Acara arisan "mamaca" di desa Gedang-gedang, Kecamatan Batuputih tahun 1986.[/caption]Istilah "mamaca" dalam bahasa Madura dapat dipadankan dengan istilah "macapat". Mamaca adalah acara melantunkan sebuah tembang kehidupan yang kebanyakan ditulis pada awal abad ke-20. Umumnya teks mamaca ditulis dalam bahasa Jawa Kawi dan beraksara Arab.
Pembacaan tembang semuanya di lakukan oleh laki-laki. Proses pelantunan tembangnya cukup unik, laki-laki pertama atau yang biasa disebut "tokang maca / pamaos" akan menembangkan satu bait dari teks dalam bahasa Jawa, yang kemudian dengan segera akan diterjemahkan oleh laki-laki ke dua menggunakan bahasa Madura dengan cara berdeklamasi. Laki-laki yang bertugas sebagai penerjemah / penjelas dari tembang lazim disebut sebagai "tokang tegghes".
Acara mamaca sering kali dibawakan pada acara arisan mingguan, rokat, upacara khitan, upacara pernikahan, acara panggur (mamapar gigi), nadzar, ataupun pada acara-acara islam.
Foto koleksi : Buku " lebur : seni musik dan pertunjukan dalam masyarakat Madura"
Sumber : Songgenep Tempo Doeloe