Sunday, April 19, 2015

LAYLA-QAIS AL-MAJNUN (Layla Majnun) (kisah cinta abadi yang paling menakjubkan dan menguras air mata)

Layla. Boleh jadi nama yang paling banyak disebut orang. Ia dipakai sebagai lambang sosok perempuan cantik jelita, sebuah keelokan paripurna. Ia dikenal luas dalam kisah cinta abadi “Qais dan Layla”, atau “Layla-Majnun”. Nama lengkapnya Layla binti Mahdi binSa’d bin Ka’b bin Rabi’ah. Sementara nama lengkap kekasihnya adalah Qais bin Mulawwih (Mulawwah) bin Muzahim bin ‘Adas bin Rabi’’ah bin Ja’dah bin Ka’b bin Rabi’ah. Sebagian orang menyebut Qais bin Mu’adz dari Kabilah Amir.



Kisah cinta Layla-Qais, dipandang sebagai cinta abadi paling legendaries yang berakhir tragis. Ia telah menginspirasi banyak sastrawan besar dunia, untuk menulis kisah cinta abadi yang senafas, seperti Romeo and Juliet, karya William Shakespeare, “Romi dan Juli”, “Magdalena-Stevan”, karya Alphose Karr berjudul Sous les Tilleus (Dalam bahasa Prancis berarti, Di Bawah Pohon Tilia) yang kemudian diterjemahkan atau disadur dengan sangat apik oleh Musthafa al-Manfaluthi, menjadi “Majdulin”, dan ”Hayati dan Zainuddin dalam Tenggelamnya Kapal Vanderwijck, karya Buya Hamka yang menhebohkan itu dan lain-lain.

Kisah Cinta Layla-Qais, ditulis oleh para sastrawan dan sufi besar dari berbagai negara Arab, Persia, Turki, India dan lain-lain dengan versi yang berbeda-beda. Mereka antara lain : Al-Ashmu’I (w. 215 H), Arab, Nizami Ganjavi, Nizam al-Din, (w. 599 H), Persia, Sa’d al-Syirazi (w. 1291 M) Persia, Abd al-Rahman al-Jami (w. 1492 M), Persia , Amir Khasru al-Dihlawi (w. 1325 M), asal Turki kemudian pindah ke Delhi, Ahmad Syauqi (1932 M), Mesir, dan lain-lain.

Sebagaimana kisah Rabi’ah al-‘Adawiyah, Kisah Layla-Majnun juga kontroversial dari aspek apakah ia riil, sejarah, ada, atau hanya “legenda”, “dongeng” “symbol” dan karya khayali para sastrawan yang dituturkan dari mulut ke mulut, berdasarkan tradisi lisan. Para sastrawan yang menulis kisah ini juga berbeda-beda menuturkan jalan cerianya. Saya kira dalam hal ini tidaklah penting untuk diperdebatkan keras-keras, sebagaimana juga terhadap kisah Rabi’ah al-‘Adawiyah. Hal yang utama adalah kisah itu sendiri.Kita mengambil salah satunya saja.

Seperti film Gita Cinta di Sekolah, kisah cinta Layla dan Qais juga bermula di sekolah. Qais dan Layla adalah pelajar di sebuah sekolah dengan kelas yang berbeda. Qais kakak kelas. Qais pelajar cerdas dan tampan. Layla, pintar dan paling cantik. Mereka bertemu di sana secara kebetulan. Mata Qais bertemu mata Layla. Cahaya mata Qais menembus jantung jiwa Layla dan cahaya mata Layla menusuk relung jiwa Qais. Lalu mereka terpenjara oleh sebuah rasa yang asing tetapi indah yang tiba-tiba hadir. Layla dan Qais tak bisa makan, minum dan tak bisa tidur. Mereka disergap oleh rasa selalu ingin bertemu dan bicara manis. Keduanya tiba-tiba menjadi penyair. Mereka mendadak pandai menggubah puisi :

نهارى نهار الناس حتى إذا بدا لى الليل هزتنى اليك المضاجع
ااقضى نهارى بالحديث وبالمنى ويجمعنى والهم بالليل جامع
لقد أثبتت فى القلب منك محبة كما تثبت فى الراحتين الاصابع
Siangku adalah siang manusia yang lain
Bila malam tiba, tidurku sering terganggu oleh wajahmu
Sepanjang siang aku habiskan dengan perbincangan manis dan harapan-harapan
Dan sepanjang malam-malamku, aku dicekam murung dan rindu
Cintaku padamu telah tertanam di relung kalbuku
Jari-jari dua tangan kami merekat

Cinta mereka menyebar, dan ayah Layla berang. Qais tak pantas untuk Layla. Tetapi tidak dengan ibu Layla. Ia mengerti perasaan anak putrinya yang terus gelisah, acap mengigau dan tubuhnya berambah kurus. Tanpa diketahui suaminya, Layla dibiarkan saja mengunjungi rumah Qais, malam-malam. Dan mereka berdua kemudian saling menumpahkan rindu, dan menangis sampai fajar merekah cerah. Sebelum perpisahan yang menitipkan duka, mereka berjanji saling berkirim surat dan bertemu jika memungkinkan di suatu tempat. Tetapi ayah Layla mendengar kabar pertemuan itu, dan marah bukan kepalang. Layla dilarang keluar rumah sejak saat itu dan untuk selamanya. Dan Layla luka dan bingung :

“Duhai cintaku! Betapa aku merindukan kebersamaan denganmu. Tetapi, O. Aku tak punya daya. Takdir telah memutuskan kita harus terpisah. Kasihku, akankah kita akan terpisah selamanya. O, kekasih jiwaku. Salahkah aku?. Hatiku menangis sepanjang hari sepanjang malam manakala aku memikirkannya”.

Qais tak bisa bertemu Layla. Pikirannya menjadi kacau. Bibirnya selalu menyebut nama Layla. Ia acap melamun sendiri di taman di belakang rumahnya. Ayah Qais mengerti keadaan anaknya. Ia kemudian mengajak Qais pergi ke Makkah untuk mengobati hatinya. Ia bilang akan mengunjungi kakek moyangnya. Tetapi Qais dibawa ke Masjid al-Haram. Tiba di latarnya sambil menunjuk ke Ka’bah, “Bait Allah” (Rumah Tuhan) ia berpesan kepada anaknya :

انظر علك تجد دواء لما بك. فتعلق باستار الكعبة واطلب لنفسك الخلاص. فبكى المجنون ثو ضحك. ثم تعلق بحلقة الكعبة وقال : بعت روحى فى حلقة العشق. والعشق قُوتى وبدون هذا القوت فواتى . فلا جرى القدر لى بغير العشق. فيا رب رونى بمائه , وأدم لعينى حلية الاكتحال به. ويا رب زدنى من عشقها وإن قصرت عمرى بالعشق فزده فى عمرها. اللهم زدنى لليلى حبا. ولا تنسنى ذكرها أبدا.
“Lihatlah, semoga engkau menemukan obat bagi sakitmu. Peganglah kiswah (kain penutup) Ka’bah dan berdoalah agar Allah menghilangkan rasa cintamu itu”.

Mendengar nasehat ayahnya itu, Qais menangis dan tertawa sendiri. Sambil tangannya memegang kelambu Ka’bah itu ia berdoa : “Aku telah menjual ruhku dalam ruang sirkuit rindu-dendam. “Isyq” (rindu dendam) adalah makananku, tanpa itu aku akan mati. Jangan takdirkan aku tanpa rindu-dendam. Duhai Tuhan, tuangkan air bening rindu. Cemerlangkan mataku dengan celak hitam selamanya. Duhai Tuhan, tambahkan aku rindu kepadanya. Bila umurku pendek, tambahkan rindu itu kepadanya”. “Duhai Tuhan, tambahkan rinduku kepada Layla, dan jangan biarkan aku melupakan dia selama-lamanya”.

Singkat cerita. Layla akhirnya dinikahkan ayahnya tanpa dia sendiri menyukai apalagi mencintai suaminya. Ia menerimanya tanpa bisa menolaknya, karena tradisi yang mengakar akan menghukumnya. Tradisi di banyak tempat di dunia sejak zaman klasik, dan selama berabad-abad, tak membenarkan perempuan menolak kepentingan ayah. Pandangan keagamaan juga menegaskan “hak Ijbar” (hak memaksa) ayah atas anak perempuannya. Perempuan seperti tak punya hak tubuhnya sendiri. Tubuh dan kehendak perempuan diatur dan didefinisikan oleh kehendak laki-laki, meski ia (perempuan), seperti juga siapapun, kelak akan bertanggungjawab atas dirinya sendiri.

Qais mendengar hari perkawinan itu, dan ia langsung jatuh pingsan, hatinya terbakar. Ia menangis menderu-deru, meraung-raung, sepanjang hari sepanjang malam. Ia menyesali diri telah mencintai Layla. Ia sempat mengatakan bahwa Layla tidak setia, dan ia akan menyingkir dari kehidupannya. Katanya :

ايها القلب عش خاليا ودع عنك محبة كل من لا وفآء له
“Duhai hatiku, hiduplah menyepi, tinggalkan mencintai orang yang tak setia”.

Qais mengekspresikan kekecewaannya itu dalam puisinya :
ندمت على ما كان منى ندامة كما يندم المغبون حين يبيع
“Aku menyesali apa yang telah terjadi, bagai penyesalan orang yang tertipu saat menjual”.

Tetapi ia tak bisa menolak kehadiran cinta itu yang merasuk dan menyatu ke dalam jantung jiwanya. Ia menjadi “gila” (majnun). Qais kemudian mengembara tanpa arah dan membiarkan tubuhnya tak terurus. Ia mengarungi padang pasir yang luas dalam terik matahari yang membakar tubuhnya, seperti panas hatinya yang terbakar oleh cinta kepada Layla. Ia mendaki gunung-gemunung dan memasuki hutan-hutan belukar, tanpa manusia. Ia menyendiri, merindu dan menangis. Ia kemudian bersahabat dengan para binatang. Mereka menyayangi Qais,yang manusia itu, dan ia juga menyayangi mereka. Mereka saling menyayangi.

Layla Menikah tapi Tidak Kawin.

Layla mendengar kabar kekasihnya di tempat itu. Ia kemudian menulis surat untuknya:

هذه الرسالة منى انا رهينة الدار وقعيدة البيت ... اليك يامن حطم القيد وصار حرا فى السهول والجبال . انت شبيه عين ماء الخضر تألقا. ولا زلت مثل الفراشة تهيم شمع الوصال . انى بدونك على الوفاء مقيمة . وهذا زوجى . بيننا لا يجمع رأسى ورأسه فراش . وانى لجوهرة لم تقربها ماسة وكنز مختوم لم يفض. و برعمة بستان لم تتفتح. يا من أذياله فى الطهر شبيهة الخضر. تعال فاسقنى ماء الخلود كالخضر. وعلى النأي منك لن يبقى طويلا هذا الجسم.

‘Surat ini dari aku, seorang perempuan yang terpenjara di rumahnya, seorang perempuan yang sepanjang hari hanya duduk di rumah... untukmu duhai kekasihku. Apa kabarmu? Bagaimana hari-harimu, dengan siapakah engkau menjalani hari-harimu di lembah-lembah dan di gunung-gunung itu. Aku kira engkau lebih bahagia daripada aku. Engkau bisa bebas pergi ke mana saja, dengan siapa saja dan bisa makan apa saja, sedangkan aku?. Ketahuilah kekasihku, aku tak bisa apa-apa, hanya menunggu hari demi hari tanpa jiwa, sambil terus mengingatmu dan merindukanmu. Duhai kekasih jiwaku, yang hatimu bagai mata air Hidhir, mataair keabadian. Aku masih seperti dulu. Meski aku telah menikah, namun aku bersumpah hatimu selalu ada di hatiku, Meski aku tidur satu rumah dengan suamiku, tetapi kepalaku tak pernah menyentuh kepalanya di atas ranjang (La Yajma’u Ra’si wa Ra’sahu firasy). Permataku masih tersimpan utuh dan tak pernah disentuh siapapun. Hartaku yang paling berharga masih terkunci dan tak pernah dibuka oleh siapapun. Bungaku di taman masih kuncup dan belum merekah. Duhai dikau yang jernihnya bagai air mata air Khidhir. Kemarilah, tuangkan air keabadian Khidhir. Jauhku darimu tak akan lama lagi”.

Penulis lain menyampaikan kata-kata Layla dalam sumpahnya : “Aku bersumpah kepadamu, kekasih hatiku, “Aku mengikat kuat hatiku untuk menyintai Qais sepeerti cintaku kepada diriku sendiri. Aku kerahkan menjaga seluruh ruhku dari sentuhan orang lain”. Dan akhirnya ia mengatakan “Wa bi Hadza al-‘Ahd alladzi Artabithu bika qad Qatha’at ‘ahdi ma’a man ‘Adaka. Wa Kafani Ma Fihi Dzakhirah Li Qiyamati (Dengan sumpah/janji yang aku ucapkan, maka telah putuslah janjiku dengan orang selainmu. Sumpaj-Janjiku menjadi simpanan sampai hari kematianku ”.

Qais membaca surat itu berkali-kali. Kadang ia tak percaya surat itu dari kekasihnya; Layla, tetapi kata-katanya dan bahasanya sangat ia kenal. Surat itu benar dari Layla. Hatinya terus berdebar dan berdegup-degup. Dan ia bingung bagaimana akan membalasnya, bagaimana kata-kata yang akan ditulisnya. Dan kemudian ia mulai menulisnya satu baris demi satu baris dan mengulang membacanya, agar tidak salah.

هذه الرسالة منى انا المضطرب الولهان . اليك يا من انت قرار نفسى انت تاج على رأس سواي . وكنز فى يد الغير . وانا تراب فى واديك. فإن سقيتنى بماء الوصال اتيت الورد وأطلعت الربيع. وان لم ينلنى منك غير وقع اقدام الفراق لم يَثُر من ارضى سوى الغبار. وهأانذا أسير قيدى.

Ini surat dariku, aku yang gelisah dan gila, untukmu, duhai engkau yang ada di lubuk jiwaku. Engkau adalah mahkota di kepada selain aku dan kekayaan di tangan orang lain. Aku hanyalah debu di lembahmu. Bila engkau menuangkan untuk air peremuan, engkau membawakan kembang dan menerbitkan musim semi. Bila aku memerolehmu selain berpisah jauh darimu, bumi ini tak akan menumbuhkan apapun selain debu. Lihatlah, aku adalah tawanan yang terbelenggu”.

Itu adalah bunyi surat yang ditulis sebagian penulis. Nizami menulis isi surat Layla dan Majnun lebih panjang dari ini. Seluruhnya mengungkapkan dua jiwa yang terjerat oleh rasa rindu, cinta dengan segenap duka lara dan keriangan-keriangannya .

Tampak jelas bahwa Layla adalah perempuan tokoh yang meskipun secara legal-formal menikah dengan seorang laki-laki, tetapi ia masih tetap perawan, tetap perempuan gadis. Nizami mengatakan : “Lakinnaha Tazhillu ‘Adzra” (tetapi Layla tetap perawan). Demikian juga Qais, si Majnun itu. Ia tokoh yang tidak menikah sampai kematiannya.

Kematian

Ada kontroversi para penulis Kisah Cinta Abadi Layla-Qais ini. Siapakah yang lebih dulu mati? Layla atau Qais. Tetapi cerita yang populer menyatakan bahwa Layla lebih dulu meninggal dunia sebelum kemudian dalam bilangan hari Qais menyusulnya.

Dikisahkan : “musim panas kembali tiba, ranting-ranting pepohonan meneteskan merah darah. Daun-daun berguguran diterjang angin kencang yang membawa panas. Taman-taman bunga tak lagi menebarkan aroma wangi bunga melati, tak lagi merekahkan senyum kegembiraan dari bibir-bibir merahnya. Taman itu telah sepi. Rembulan di langit biru beringsut kembali ke titik bulan hilal. Layla diserang demam. Ia hanya bisa istirahat di tempat tidurnya tanpa bisa ke mana-mana. Ia seperti merasa malaikat Izrail akan segera datang menjemput dirinya. Ia ingin hanya bersama ibunya dan meminta tak ada orang lain masuk kekamarnya. Ia ingin mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada ibu yang mencintai dan yang dicintainya itu.

Katanya : “Ibuku, lihatlah, cahaya wajahku telah memudar, dan menjadi pucat-pasi. Lilin-lilin di mataku tampak muram dan akan segera padam. Duhai Ibuku, aku mohon engkau mendengarkan wasiatku, sebelum aku pulang esok atau lusa; “Bila mana aku mati, kenakan aku baju pengantin yang paling bagus. Jangan bungkus aku dengan kain kafan. Carilah kain berwarna merah muda, bagai darah segar seorang syahid (martir). Lalu riaslah aku sebaik-baiknya, bagaikan pengantin yang paling cantik. Alis dan bulu mataku ambillah dari debu yang melekat di kaki kekasihku, Qais. Dan jangan usapkan ke tubuhku minyak wangi kesturi atau minyak wangi apapun. Usapkanlah dengan air mata Qais, kekasihku”.

Sang ibu mendengarkannya dengan sepenuh jiwa, sambil matanya basah dan menetes deras. Layla masih meneruskan pesannya : “Sesudah aku mengenakan baju pengantin itu dan menjadi sangat cantik, aku akan menunggu Qais, sang pengembara yang luka itu datang”.

Dan akhirnya Layla wafat dengan wajah berbinar-binar, memancarkan cahaya. Ia sangat yakin drinya akan bertemu Qais dan menjadi pengantin di sampingnya, lalu menyatu dalam cinta tak terbatas.

Manakala Qais mendengar berita kematian kekasihnya itu, ia menjerit keras sekali, suaranya terdengar malaikat di langit. Kawan-kawan setianya, para binatang, ikut menangis. Qais pingsan, tak sadarkan diri. Tidak lama kemudian siuman dan bergegas menuju ke pemakaman Layla diiringi kawan-kawan setianya; para binatang itu. Di atas pusara Layla, ia merebahkan tubuhnya, mendekat tanah yang menggunduk itu, sambil menangis tak henti-hentinya. Manakala sadar, ia mengatakan dan berbicara kepada Layla ;

كيف أنت تحت اطباق الثرى ؟ وكيف أنت فى ظلمات القبر ؟ إذا غبت عنى فشمائلك ملآ روحى . وإذا نأيت عن بصرى فأنت أمام عين بصيرتى. ولئن رحلت فألمك فى النفس مقيم "

“Duhai belahan jiwaku, duhai jiwaku, bagaimana engkau di bawah tumpukan debu ini. Bagaimana engkau di dalam kegelapan kubur ini. Meski aku tak lagi bisa memandang wajahmu, tetapi seluruh jiwamu memenuhi ruhku. Meski engkau jauh dari pandangan mataku, namun aku melihatmu dengan mata jiwaku. Dan meski engkau telah pergi, namun lukamu ada dalam jiwaku”.

Sesudah mengatakan itu, Qais diam untuk selama-lamanya. Ia pulang menyusul Layla, belahan jiwanya dengan membawa cintanya yang abadi. Ia dikuburkan di samping Layla. Beberapa waktu kemudian, di atas kuburan itu tumbuh dua pohon yang pada akirnya menyatu. Di atas nisan kuburan itu tertulis : “Di sinilah berbaring dua jiwa yang sunyi, yang saling menyinta dalam kesetiaan dan dalam penantian. Dua jiwa menyatu dalam cinta abadi. Mereka bertemu di surga keabadian”.

Cinta Platonis

Kisah cinta romantis (al-Hubb al-Udzry): Qais dan Layla, di atas kemudian menginspirasi para sufi falsafi. Layla dijadikan simbol Sang Kekasih, dan Majnun simbol para pencari (al-Salik), para pencinta (al-Muhibb). Perjalanan menuju penyatuan antara Salik dan Kekasih, simbol Keindahan Tuhan, dilalui seperti perjalanan cinta Qais dan Layla. Inilah yang kemudian disebut sebagai “Cinta Platonis”. Para sufi besar, seperti Abu Yazid al-Bisthami, al-Hallaj, Ibn Arabi, Jalal al-Din Rumi, Samnun al-Muhibb, Zhunnun al-Mashri, Al-Siir al-Saqathi dan lain-lain menempuh dan mengaruhi jalan itu. Wallahu A’lam.

Sumber : KH. Husein Muhammad