Wednesday, May 20, 2015

Ihya’ Ulumuddin, Anekdot Orang Kikir

Diceritakan oleh seseorang, di Bashrah ada seorang lelaki kaya yang kikir. Pada suatu hari dia diundang oleh sebagian tetangganya dan dihidangkan kepada daging goreng dan telur. Maka dimakannya dengan lahab dan ditabah dengan minum yang banyak. Segera saja perutnya penuh dan kelihatan buncit. Perutnya terasa sesak dan seakan dia diajang kematian karena kekenyangan. Karena merasa susah, dia memerisakan kepada tabib.


Dokter menasehati, “O tidak apa-apa, muntahkan saja apa yang telah kamu makan.”
Lelaki itu berkata, “Hah! Saya muntahkan lagi daging goereng dan telur? Mati aku. Apa tidak ada cara lain?”


***


Diceritakan oleh seseorang, seorang badui Arab datang mencari seorang laki-laki. Maka ada di hadapannya buah tiin. Lalu buah tiin tiu disembunyikan pada pakaiannya. Orang badui itu lalu duduk.


Laki-laki yang dicari bertanya kepada orang badui itu, “Apakah kamu pandai membaca Al-Quran?”


Badui itu menjawab, “Ya, pandai.” Lalu dibacanya ayat Al-Quran: “.....wa Zaituun. Wathurisinin. (..... dan buah zaitun dan demi Bukit Sinai.” – QS At-Tiin (95): 1-2.


Laki-laki itu berkata, “Mana At-Tiin-nya?”


Orang badui itu menjawab, “Di bawah pakaianku.”


***


Sebagian orang kikir mengundang temannya, tetapi teman itu tidak dihidangkan makanan apapun, sehingga sampai waktu sore. Tentu saja perut teman itu menjadi lapar sampai seperti orang yang kurang akal.


Kemudian yang punya rumah mengambil gitar, seraya bertanya kepada temannya, “Demi hidupku, kiranya bunyi apakah yang kamu rindukan untuk aku perdengarkan kepadamu?”


Temannya itu mengatakan, “Bunyi daging goreng.”


***


Diceritakan, Marwan bin Abu Hafshah tidak makan daging karena kikirnya, sampai jika dia ingin makan daging, maka disuruhnya pembantunya membelikan kepala kambing bakar, baru dimakkannya.
Seseorang bertanya kepadanya, “Kami melaihatmu tidak makan daging, kecuali kamu hanya makan kepala kambing pada waktu musim panas, maupun pada waktu musim dingin. Mengapa kamu memilih yang demikian?”


Marwan bin Abu Hafshah menjawab, “Ya, karena kepala itu, saya tahu harganya (murah). Saya merasa aman dari pengkhianatan pembantuku. Ia tidak akan mampu untuk menipuku tentang kepala kambing itu. Dan pembantu yang memesak kepala itu, tidaklah ia khianat dengan mencuri makan sebagian dagingku. Sebab apabila mata atau telingannya hilang satu, maka akan ketahuan. Saya akan memakan kepala kambing dari berbagai bagian, ada mata, telinga, lidah, urat leher, dan otak. Maka saya cukupkan biaya untuk memasaknya. Sesungguhnya telah terkumpul pada kepala kambing itu banyaknya manfaat untukku.”


***


Membicarakan tentang orang kikir memang asyik. Hal itu juga ditulis Imam Al-Ghazali pengarang kitab Ihya’ Ulumuddin dengan mengutip perkataan Al-Jahizh, “Tidak akan tersisa dari kelezatan, kecuali tiga perkara: Mencela orang-orang kikir, memakan dendeng goreng, dan menggaruk-garuk kulit yang gatal.”


Penulis : Saiful Bahri via muhibbin.com