Wednesday, May 20, 2015

Nganggung

Tradisi adalah ritual yang yang dilakukan dalam masyarakat. Ritual ini diturunkan dari generasi ke generasi. Setiap daerah di Indonesia mempunyai tradisi unik khas daerah tersebut. Beberapa tradisi ini melibatkan sebagian besar anggota masyarakat di suatu daerah sehingga bisa menarik perhatian para wisatawan. Seperti daerah lain di Indonesia, Bangka Belitung juga mempunyai tradisi unik yang dilakukan bersama-sama masyarakat sekitar. Tradisi ini disebut dengan Nganggung.


Nganggung adalah tradisi yang sudah dipraktekkan turun-terumurun oleh masyarakat Bangka Belitung untuk merayakan hari-hari besar Islam. Uniknya tradisi ini juga tetap berhahan meskipun di daerah perkotaan. Sebenarnya dimasa lalu nganggung ini bukan hanya untuk perayaan hari besar Islam saja. Namun juga diadakan pada acara pernikahan, do’a selamatan untuk arwah yang sudah meninggal, hingga menyambut tamu kehormatan. Hanya saja yang tersisa sekarang adalah perayaan nganggung pada saat hari besar Islam saja.


Beramai-ramai Membawa Dulang ke Masjid
Pada perayaan nganggung, masyarakat akan berkumpul di masjid terdekat di rumah mereka sambil membawa berbagai hidangan makanan. Biasanya hidangan ini dibawa menggunakan dulang tradisional yang terbuat dari semacam daun pandan. Pada bagian luar dulang akan diberi cat. Dulang adalah bahasa Bangka Belitung untuk tudung saji. Dulang inilah yang dimaksud dengan slogan kabupaten Bangka: Kota Sepintu Sedulang.


Apabila anda datang ke kampung-kampung pada saat perayaan, maka dulang ini masih digunakan. Namun untuk perayaan nganggung di perkotaan, biasanya diganti dengan nasi atau kue kotak yang dibawa dengan plastik besar. Mungkin warga yang tinggal di daerah perkotaan tidak terlalu peduli dengan detail tradisi atau mungkin juga dulang sulit dicari sehingga masyarakat perkotaan menggantinya dengan kantong plastik besar. Sebenarnya tidak terlalu masalah, hanya saja yang menjadi ciri khas nganggung adalah dulang ini.


Masyarakat Menikmati Hidangan Nganggung
Apa yang dibawa dalam dulang tergantung dari kesepakatan warga disekitar masjid. Misalnya kalau nganggung kue, maka yang dibawa adalah berbagai jenis kue. Kalau nganggung nasi, maka yang dibawa adalah nasi berikut dengan lauk-pauknya. Sementara pada saat lebaran, biasanya warga akan mengisi dulang dengan hidangan ketupat.


Untuk perayaan selain lebaran, biasanya masyarakat akan berkumpul untuk persiapan nganggung pada saat menjelang maghrib. Sementara pada saat lebaran, biasanya masyarakat akan berkumpul setelah shalat ied di pagi hari. Para kepala keluarga akan berjalan membawa nampan besar yang ditutup dulang menuju ke masjid. Sementara anak-anak kecil sudah banyak yang berkumpul di masjid bersama teman-teman mereka. Jika bertamu ke kampung, anda tidak perlu khawatir bila tidak membawa dulang. Datang saja bersama kenalan anda untuk berkumpul bersama-sama merayakan nganggung. Acara ini selain menambah kebersamaan sesama warga masyarakat, juga merupakan sebagai wujud rasa syukur akan rejeki yang mereka peroleh sepanjang tahun.



Ketupat Tolak Bala Rebo Kasan
Acara nganggung akan dimulai dengan mendengarkan nasehat dari pemuka agama. Ceramah ini kemudian diikuti dengan berzikir bersama. Diakhir zikir, pemuka agama akan memimpin masyarakat untuk berdo’a. Setelah semua selesai baru kemudian masyarakat menikmati hidangan yang telah dibawa ke masjid menggunakan dulang.


Ada juga acara nganggung yang khusus dilakukan untuk menolak bala (bencana) seperti yang dilakukan oleh masyarakat kampung Air Anyir, Bangka. Perayaan nganggung ini disebut dengan Rebo Kasan oleh masyarakat sekitar. Rebo kasan dirayakan pada setiap bulan Syafar tahun Hijriyah tepat pada hari rabu terakhir bulan tersebut. Nama Rebo Kasan sendiri berasal dari kata Rabu Kasat yang berarti rabu terakhir.


Acara nganggung Rebo Kasan sedikit berbeda dengan acara nganggung di kampung lain. Ciri khas dari Rebo Kasan adalah salah satu hidangan yang mereka bawa dengan dulang ke masjid berupa bubur merah putih. Selain membawa bubur, masyarakat juga akan membawa ketupat tolak bala. Satu ketupat tolak bala akan dipegang oleh dua orang disetiap ujungnya. Kemudian masyarakat akan memanjatkan do’a bersama selagi memegang ketupat. Setelah do’a selesai kemudian kedua ujung ketupat akan ditarik agar terlepas anyamannya. Ketupat tolak bala dianyam sedemikian rupa sehingga apabila salah satu ujungnya ditarik akan terlepas dengan mudah. Ketupat ini kosong tidak seperti ketupat pada umumnya yang berisi nasi.


Selain ketupat tolak bala, ada satu lagi yang merupakan bagian dari Rebo Kasan, yaitu air wafak. Air wafak adalah air yang telah diberi doa wafak. Do’a ini dituliskan didalam piring keramik putih polos menggunakan tinta dawer yang berasal dari Makkah. Oleh masyarakat, wadah keramik tersebut kemudian masukkan dalam wadah guci yang diisi dengan air hingga tulisan do’a tersebut larut dan kemudian menghilang. Biasanya pengunjung mulai meminta air yang terdapat dalam guci tersebut. Mereka percaya air yang telah diberi do’a tersebut bisa menjauhkan mereka dari bala.


Ketupat tolak bala yang telah ditarik kedua ujungnya sehingga terurai dari anyamannya dan tidak berbentuk ketupat kemudian dikumpulkan menjadi satu. Selanjutnya masyarakat bersama-sama akan membawa ketupat yang sudah terurai tersebut menuju ke pantai dekat kampung. Di pantai inilah ketupat akan dibuang kelaut yang secara simbolis menujukkan, bahwa bala sudah dibuang. Untuk melihat tradisi rabu kasan, anda harus datang ke Bangka tepat pada hari rabu terakhir bulan Syafar.