Friday, May 29, 2015

Uang Berceceran Di Makam Mbah Hamid Pasuruan

Suatu ketika Su'udi (dulu terkenal badung di pondok) punya masalah. Anak anaknya minta di belikan baju seragam sekolah, masing masing 4 stel. Pusinglah dia. Setiap hari dia keluar rumah, berihtiar, tapi nihil. Di malam hari ia tak pernah tidur. Dia membaca solawat Al Hamid, setelah rampung 313 kali, dia ulang lagi, hingga berulang ulang.




Sampai suatu malam, ketika belum habis 313 kali dia membaca solawat Al Hamid, dia tertidur di kursi. Ah tidak, antara tidur dan terjaga, dia mendengar suara - seperti suara Kiai Hamid. "Di, pergi kamu ke (kota) pasuruan. Di sebelah barat Masjid (jami'), uang berceceran," kata beliau.





Suudi tergeragap bangun, tapi karena masih jam 2 malam, dia tidak langsung pergi, nunggu subuh. Usai solat subuh, tanpa membaca wirid lebih dulu, dia kayuh sepedanya menuju kota pasuruan dengan cepat, takut keduluan orang, namanya juga uang berceceran. Tujuannya adalah satu Komplek makam para Habaib dan Wali, termasuk makam Kiai Hamid, sebelah barat Masjid Jami Al Anwar.


Sampai di sana, dia segera memeriksa seluruh barang yang ada, semua Qur'an di bukanya, tak ada uang. Kembang yang di tabur di atas makam Kiai Hamid dia bongkar bongkar. Tapi, sampai dia di marahi H.Hafid, muadzin Masjid, uang yang kata suara tadi malam berceceran tatap tak ada.


Barulah dia merasa malu. "Betapa bodohnya aku," katanya kepada dirinya sendiri. Lalu dia duduk dan membaca yasin dan tahlil. Eh, tahu tahu ada serombongan peziarah datang. Mereka memintanya memimpin tahlil sekedarnya, karena mereka keburu hendak pergi ke kuburan Bung Karno di Blitar.


Selesai membaca tahlil, pemimpin rombongan memberinya uang 5000,-. Lalu anggota rombongan memberi pula uang, ada yang 1000, ada yang 2000. Para anggota rombongan wanita pun (yg tidak boleh masuk ke dalam kompleks makam) melemparinya uang ribuan dari kejauhan.


"Ah, ini yang namanya uang berceceran," katanya pada diri sendiri sambil menangis. Dia menangis haru karena merasa di perhatikan Kiai Hamid. Setelah dia hitung, jumlahnya Rp 170 ribu,lebih dari cukup untuk membeli delapan stel seragam. "Yai tidak bohong," ujarnya sembari masih menangis.