Thursday, May 21, 2015

Sak Jerone Winoro (Sepenggal Kisah Santri Lirboyo)



Kamis sore, makbaroh kyai sepuh ramai di padati santri yg berziarah. Terlihat santri yang masih belia dengan perlahan memasuki area makam, mencari celah diantara santri yg lain. Setelah ber-uluk salam, ia pun duduk dengan sedkit berdesakan. Sedang asyiknya tahlilan, tiba-tiba ada yg datang menghampiri dan berbisik,

"Kang, sampeyan ditimbali Mbah Yai".

Meski tak bisa bahasa kromo, tapi ia paham yg disampaikan. Sedikit grogi, tapi perang dlm hati.

"Saya punya salah apa ? Pelanggaran apa yang saya lakukan? Kok sampai-sampai Mbah Yai tahu, dan sekarang mau menta'zir ! Dari sekian ribu santri, sekian puluh peziarah, kok cuma saya yang dipanggil ? Pasti saya punya dosa besar, sampai beliau langsung yang mau menta'zirnya, tidak lewat pengurus dan keamanan dahulu,." Pikir kang santri.



Tak lama orang tadi datang lagi.


"Cepet, kang. Sampeyan ditimbali Mbah Yai" katanya.


"Oh ya, ini tanggung saya nyelesain tahlil dulu," jawab santri.


Mulutnya tetep tahlilan, tapi pikirannya tak karuan. Itu yg di rasa santri junior ini. Tak lama, orang itu datang lagi.


"Cepet, kang. Itu temen-temennya udah pada nunggu di serambi keramik. Nanti ke ndalem bareng,".


"Oh, nggih," jawabnya singkat.


Setelah orang tadi pergi, ia pun berdiri, uluk salam. Sedikit berharap kalau ia mau ditakzir kyai, moga diringankan hukumannya.


Sampai di serambi keramik, dilihatnya banyak santri. Ada yg berkelompok, ada yang duduk, berdiri, dan lain-lain. Maklum, hari itu adalah Jumat muda, saat santri boleh keluar pondok tanpa harus izin.


"Dimana santri-santri yang nunggu dan mau ke ndalem karena mau ditakzir? Ah, jangan-jangan cuma ada santri senior yang ngerjain. Tp kalo bener ?! Terus saya gak ada dan gak ke ndalem ? Jangan-jangan nanti malah hukumannya diperberat. Ah, dari pada salah, mending duduk disini saja, pas di bawah pohon kelapa biar kelihatan," perang dalam pikirannya mulai sedkit bisa dikendalikan.


Dirasa belum ada yang mengajak ke ndalem, ia lanjutkan tahlilan yg terhenti.


"Ayo, kang. Ini temen-temennya udah pada kumpul,".


Dilihatnya orang dimakam tadi sudah bersiap-siap ditemani 4 orang santri seumurannya.


"Hah ?! Cuma 4 santri ?! Pasti pas takziran nanti, santri yang ada di serambi menyoraki. Apalagi pas digundul, disiram comberan. Aduh. Gimana ini ?"


Kembali pikirannya berkecamuk. Meski begitu, ia tetap ikut melangkah ke arah ndalem.


"Loh kok lewat sini? Pintu depan ndalem kan dari jalan sana ?". Kembali pikirannya tumbuh tanya.


Setelah melewati gang sempit dan rumah beberapa dzuriyah yg lain, pahamlah ia, kalo yang dituju adalah pintu blakang ndalem.


Setelah masuk, ke 5 santri itu dipersilahkan duduk. Dari dapur itu, terlihat ruang TV yang sdang menyala. Terlihat pula Mbah Yai yang sedang mutholaah, duduk khusuk dibangku dengan meja dan lampu baca. Tiba-tiba terdengar adzan maghrib di TV. Dan dari jauh terdengar bedug masjid ditabuh.


"Monggo, monggo disambi," Ucap abdi dalem setelah menyuguhkan jamuan.


Meski hanya air teh manis hangat dan biskuit di piring, sudah sedikit meringankan pikiran santri junior yang masih belum paham, kenapa 5 santri ini ditimbali.


Tak seperti tradisi di kamar, tak ada santri yang berebut jajanan, cara makan dan minumnya pun nyaris tak bersuara. Dilihatnya abdi ndalem masih sibuk, ternyata bukan cuma itu, ia pun menyuguhkan piring berisi nasi putih, mie instan, sepotong telor dadar dan kerupuknya. Tiap santri 1, diberi rata.


"Monggo, monggo disambi,".


Dan ke 5 santri pun melahapnya penuh hati-hati tak seperti ketika makan diwarung. Setelah semua selesai makan, abdi ndalem itu menghampiri Mbah Yai yang sedang asyik  mutholaah. Terlihat jelas abdi dalem itu membungkukkan badan dan bicara dengan Mbah Yai dengan gaya berbisik.


Abdi ndalem pun kembali ke dapur, menemui 5 santri yg mulai kenyang.


"Nggih sampun, kang. Mbah Yai ngaturake matur suwun lan pangapunten. Niki kangge jajan nang pndok".


Diberikan amplop kepada 5 santri yg masih kebingungan itu. Dan mereka pun paham kalo mereka sudah harus undur diri. Dalam perjalanan, salah seorang santri buka suara.


"Kamu puasa gak?"


"Tadinya gak, tapi setelah khisoh tsani belum makan dan minum dari pagi, ya sudah saya niati puasa aja. Dan alhamdulillah tadi bisa berbuka di ndalem padahal saya lagi gak punya uang, " Jawab santri yang merasa diberi pertanyaan.


Tiba-tiba di kejauhan terdengar bedug dari masjid, tanda qomat dan jamaah akan dimulai. Kelima santri itu pun agak mempercepat jalannya.


"Oh, jadi santri yang dipanggil itu, santri yang puasa sunnah Kamis. Dipanggil untuk berbuka, bukan untuk ditakzir karena melanggar. Dan semuanya masih remaja seperti saya. Astaghfirullah, tadi saya udah buruk sangka sama Mbah Yai. Berarti Mbah Yai tahu ya? Katanya puasa kan ibadah yg sirri ?! Terus kok abdi ndalemnya juga bisa tau, padahal gak bawa photo atau nanya nama dulu ?! Subhanallah,". Kembali muncul tanya di hati santri junior ini.


Dari jalanan yang ditapaki, terlihat jamaah sholat maghrib dimulai. Ia pun makin mempercepat langkah, dengan hati berbunga dan tangan menggenggam kencang amplop yang belum sempat ia buka.


Teruntuk beliau, KH. Ahmad Idris Marzuki Lirboyo. Al-Faatihah.


Penulis : Moehan Boehem