ini ia menjabat sebagai Ketua Pengadilan Agama. Setelah beberapa tahun di Mojokerto, pangkatnya naik menjadi Hakim Pengadilan Agama di Surabaya.
Dunia kampus pun ‘dicicipi’ KH Mahfudz. Ceritanya, pada saat menjabat sebagai hakim di PA Surabaya, ia diminta menjadi dosen fikih dan tafsir di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surabaya. Beberapa tahun kemudian, ia dipilih menjadi dekan pertama di Fakultas Ushuluddin IAIN Surabaya. Selain itu juga ngajar di Universitas NU Surabaya.

Seluruh waktunya untuk mengabdi di NU dan masyarakat terutama dalam pengembangan dan pengajaran lmu falak yang semakin tidak diminati. Sampai akhir hayatnya, ia masih berusaha melakukan hitungan falak sampai tahun 2003. Dalam sebuah pertemuan KH Mahfudz berkata, “Kita harus memperhatikan pengetahuan umum dan ketrampilan agar anak-anak kita siap pakai nantinya, seperti KH A Wahid Hasyim yang mampu menjadi menteri agama.”

Ketika usianya semakin senja, tokoh itu sangat prihatin, sebab semakin sedikit santri yang berminat dalam bidang falak. Di pesantren sendiri ilmu itu hanya diajarkan sambil lalu, sebagai pengenalan, tidak dikaji secara mendalam. Dia pun lantas mengambil langkah dengan membuka pengajian khusus ilmu falak di rumahnya. Pengajian khusus itu banyak diminati masyarakat, tidak hanya santri, tetapi banyak warga NU. Forum pengajian selalu ramai karena dihadiri oleh para ulama dari kabupaten Jombang, Kediri, dan sekitarnya. Kiai Mahfudz wafat pada malam Jumat, 20 Mei 1999.

Piawai Menulis

Walaupun sehari-hari disibukkan dengan kegiatan mengajar dan mengurus birokrasi dan juga di pengurusan NU, namun tidak menghalangi kiai ini untuk berkarya secara kualitatif. Di antara karya tulisnya yang bisa diidentifikasi adalah:

* Fadlail al-Syuhur, sebuah kitab yang tidak ada namanya, namun berisi keutamaan semua bulan, mulai Syawal sampai Ramadlan.
* Risalah Asyura min Ahlis Sunnah Wal Jamaah, menerangkan tentang keistimewaan bulan Asyura, Muharram. Kandungan buku ini beliau sebar ke masyarakat sekitar dan mengajak mereka bersama-sama mengamalkannya.
* Penulis pertama Nadhoman Tahsrif Lughowiyah dan Ishtilahiyah dalam kitab Amtsilah Al-Tashrifiyah. Kitab itu kemudian diserahkan di ke penerbit di Timur Tengah untuk dicetak. Para ulama Timur Tengah kagum pada kecerdasan dan kreatifitas ulama ini, sehingga kitab tersebut menjadi kurikulum wajib di sekolah-sekolah di Timur Tengah.

Lahu Al-Faatihah