Ini cerita tentang Mbah Timbang, seorang waliyullah di kampung teman saya. Mbah Timbang ini guru ngaji yang mengajar di surau kecil di sebuah desa di Pasuruan (teman saya berwasiat tak mau disebutkan nama desanya). Walaupun waliyullah tingkat kampung, tapi karomahnya luar biasa. Kalau ditanya tirakatnya apa, Mbah Timbang menjawab cuma dzikir "Allah..Allah" setiap waktu, dimanapun saja. Konon penjajah Jepang pun takut dengan beliau, saking luar biasanya karomah beliau. Sehingga kampung beliau pun selamat dari keberingasan penjajah Jepang.
Teman saya pernah suatu ketika menawarkan Mbah Timbang boncengan sepedanya menuju rumah seseorang kerabatnya yang sedang hajatan, karena Mbah Timbang ini juga berencana menuju ke tempat yang sama. Tapi Mbah Timbang malah masih rokokan di teras rumahnya dan menolak dengan halus ajakan teman saya itu.
"Sudah, ke sana duluan saja kamu," ujar Mbah Timbang.
Teman saya pun melanjutkan perjalanannya, dikayuh sepedanya menuju tempat hajatan. Dan ketika sampai ditempat hajatan, betapa kagetnya teman saya yang melihat Mbah Timbang sudah berada di rumah shohibul hajat, padahal jelas-jelas jalan menuju ke sana hanya satu dan tidak ada orang lain yang bersamanya.
Ada cerita menarik lagi tentang Mbah Timbang, ketika itu usia Mbah Timbang 70-an tahun. Tiba-tiba ketika mengajar, beliau meninggal. Sontak semua masyarakat terkejut dengan meninggalnya Mbah Timbang yang mendadak. Segera jenazah Mbah Timbang dirawat oleh keluarga dan masyarakat kampung. Setelah dimandikan, lalu dibawa ke masjid untuk disholati.
Ketika takbir pertama, keadaan biasa. Tapi ketika takbir kedua, Mbah Timbang yang sudah dikafani itu bangkit. Kontan saja seluruh jamaah masjid kaget. Imam masjid pun sampai jatuh kebelakang saking kagetnya.
Mbah Timbang yang baru bangkit dari kematiannya itu langsung melepaskan ikatan kafannya seorang diri. Lalu beliau marah-marah dan menunjuk-nunjuk ke arah langit-langit, entah siapa yang dimarahinya. Mulanya jamaah satu masjid itu bingung melihat tingkah laku Mbah Timbang itu.
Usut punya usut, ternyata Mbah Timbang waktu itu sedang memarahi Malaikat Izroil yang salah alamat waktu mencabut nyawanya. Karena nama Mbah Timbang itu ternyata ada dua, pemilik nama Mbah Timbang satunya berada di desa sebelah. Benar, tak lama kemudian Mbah Timbang dari desa sebelah meninggal. Sedang Mbah Timbang guru ngaji ini baru meninggal 20 tahun kemudian.
Sayang, Mbah Timbang pernah berwasiat agar makamnya ini tidak boleh diziarahi kecuali oleh keluarganya, karena takut jadi makam keramat. Tapi warga kampung sangat hormat dan ta'dzim pada beliau. Walaupun hanya guru ngaji di surau kecil dan umumnya santrinya anak-anak, tapi karomahnya sangat masyhur di kampung tersebut.
Lahu Al-Faatihah.