Tuesday, June 16, 2015

Mat Depok

Para jawara mulai dari Banten sampai Karawang mengenal sosoknya. Mat Beng, jawara Pasar Minggu pemimpin Laskar Banteng Merah berteman baik dengan Daeran. Bahkan Kiai Noer Ali dari Bekasi juga sahabat seperjuangannya dulu.

Mat Depok, begitu Daeran dikenal oleh para jawara pada zaman revolusi kemerdekaan Indonesia. Saat membantu mempertahankan republik ini, Mat Depok berada di barisan paling depan. Dia juga berjuang bareng Imam Syafei atau lebih tersohor dengan sapaan Bang Piie.

Nama aslinya Daeran. Lahir tahun 1910. Pernah ditahan Belanda di Pulau Onrust karena merampok. Pada 1935, bebas dari Onrust, dia ke Berland, Matraman. Di sana Daeran bertemu Nyai Emah, perempuan cantik dari Karawang yang jadi “nyainya” orang Belanda. Dengan kepandaiannya, Daeran berhasil mencuri hati Nyai Emah.

Si Nyai dibawa kabur ke kampong halamannya di Tanah Baru (kini masuk wilayah Depok –berbatasan langsung dengan Ciganjur, Jakarta Selatan). Jadilah Daeran buronan kompeni. Agar aman, Nyai Emah dititipkan di Pengasinan, Sawangan, di rumah guru silatnya.

Pada masa perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Daeran berada di garis depan. Dia berkawan dengan Imam Syafe’i alias Bang Pi’ie, pemimpin para jago di Pasar Senen dengan organisasinya Oesaha Pemoeda Indonesia. Selain di kancah perjawaraan, Daeran dan Bang Pi’ie kawan seperjuangan di Karawang.

Para laskar rakyat di Karawang menjuluki Daeran dengan julukan Mat Depok. Julukan itu dialamatkan kepadanya karena aksi heroik Daeran dalam Peristiwa Gedoran Depok. Pentolan Banteng Merah itu pernah memimpin pemuda menyerbu dan merebut Depok yang tidak mau mengakui proklamasi 17 Agustus 1945.

“Sebelum menyerbu Depok (11 Oktober 1945 –red), orang-orang ngumpul di rumah. Saking ramenya, itu perapatan sampai penuh,” kata Engkong Misar, anak kandung Daeran berbagi kisah ke pada Historia. Kini, rumah itu di perempatan tugu Gong Si Bolong, Tanah Baru, Beji, Depok. Dulu, wilayah itu belum masuk Depok.

Menurut laporan intelijen Belanda di arsip Algeemeen Secretarie, hari itu orang Depok dipaksa oleh ekstrimis dan rampokkers –begitu bahasa dokumen tersebut–mengibarkan merah putih dan teriak merdeka. Bagi yang melawan dibunuh.

Ketika Jakarta dijadikan kota diplomasi menyusul kesepakatan yang diambil Sutan Sjahrir, Daeran ikut hijrah ke Karawang bersama laskar-rakyat di Jakarta dan sekitarnya. Di Karawang, Daeran alias Mat Depok cukup dikenal.

“Dulu, di semua daerah yang kita lewati ada aja yang kenal bapak. Walau satu dua orang. Biasanya yang kenal dia itu orang yang berpengaruh di kampong tersebut,” kata Engkong Misar yang saat itu berusia 15 tahun (lahir tahun 1930) dan ikut serta berperang di Karawang.

Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949 beberapa kali menyebut-nyebut nama Camat Nata dan Usman Debot, jawara yang tampil memimpin laskar. Ternyata nama itu dikenal baik oleh Misar. “Itu kawan bapak. Saya kenal. Bahkan saya pernah disuruh mengantar surat oleh Camat Nata.”

Suatu hari, dalam sebuah pertempuran, Mat Depok bersama beberapa gerilyawan tertangkap Belanda. Mereka ditahan di penjara Nusa Kambangan. Ketika bebas setelah perang usai, Daeran pulang ke Tanah Baru, hidup bersama pujaan hati, Nyai Emah. Dan kini di dadanya sudah ada tato besar bertuliskan: MAT DEPOK.

“Siapa pun yang pernah jumpa Pak Daeran pasti tahu tato itu. Pak Daeran suka pakai jas warna hitam tanpa dalaman. Jadi, tatonya kemana-mana,” ungkap Buang Jayadi, Ketua Gong Si Bolong, kelompok kesenian tertua di Depok ketika dijumpai Historia di kediamannya.

Tahun 1950-an, sebagaimana dikisahkan Engkong Misar, datang utusan Bang Pi’ie ke rumahnya di Tanah Baru, Depok. Mat Depok diajak berunding oleh Bang Pi’ie untuk sama-sama membantunya di Komando Militer Kota Besar Djakarta Raya. “Dulu bapak ditugaskan Bang Pi’ie menjaga keamanan.”

Belakangan, Bang Pi’ie diangkat menjadi Menteri Negara Keamanan Rakyat dalam Kabinet Dwikora oleh Bung Karno. Dan sebagai sekondan lama, Mat Depok lagi-lagi diajak serta.

"Bang Piie itu temen dekat ayah saya," kata Misar, anak dari Mat Depok saat berbincang dengan merdeka.com di kediamannya, Tanah Baru, Kota Depok, Jawa Barat. Misar mengatakan ayahnya dekat dengan Bang Piie saat keduanya berperang di Karawang.

Imam Syafei merupakan jagoan legendaris asal Senen. Dia memimpin geng dunia hitam bernama Cobra saat itu. Bang Piie pernah menduduki kursi menteri keamanan rakyat di Kabinet Dwikora. Karena dicap hitam sebagai pengikut Soekarno, Bang Piie dicopot dari jabatannya sebagai menteri oleh Soeharto.

Sejak Sutan Sjahrir membuat kesepakatan Jakarta menjadi Kota Diplomasi, Daeran ikut hijrah ke Karawang. Dia bersama beberapa laskar di Depok berangkat menuju Karawang dengan berjalan kaki hampir seharian melewati daerah Kranggan, Bekasi. Di sana Mat Depok ikut berjuang dan bergabung dengan laskar rakyat dari Jakarta untuk berperang melawan Belanda.

"Kita berangkat dari sini pukul enam pagi, sampai Karawang jam sebelas malam," kata Misar mengenang perjuangannya saat berusia 15 tahun dan ikut berperang bareng ayahnya.

Selain ikut berperang mempertahankan kemerdekaan, Mat Depok memiliki jasa saat peristiwa Gedoran Depok, Oktober 1945. Karena aksi heroiknya menyerbu Depok lantaran tidak mau mengakui kemerdekaan Republik Indonesia, Daeran dikenal dengan julukan Mat Depok. Julukan itu tak kurang karena tato di dadanya bertulisan Amat Depok Potolan.

"Kalau dulu orang mau ngejarah bilangnya ngegedor. Makanya peristiwa di Jalan Pemuda tempat Belanda Depok dikenal dengan Gedoran," ujar Misar sambil mengingat orang keturunan Belanda saat itu dikumpulkan di gudang garam dan Stasiun Depok Lama.

Setelah kemerdekaan, seperti diceritakan Misar, ayahnya menjadi orang kepercayaan Bang Piie untuk membantu menjaga keamanan Komando Militer Kota Besar Djakarta Raya. Saat diangkat menjadi Menteri Keamanan Rakyat oleh Soekarno, Mat Depok juga ikut diajak Bang Piie.

"Ayah saya dulu boleh dibilang pecalang," kata Misar. Pecalang merupakan satuan tugas keamanan adat. Dari sana, nama Mat Depok kesohor meski hanya di kampung kelahirannya.

Kini. Mat Depok telah tiada, namun lakon hidupnya masih jadi buah bibir. Setidaknya di kampung halamannya: Tanah Baru, Depok.

Sumber : historia.co.id dan harianmerdeka.com