Diponegoro Muda, dilukis dengan arang setelah pernikahan dengan istri sah pertama 25 Februari 1807.Dilukis oleh seniman Keraton Yogya. sumber :www.tembi.net. Photo yang sama terdapat dalam buku Kuasa Ramalan hal 139[/caption]Tokoh yang tegas tanpa kompromi, digdaya, berprinsip, tidak mabuk kekuasaan. Ketika ayahnya menawari jabatan sebagai HB IV, beliau menampiknya karena sebagai anak selir merasa tidak punya hak.
Sosok yang digdaya nampak ketika beliau menang dalam adu ketrampilan bergalah di atas kuda. Pangeran Diponegoro lihai menidurkan badannya di atas punggung kuda sambil memegang erat galahnya.
Tidak berlebihan apabila saya beranggapan bahwa kita pun memiliki tokoh sekelas Sir William Wallace, tokoh legendaris pejuang kemerdekaan Skotlandia di abad 13, yang kisah kepahlawanannya diperankan Mel Gibson dalam film Braveheart tahun 1995.
Dalam buku ini saya mendapati fakta bahwa Pahlawan adalah manusia biasa yang tidak lepas dari kisah-kisah yang menggugah minat (human interest). Sumber utama tulisan ini saya sarikan dari buku Kuasa Ramalan Bab III sub bab Sosok,Kepribadian,Keluarga, dan Kesenangan hal 135.
Adalah Letnan Dua Justus Heinrich Knoerle (1796-1833), orang Jerman asal Lexemburg yang bergabung dalam ketentaraan kolonial Belanda. Sebagian cerita-cerita menarik ini diambil dari catatan harian perwira ini ketika menemani perjalanan Pangeran selama tujuh minggu ke tempat pengasingan,Menado pada 20 Juni 1830.
1. Diponegoro punya daya tarik kuat, menawan bagi para wanita.
Walaupun tidak bisa disebut ganteng, hidung agak pesek, namun sang pangeran mempunyai daya tarik pribadi yang kuat, yang membuat beliau tampil menawan dihadapan perempuan.
Semasa di Tegalrejo,Yogya, beliau mempunyai empat istri dan barangkali beberapa selir. Seorang diantaranya istri tak resminya, cukup cantik hingga bisa menarik pandangan mata keranjang asisten Residen Belanda untuk Yogya yang tukang main perempuan, P.F.H. Chevallier (menjabat 1823-1825)
Diponegoro sendiri mengungkapkan dalam babad karyanya bahwa salah satu sifat yang mengganjal terbesar dalam dirinya semasa muda adalah “sering tergoda oleh perempuan”. Berkenaan dengan wanita ada satu fakta yang membuat saya shocked, namun maaf saya tidak akan menuliskannya di sini. Ketakziman dan rasa hormat saya pada beliau membuat jari-jari saya kaku untuk menuliskan kisah ini. Bagi yang ingin mengetahuinya bisa dibaca di bukunya Jilid 1 halaman 138,143, dan secara khusus dibahas di Jilid 2 Bab XI.
2. Diponegoro Bergantung Kepada Pengobatan Tradisional.
Ini adalah bukti bahwa jamu tradisional sudah berakar dalam kehidupan masyarakat Jawa ratusan tahun yang lalu. Sebagai survivor serangan Malaria Tropikana yang parah pada akhir Perang Diponegoro, sang Pangeran sangat bergantung kepada pengobatan tradisional.
Kepada Knoerle, dalam perjalanan ke Menado, Diponegoro mengungkapkan sikapnya yang menganggap rendah cara pengobatan barat.
“ Bagaimana kamu bisa bicara kepada saya tentang dokter-dokter dan obat-obat Belanda..bila tiap hari ada orang yang mati dalam kapal ini yang dilemparkan ke laut? Betapa mencurigakan kamu orang eropa mengenai dokter-dokter kamu”
Selama perjalanan itu. Diponegoro terus merawat diri sendiri dengan ramuan rempah Jawa seperti beras kencur dan kedawung. Untuk menangkal mabuk laut, Diponegoro hanya makan ubi kering.
3. Diponegoro kaku dan keras.
Diponegoro mengakui bahwa sangat langka kerabatnya di keraton yang berani bercanda dengan dia. Satu diantara sedikit orang yang berani bercanda dengan beliau adalah, Raden Ayu Sepuh, istri pertama paman beliau Pangeran Mangkubumi.
Namun demikian Diponegoro mampu melihat sisi jenaka pada keadaan yang paling kaku sekalipun. Satu diantara keadaan itu timbul ketika beliau memergoki Residen Yogya Nahuys Van Burgst, seorang yang dapat dikatakan charming, sedang bermesraan dengan istri asisten residen di vila miliknya di Bedoyo, lereng gunung Merapi.
Waktu itu Diponegoro merasa sangat malu, tetapi ketika ia menceritakan kejadian itu kepada Knoerle, sambil tertawa ia bertanya apakah bukan merupakan urusan rumah tangga yang ganjil bila dua orang pejabat tinggi Eropa berbagi perempuan yang sama.
4. Diponegoro punya selera humor ironi yang pahit
Kita sering saksikan pada era sekarang barang atau hewan dikirimkan ke instansi atau pihak-pihak tertentu untuk menyampaikan suatu pesan sindiran. Misalnya demonstran yang mendatangi kantor lembaga peradilan dengan membawa bebek, perlambang binatang yang tidak punya pendirian dan lemah. Pesan yang ingin disampaikan adalah lembaga peradilan harus independen dan kuat sehingga penegakan hukum tidak tebang pilih.
Nampaknya kebiasaan mengirimkan barang sebagai sebuah sindiran tersebut sudah ada sejak era Perang Diponegoro. Pangeran mempunyai kebiasaan mengirimkan pakaian perempuan kepada para panglimanya yang dianggap telah bertindak seperti pengecut.
Perkemahan Pasukan Diponegoro
Dalam kirimannya Diponegoro menyelipkan sebuah catatan bahwa pakaian wanita lebih baik daripada prajuritan (pakaian tempur) Jawa. Salah seorang yang mendapatkan kiriman pakaian wanita ini adalah Pangeran Suryengalogo,adiknya.
Kira-kira seperti inilah model pakaian wanita yang dikirimkan.
[caption id="" align="aligncenter" width="284"]
Pakaian Putri Raja Jawa abad 19[/caption]5. Diponegoro juga minum anggur dan merokok
Walaupun tidak dijadikan kebiasaan yang berlebihan, Diponegoro juga minum anggur bersama dengan Eropa. Sang Pangeran percaya bahwa minum anggur putih manis tidak bertentangan dengan Al Quran mengingat kenyataan bahwa orang Eropa meminumnya sebagai obat “penawar” agar tidak mabuk setelah minum Madeira atau anggur merah. Suatu fakta bahwa Diponegoro mempunyai penafsiran tersendiri mengenai larangan-larangan agama.
Dilaporkan oleh Knoerle juga bahwa Diponegoro menghisap rokok jawa (sigaret yang dilinting tebal dengan tangan/cerutu yang terbuat dari tembakau yang dibungkus daun jagung).
6. Diponegoro punya rasa welas asih dan perikemanusiaan yang mendalam.
Diponegoro punya sifat tidak tega ketika menyaksikan pembantaian di medan tempur. Seperti diceritakan kepada Knoerle, Diponegoro bahkan sampai menutup mata melihat pemandangan mengharukan orang tewas dan terluka. Kejadiannya pada 28 Juli 1826, di Kasuran, Sleman, ketika pertempuran memakan hampir semua korban terbunuh, kecuali tujuh belas di antara limapuluh orang anggota peleton Belanda-Jawa.
Dalam perjalanan ke tempat pengasingan Menado, di satu kesempatan Diponegoro mendengar ada seorang kelasi (prajurit angkatan laut) Belanda memilih bunuh diri daripada dihukum karena kejahatan yang tidak dilakukannya. Melihat kejadian itu Diponegoro mengungkapkan belas kasihan dan kemarahan dengan bertanya,
“ Bagaimana bisa menghukum seseorang yang kejahatannya tidak bisa dibuktikan? Di Yogya, bila ayahku (Sultan HB III) atau saya sendiri menimbang untuk memberi keadilan kepada masyarakat Jawa, kami selalu bertolak dari kaidah bahwa tidak seorang pun boleh dijatuhi hukuman kalau kejahatannya belum terbukti
Ketika itu Diponegoro mengatakan kepada Knoerle bahwa ia bersikukuh menaruh belas kasihan kepada kelasi itu, yang katanya pastilah seorang yang berhati suci yang tentu akan mendapatkan pengampunan Allah.
7. Diponegoro punya kebiasaan makan sirih
Makan sirih adalah salah satu kegemaran sang pangeran. Diponegoro melakukannya terus menerus, sedemikian rupa sehingga beliau mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengunyah seracikan kapur, daun sirih dan pinang. Seperti dilaporkan dalam catatan harian Knoerle, dalam perjalanan ke tempat pembuangan di Menado, Diponegoro minta dibelikan sirih di Surabaya atau Madura
8. Diponegoro suka bermain catur, berkebun, dan memelihara burung
Suatu permainan yang digemari Diponegoro adalah catur. Salah seorang teman main catur yang dihargainya adalah Raden Ayu Danukusumo, seorang putrid Sultan Hamengkubowono.
Berkebun dan memelihara burung merupakan kesenangan khas jawa Diponegoro. Ketika masih di tempat pembuangan di Menado, beliau diperbolehkan merancang taman meditasi di tepi sungai terdekat dengan sebuah pondok semedi menghadap sungai. Untuk burung, beliau memelihara burung tekukur-batu (perkutut) dan kakatua.