Diambil dari kitab Ahlissunnah wal jamaah, penyusun syiir KH. Mudhoffar Fathurrahman. Syiir bahar Rojaz[/caption]Dalam dunia Pesantren, sudah tidak asing lagi dengan istilah Kitab gundul atau kitab kuning, bisa jadi sebutan ini karena melihat kertas dari kitab itu berwarna kuning dan tidak memiliki harakat sama sekali.
Oleh Para kiai, usaatidz dan kang-kang di pondok, selalu mengajarkannya kepada santri sehingga para santri dapat membaca kitabnya dan memahami isinya. Dan mereka tulus ikhlas mengajarkan berbagai ilmu agama yang ada dalam kitab kuning mulai dari nahwu, sharaf, ushul fiqh dan lain sebagainya.
Biasa di banyak pondok, banyak para ustadz yang memiliki waktu lengang yg bersedia mengajari fan ilmu, diantara adalah mengaji kitab Ibnu Aqil, Al Muhazzab, Jamius Shoghir dan lain-lain. Walaupun kitab-kitab tersebut sudah diajarkan ketika mengaji pada Mbah Yai, akan tetapi terasa kurang rasanya.
Dari beberapa ustazd yg mengajari, sistemnya pun berbeda. Ada yang namanya sistem ngaji sorogan, yakni seorang santri membaca kitabnya kemudian oleh ustadzdnya di jelaskan. Dan ada juga yg disebut dengan sistem ngaji bandongan yakni santri memaknai apa yg dimaknai oleh ustazd atau kiai. Kedua cara ini sama-sama memiliki keuntungan sendiri-sendiri. Walaupun ada yg beranggapan cara bandongan terkesan manja, sehingga membuat santri tidak giat dalam membaca kitab, namun dengan cara ini akan memberikan pengayaan kosakata dan makna, sehingga santri atau thaalibul ilmi tidak akan lupa apa yg telah dimaknai dalam kitabnya.
Ada pepatah Jawa yg dinukil dari seorang guru, beliau mengatakan : "Padange kitab petenge Ati , Petenge kitab padange Ati" artinya terangnya kitab sepi dari makna akan menyebabkan gelapnya hati, Gelapnya kitab karena penuh dengan makna-makna dan penjelasan yang ditulis, akan dapat menyebabkan terangnya hati. Begitulah lebih kurang nasihat dari pepatah itu, maka tidak heran diantara teman-teman santri ada yang kitabnya penuh dengan makna dan catatan-catatan, hingga seperti membuat karangan catatan kaki.
Selain itu dengan memaknai kitab akan memperkuat ingatan kita sehingga apa yg telah kita pelajari akan hafal diluar kepala. Kemudian melatih kemahiran kita dalam menulis arab pegon , dan yg lebih penting lagi akan sangat membantu dalam mengetahui tarkib dan posisi tiap kalimat dalam segi nahwu dan sharaf. Para Ulama-ulama kita dahulu juga sudah susah payah berijtihad membuatkan rumus memaknai kitab gandul. Diantaranya adalah Mbah Kiai Kholil Bangkalan dalam baitnya :
فاء أتوي لمبتدأ ايكو خبر # أفا لفاعل ونائبه ظهر
ومطلق المفعول فيه كلوان # كذاك باء الجر فاطلب البيان
أفاني لتمييز حالي حال # فاجتهدوا بالحفظ يا رجال
Sumber : Muhammad Iqbal Fanshuri
Tambahan dari Cah Angon Sak Paran-Paran
Foto-foto kitab Ahlu SUnnah Wal Jama'ah karya Simbah KH. Mudhoffar Fathurrohman ( Almarhum ), pengasuh PP. Ammar Nailun Najah Kriyan Kalinyamatan Jepara. Lahu Al-Faatihah.
