Friday, May 29, 2015

Perjuangan Hadrotus Syekh Hasyim Asy'ari Mendirikan Pesantren

Tahun 1899/1900 Kiai Hasyim pulang ke tanah air setelah 7 tahun belajar di tanah suci. Kiai Hasyim mengawali karir mengajarnya dengan menjadi guru di pesantren kakek maupun ayahnya, yaitu pesantren gedang dan keras. tidak lama kemudian Kiai Hasyim pindah ke daerah Plemahan kediri, tempat mertuanya.


Kiai Hasyim mencoba mendirikan pesantren di tempat tersebut, namun nampaknya kurang berhasil. Akan tetapi, beliau tidak menyerah dengan kegagalan tersebut. Kali ini Kiai Hasyim berniat mendirikan pesantren di Desa Tebuireng, kira kira 2 km arah selatan dari pesantren ayahnya.




Pesantren Tebuireng terletak 8 km di sebelah tenggara kota Jombang. Hanya beberapa puluh meter sebelah selatan kawasan pesantren terdapat Pabrik Gula Tjoekir (Cukir). Pabrik ini di bangun oleh pemerintah belanda tahun 1853. Tentunya pabrik ini menyerap tenaga kerja dari penduduk pribumi.


Para buruh tersebut, karena tidak terbiasa menerima gaji tetap, mengalami keterkejutan budaya (cultural shock). Sehingga, mereka menghabiskan gajinya untuk hura hura dan berfoya foya, seperti berjudi dan minum minuman keras. Dengan kata lain, kehadiran Pabrik Gula di samping meningkatkan taraf ekonomi masarakat, juga merusak moral mereka. Hal yang demikian inilah tampaknya yang menjadi alasan beliau mendirikan pesantren di Tebuireng, memperbaiki moral dan perilaku masarakat.


Awalnya Kiai Hasyim "meminjam" 8 santri dari pesantren ayahnya, mereka bertugas membantu beliau mendirikan pesantren. Dan itu sudah lazim di kalangan pesantren tempo dulu. Dalam waktu 3 bulan bertambah 80 santri, Ketika itu bangunan pesantren mash sangat sederhana. Beliau membeli tanah dari seorang dalang (pemimpin dlm kesenian wayang) setempat.


Lalu di dirikan bangunan sederhana yang terbuat dari bambu berukuran sekitar 10 meter. Bangunan ini di bagi menjadi dua : sebagian sebagai tempat tinggal Kiai Hasyim beserta keluarga, dan sebagian lagi untuk tempat tinggal para santri. Mereka tidur, belajar dan melaksanakan solat di tempat yang sederhana itu.


Ketika datang waktu solat, Kiai Hasyim biasanya berkeliling pesantren untuk membangunkan santri sambil membawa tongkat yang siap di lemparkan pada santri yang malas bangun.


Dan para santri segera berhamburan lari ke kamar mandi, terkadang ada santri yang berteriak "Kashukehe. . . !" Kata kata itu biasanya di ucapkan penduduk jika ada serangan jepang lewat pesawat capung. Dan penduduk segera tiarap. Mendengar ucapan ini yang menyerupakan beliau dengan bala tentara jepang, Kiai Hasyim hanya tertawa.


Kiai Hasyim juga bertindak sebagai Khatib tiap solat jumah. Beliau termasuk Kiai yang memperbolehkan Khutbah dengan terjemahannya. Tidak harus berbahasa arab seluruhnya.


Secara langsung, beliau tidak pernah melarang kentongan, namun di Masjid Tebuireng hanya ada bedug dan klonengan. Beduk di tabuh ketika akan adzan, dan klonengan di bunyikan menjelang Iqomat.


Lahu Al-Faatihah