Friday, June 26, 2015

Kiai Husnan Kedung Cangkring


Dulu sekitar tahun 1980-an, di Kedung Cangkring ada seorang ulama biasa, tetapi terkenal sebagai ahli istikharoh. Ia adalah Kiai Husnan, yang akrab disapa Pak Husnan. Dikatakan ulama biasa, karena sehari-harinya ia bekerja mbatik pada mertuanya KH Asmuni Umar, H Jamian. KH Asmuni, adalah mantan Ketua PC NU Sidoarjo, sebelum KH Abdy Manaf. Menurut cerita KH Asmuni, sosok Pak Husnan, selain sehari-hari bekerja sebagai pembatik, ia banyak dimintai tolong masayarakat sekitar untuk mengistikhorohkan sesuatu.


Sebelum lahir pemikiran KH Ahmad Siddiq tentang perlunya NU kembali ke Khittah 1926, kondisi NU begitu menegangkan. ”Terjadi kebuntuan komunikasi politik yang begitu hebat antara kubu KH Idham Kholid (Ketua Umum PB NU waktu itu), yang menghendaki NU menjadi partai politik dan kubu KH As’ad Syamsul Arifin (pengasuh Pondok Salafiyah Syafiiyah Asembagus, Situbondo) yang menghendaki NU kembali ke khittah. Nah, di tengah-tengah kebuntuhan itulah, KH Mujib Ridwan (Surabaya), anak dari KH Ridwan Abdullah (pencipta lambang NU), menemui Pak Husnan, untuk meminta tolong istikhoroh atas persoalan NU yang tidak menentu,” cerita Kiai Asmuni.


Isyarat yang didapat dari istikharoh Pak Husnan waktu itu, lanjut Asmuni, PB NU harus bersifat tegas dan berani dalam menentukan sikap terhadap sesuatu yang diyakini benar dan manfaatnya jelas bagi NU, meski harus berbeda pandangan dengan salah satu kelompok. ’’Isyaratnya berupa kereta yang melaju kencang. Demikian cerita KH Mujib Ridwan kepada saya. Setelah dari Pak Husnan, Kiai Mujib Ridwan waktu itu mampir ke saya. Dan cerita panjang lebar hasil istikhorohnya Pak Husnan, dan kondisi terkini (pada waktu itu) NU,’’ jelasnya.




[caption id="" align="aligncenter" width="293"] Kondisi makam Kiai Husnan sebelum dipugar[/caption]

Hasil istikharoh Pak Husnan itu kemudian dibawa oleh Kiai Mujib kepada KH As’ad. ’’Itu menjadi salah satu inspirasi atau sumber keberanian PBNU kubu KH As’ad Syamsul Arifin untuk berani menentukan sikap NU kembali ke khittah, selain juga ada pemikiran brilian dari KH Ahmad Siddiq soal khittah NU,’’ terang Kiai Asmuni. KH Mujib Ridwan mengetahui bahwa Pak Husnan mempunyai keahlian istikharoh dari mbaknya, Fatimah, yang juga tinggal di Kedung Cangkring, yang dinikahi oleh H Masduqi.


Kiai Husnan, Shohibul Istikhoroh tersebut wafat pada tanggal 16 Desember 2004 bertepatan dengan 4 Dzulqa'dah 1425 H.


Lahu Al-Faatihah


Sumber :


- babad2010.wordpress.com


- Foto oleh Farib Abie Syifa'