Saturday, April 18, 2015

Rahasia Gus Dur Dan KH Maimoen Zubaer

10983825_940804179265702_6263426521919490305_nIni Transkip ceramah KH. Marzuqi Mustamar di PP Darul Muttaqien-Bolong Ngaditirto Selopampang Temanggung 09 Februari 2013 yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.



"Saya akan bercerita sedikit, saya sebut saja namanya, “Gus Dur”. Terserah Anda mau percaya atau tidak, ini ceramahnya Mbah KH. Maimoen Zubair saat acara 1.000 hari Gus Dur di Tebuireng. Saat Gus Dur masih hidup terlihat beliau tak pernah cocok dengan KH. Maimoen Zubair. Ternyata ini rahasia! Kesepakatan mereka berdua.

Yang cerita Mbah KH. Maimoen Zubair sendiri saat ceramah di Tebuireng: “Saya menikahkan anak habis jutaan rupiah. Saya tak pernah mengeluarkan uang sepeser pun, semua uang itu dari Gus Dur. Tapi dirahasiakan agar orang-orang tidak tahu bahwa yang membantunya adalah Gus Dur.”

Sudah, Anda tetap terlihat bermusuhahan saja dengan saya, yakni “Supaya orang-orang tidak tahu amalku.” Apa Anda kuat seperti itu? Demi menyembunyikan amalnya agar tidak diketahui manusia. Kata mbah kyai Maemoen.

Di Malang, sebelah barat Panjen ada daerah namanya Jatikerto. Di Jatikerto ada orang biasa, bukan ulama besar, sekitar berusia 30 tahun. Namanya Agus. Gus Dur pernah mendatangi rumahnya dan titip 3 koper. Koper itu tidak boleh dibuka sebelum Gus Dur wafat.

Ketika Gus Dur sudah wafat, koper itu pun dibuka. Ternyata isinya uang sebanyak Rp. 3 Milyar. Dia disuruh membagikannya kepada anak-anak yatim dan janda-janda miskin.

Sungguh, demi menyembunyikan amal sampai sebegitunya. Terkadang penampilannya jelek, kontroversi, agar orang-orang mencemoohnya, tidak menganggapnya kyai dan tidak menganggapnya wali. “Tidak dianggap wali biarin, tidak dianggap kyai ya biarin.”

Setiap menyembunyikan amal seperti itu. Apa Anda kuat? Apa mampu? Di zaman modern ini lhoh masih ada orang yang seperti itu. Dan karena orang tidak tahu sejatinya apa yang dilakukan, akhirnya banyak yang mencemooh Gus Dur. Gus Dur pun siap-siap saja. Dan itu resiko. Resiko bagi orang yang menyembunyikan amalnya.

Anda semisal jadi pengurus pesantren, pengurus takmir masjid, menyumbangnya paling banyak dan tidak pernah dilaporkannya kepada panitia, tapi langsung ke toko bangunan. Tak ada seorang pun yang mengetahuinya. Akhirnya Anda dicemooh: “Anda ini ketua takmir, tapi sama sekali tidak pernah menyumbang!”

Anda hanya diam saja, dan dengan rendah hati berkata: “Mohon dimaafkan, mohon maafkan saya. Doakan supaya saya tidak menjadi orang yang bakhil.”

Tidak ada seorang pun yang tahu, apa Anda kuat? Bisa ikhlas seperti itu? Di zaman modern seperti ini lhoh masih ada orang seperti itu."

Lahu Al-Faatihah