Friday, April 24, 2015

KYAI IBNU TAIMIYYAH DAN CERITA KHARIQUL ‘ADAH (BAGIAN 5)

11083842_10204067989519705_7264978984280560982_n (2)Bermuamalah dan Meminta Tolong Kepada Jin Menurut Ibnu Taimiyyah (w. 728 H)


Maka, dalam hal hukum bermuamalah dengan Jin, Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) malah termasuk ulama yang tak langsung mengharamkannya secara mutlak.


Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) memberi batasan:



Pertama, memerintahkan Jin untuk taat dan beribadah kepada Allah. Maka yang demikian sama halnya dengan para wali yang menjadi penerus dakwah Rasulullah shallaallahu alaihi wasallam. Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) menuliskan:

أن الجن مع الإنس على أحوال: فمن كان من الإنس يأمر الجن بما أمر الله به ورسوله من عبادة الله وحده وطاعة نبيه ويأمر الإنس بذلك فهذا من أفضل أولياء الله تعالى وهو في ذلك من خلفاء الرسول ونوابه

Jin dengan manusia itu ada beberapa keadaan. Pertama, jika manusia itu memerintahkan jin untuk taat dan beribadah kepada Allah dan taat kepada Nabi-Nya, maka itu termasuk wali Allah dan penerus Rasulullah (Ibnu Taimiyah al-Hanbali w. 728 H, Majmu’ al-Fatawa, h. 11/ 307, al-Furqan Baina Auliya ar-Rahman wa Auliya as-Syaitan, h. 196)

Kedua, menggunakan jin dalam hal yang boleh. Maka hal itu sebagaimana menyuruh manusia dalam hal yang boleh.

ومن كان يستعمل الجن في أمور مباحة له فهو كمن استعمل الإنس في أمور مباحة

Jika ada seorang yang menyuruh jin dalam hal yang mubah, maka hal itu sebagaimana menyuruh manusia dalam hal yang mubah. (Ibnu Taimiyah al-Hanbali w. 728 H, Majmu’ al-Fatawa, h. 11/ 307, al-Furqan Baina Auliya ar-Rahman wa Auliya as-Syaitan, h. 196)

Dalam kesempatan lain Ibnu Taimiyah (w. 728 H) menuliskan:

ومنهم من يستخدمهم في أمور مباحة إما إحضار ماله أو دلالة على مكان فيه مال ليس له مالك معصوم أو دفع من يؤذيه ونحو ذلك فهذا كاستعانة الإنس بعضهم ببعض في ذلك

Diantara manusia ada yang memanfaatkan jin dalam perkara yang mubah, seperti menghadirkan harta seorang tersebut, atau menunjukkan dimana letak suatu harta yang tak bertuan, atau mencegah apa yang menyakitinya, dan lain sebagainya maka hal itu tak ubahnya seperti meminta tolong kepada sesama manusia. (Ibnu Taimiyah al-Hanbali w. 728 H, Majmu’ al-Fatawa, h. 13/ 87)

Ketiga, menggunakan jin dalam perkara yang dilarang syariat. Maka hal ini sebagaimana meminta tolong manusia dalam perkara kemaksiatan.

ومن كان يستعمل الجن فيما ينهى الله عنه ورسوله إما في الشرك وإما في قتل معصوم الدم أو في العدوان عليهم بغير القتل كتمريضه وإنسائه العلم وغير ذلك من الظلم وإما في فاحشة كجلب من يطلب منه الفاحشة فهذا قد استعان بهم على الإثم والعدوان ثم إن استعان بهم على الكفر فهو كافر وإن استعان بهم على المعاصي فهو عاص

Siapa yang memanfaatkan jin dalam perkara yang dicegah Allah dan Rasul-nya, maka adakalanya hal itu dalam hal kesyirikan, membunuh orang yang tak halal darahnya, menyakiti orang lain, membuat orang lain lupa akan suatu ilmu atau menarik orang lain untuk berbuat tidak senonoh, maka hal ini termasuk tolong menolong dalam perkara munkar. Jika tolong-menolong dalam perkara kafir maka jadi kafir, jika dalam kemaksiatan maka termasuk orang yang bermaksiat (Ibnu Taimiyah al-Hanbali w. 728 H, Majmu’ al-Fatawa, h. 11/ 308, al-Furqan Baina Auliya ar-Rahman wa Auliya as-Syaitan, h. 197).

Tentu hal ini adalah fatwa dari Ibnu Taimiyyah (w. 728 H). Boleh setuju, boleh mengkritisi. Jika mengkritisi Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) harus dengan cara yang santun, maka mengkritisi selain Ibnu Taimiyyah harusnya juga dengan cara yang santun juga.

Umar bin Khattab (w. 23 H) dan Jin

Cerita yang hampir mirip juga disampaikan oleh Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam kitabnya al-Majmu’. Suatu ketika Umar bin Khattab (w. 23 H) tak kelihatan, maka Abu Musa al-Asy’ari (w. 42 H) bertanya kepada seorang wanita yang memiliki jin tentang keberadaan Umar bin Khattab.

وقد روي عن أبي موسى الأشعري أنه أبطأ عليه خبر عمر وكان هناك امرأة لها قرين من الجن فسأله عنه فأخبره أنه ترك عمر يسم إبل الصدقة.

Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari bahwa beliau tak mendengar kabar Umar bin Khattab. Waktu itu ada wanita yang memiliki qarin dari jin. Lantas Abu Musa bertanya, dimakah Umar berada. Jin itu mengabarkan bahwa Umar sedang menandai Unta hasil shadaqah (Yahya bin Syaraf an-Nawawi w. 676 H, al-Majmu’, h. 1/ 99)

Cerita lain tentang Umar bin Khattab (w. 23 H) dan jin adalah:

وفي خبر آخر أن عمر أرسل جيشا فقدم شخص إلى المدينة فأخبر أنهم انتصروا على عدوهم وشاع الخبر فسأل عمر عن ذلك فذكر له فقال: هذا أبو الهيثم بريد المسلمين من الجن وسيأتي بريد الإنس بعد ذلك فجاء بعد ذلك بعدة أيام

Ketika itu, Amirul Mukminin Umar bin Khathab pernah mengutus sebuah pasukan untuk berperang. Tiba-tiba ada seorang yang datang menemuinya di Madinah. Dia berkata, "Musuh telah dikalahkan oleh kaum muslimin!" Dalam sekejap, berita kemenangan ini tersebar ke seluruh penjuru kota Madinah. Umar pun menanyakan kepadanya dari mana sumber berita ini. Ia berkata,

"Inilah Abul Haitsam, kurir kaum muslimin dari kalangan Jin dan (sebentar lagi) akan datang kurir manusia setelah ini (memberitahukan kemenangan ini). Dan sebentar lagi kurir dari manusia akan datang membawa kabar yang sama. Ternyata beberapa hari kemudian datanglah seseorang yang mengatakan bahwa kaum muslimin telah mendapatkan kemenangan. (Yahya bin Syaraf an-Nawawi w. 676 H, al-Majmu’, h. 1/ 99)

Terlapas dari pro-kotra masalah ini, point penting yang ingin disampaikan pada tulisan ini adalah jangan mudah menuduh orang atau kelompok lain dengan tuduhan yang bisa jadi tidak benar.

Ada satu buku yang cukup menarik mengupas tentang jin dan kehidupannya versi Ibnu Taimiyyah (w. 728 H). Buku itu judulnya: Fathu al-Mannan fi Jam’i Kalam Syaekhul Islam Ibnu Taimiyyah an al-Jann, dikumpulkan oleh Abu Udaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman.

Kitab bisa didownload di:

http://waqfeya.com/book.php?bid=5677  

atau klik:

http://ia802708.us.archive.org/1/items/waq39000/39000.pdf.

Memang berbicara tentang jin dan dunianya cukuplah seru, apalagi ini malam Jum’at. Bisa jadi saat anda membaca tulisan ini, ada jin di belakang anda yang ikut membaca dan cekikikan sambil berkata, “Hai, saya dibelakangmu nih, tengoklah ke belakang!"

"Waspadalah! Waspadalah!”

Tamat.

Sumber : Hanif Luthfi