Monday, May 18, 2015

Mbah Sathem

Jaman dulu ada seorang jamaah haji dari Surabaya, waktu di Mekah ditemui seorang Syeh dari Arab. Dia diberi pesan kalau dirinya pulang ke Indonesia, titip salam buat mbah Sathem di Wonosobo.

Setelah pulang haji, dia pun ingat akan amanah dari Syekh yang ada di Arab itu. Dia pun berangkat ke Wonosobo mencari Mbah Sathem. Dia bingung Mbah Sathem alamat rumahnya dimana, dia hanya tahu di Wonosobo.

Setelah dicari kesana kemari, tanya sana tanya sini, akhirnya ketemu, tapi dia kecewa setelah melihat Mbah Sathem yang miskin, rumahnya reot, di depan rumahnya ada anjing, ditambah lagi ketika bertemu Mbah Sathem, Mbah Sathem lagi ngibingi lengger ( joget ).

Akhrirnya salam Syekh dari Arab itu pun tidak disampaikan dan dia pun pulang dengan kecewa. Dia tidak percaya dengan Mbah Sathem yang dititipi salam seorang Syeh dalam pandanganya tukang masiat dan miskin, mana mungkin kenal sama Syeh yang di Arab.

Dan di lain waktu, dia berangkat haji lagi, di Mekah ketemu lagi sama Syeh yang menitip salam dulu, ditanyakan padanya, apakah salamya sudah disampaikan atau belum. Diapun hanya menunduk tidak berani jawab dan merasa bersalah. Setelah pulang haji, diapun pergi ke Wonosobo ke tempat Mbah Sathem untuk menyampaikan salam dan minta maaf, tetapi setelah sampai ditempat Mbah Sathem, Mbah Sathem sudah meninggal dunia. Dia putuskan untuk ziarah quburnya mbah Sathem, diwaktu ziarah dia ketiduran dan ketika bangun, dia pun terkejut karena sudah ada di rumahnya sendiri di Surabaya.


Alkisah Dulu di Wonosobo, banyak sekali kesenian lengger dan biasanya kalau ada acara lenggeran, Mbah Sathem ikut ngibing. Selesai lenggeran, orang-orang biasanya banyak yang tobat. Itulah cara Mbah Sathem mengislamkan orang diluar nalar manusia umum. Keunikan Mbah Sathem, jika repek/cari kayu bakar dan dikayunya ada semutnya, walau sudah sampai rumah, semutnya dikumpulkan dan dikembalikan lagi ke hutan. Itulah welas asihnya, walaupun dengan semut dia tidak tega menyakiti atau membunuhnya.

Jangan pernah meremehkan orang atau menilai orang cuma dari tata lahiriahnya, belum tentu orang yang kelihatanya miskin, kelihatanya ahli maksiat justru orang yang sangat dekat dengan Tuhan.

Sumber : Zainal Arifin