Salah seorang anak Mufti Jamaluddin bin Muhammad Arsyad al-Banjari, ialah Muhammad Thasin al-Banjari. Beliau mengembara ke beberapa negara karena menyebarkan agama Islam terutama dalam bidang ilmu tajwid. Sewaktu beliau merantau ke Brunei, beliau menikah di sana dan memperoleh anak bernama Ramli. Diriwayatkan banyak keturunannya di Brunei dan Sabah. Muhammad Thasin al-Banjari meneruskan perantauannya ke Pontianak, Kalimantan Barat memperoleh tiga orang anak lelaki, yaitu Muhammad Yusuf, Muhammad Arsyad dan Abdur Rahman.
Diriwayatkan, bahwa Muhammad Yusuf bin Haji Thasin setelah belajar ilmu-ilmu keislaman secara mendalam, beliau meneruskan usahanya menjadi saudagar intan. Muhammad Yusuf juga merantau ke seluruh tanah Kalimantan. Selanjutnya Muhammad Yusuf merantau ke Sumatera, hingga beliau meneruskan perantauannya ke luar negeri, yaitu ke Saigon dan Kamboja. Di Kampung Melayu, Kamboja, Muhammad Yusuf menikah lagi. Isterinya yang berasal dari Kamboja itulah yang dibawanya pulang ke Kalimantan Barat. Di Pontianak, Muhammad Yusuf membuka tanah perkebunan getah yang sangat luas. Setelah usahanya sukses, diberinya nama kampung itu sebagai "Kampung Saigon". Akhirnya beliau sendiri terkenal dengan panggilan Yusuf Saigon dan hilanglah nama Banjarnya. Oleh karena itu, banyak orang menyangka Muhammad Yusuf adalah orang Saigon bukan orang Banjar.
Menuntut Ilmu
Kedua anak Muhammad Thasin al-Banjari yang tersebut di atas, yaitu Muhammad Yusuf dan Muhammad Arsyad Pontianak, setelah mereka melihat kesuburan pohon-pohon getah hasil usaha gigih dan jerih payah mereka sendiri, bangkitlah kembali cita-cita untuk meneruskan perjuangan moyang mereka, yaitu Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari yang sangat masyhur itu. Mereka berdua beriktikad, bahwa tiada satu perjuangan pun yang lebih mulia, dapat menyelamatkan seseorang sama ada di dunia maupun di akhirat, kecuali perjuangan menyebarkan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh para nabi dan rasul Allah. Bahwa Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, nabi dan rasul akhir zaman, adalah satu-satunya agama yang wajib diperjuangkan oleh setiap insan Muslim. Urusan mencari dana untuk kepentingan umat Islam ditangani oleh Muhammad Yusuf, sedangkan untuk dakwah dilakukan oleh saudaranya, Muhammad Arsyad.
Cita-cita kedua kakak beradik itu dikabulkan oleh Allah, karena pada tahun 1925 M, datanglah seorang pemuda yang alim dari Ketapang bernama Abdus Shamad yang mendapat pendidikan di Madrasah Shaulatiyah, Mekah. Salah seorang guru beliau di Madrasah Shaulatiyah, Mekah ialah Tengku Mahmud Zuhdi bin Abdur Rahman, yang kemudian dikenal sebagai Syeikhul Islam di Kerajaan Selangor. Abdus Shamad ditampung oleh Muhammad Yusuf Saigon, lalu didirikanlah pondok-pondok tempat tinggal para pelajar, ketika itu berdirilah Pondok Pesantren Saigoniyah yang dianggap sebagai pondok pesantren yang pertama di Kalimantan Barat. Sungguhpun demikian, sebenarnya sistem pendidikannya bukan sistem pondok, karena ia juga mempunyai bangku-bangku tempat duduk para pelajar sebagaimana sekolah-sekolah barat. Dikatakan sebagai pondok pesantren yang pertama di Kalimantan Barat karena di Pondok Pesantren Saigoniyah yang pertama terdapat pondok-pondok tempat tinggal para pelajar yang dimodali oleh Muhammad Yusuf Saigon. Ada pun pengajian pondok selain itu ialah Dar al-'Ulum yang didirikan oleh Abdur Rahman bin Husein al-Kalantani, murid Tok Kenali. Pengajian pondok beliau terletak di Kampung Terusan, Mempawah. Hanya pondok pengajian inilah satu-satunya pondok pengajian tanpa kelas dan tanpa bangku, sistem pendidikannya sama dengan di Patani, Kelantan, Kedah dan Pulau Jawa. Pada tahun 1975, beberapa orang kader Pondok Pesantren Saigoniyah dan Dar al-'Ulum bergabung, sama-sama mengajar di Pondok Pesantren Al-Fathaanah di Kuala Mempawah. Oleh karena itu kelanjutan kedua Pondok Pesantren tersebut (Saigoniyah dan Dar al-'Ulum), masih berjalan terus sampai sekarang.
Kader-kader
Pondok Pesantren Saigoniyah banyak mengeluarkan kader-kader yang mengajar di beberapa tempat di Kalimantan Barat tetapi sekarang hampir semuanya telah meninggal dunia. Pondok Pesantren Saigoniyah hilang atau tenggelam namanya ketika berkecamuk perang dunia yang kedua, akibat keganasan tentara Jepang di Kalimantan Barat. Setelah Jepang kalah, nama Pondok Pesantren Saigoniyah itu tidak muncul lagi, nama baru yang muncul dalam tahun 1977 ialah Madrasah Al-Irsyad. Nama baru ini diberikan bertujuan mengabadikan nama Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dan nama keturunan beliau, yaitu Muhammad Arsyad. Beliau adalah satu-satunya ulama yang dihormati di Kampung Saigon ketika itu.
Melihat institusi-institusi pendidikan pondok pesantren di beberapa tempat di Pulau Jawa mencapai kemajuan, sementara sebaliknya di tempat-tempat yang lain di tanah Melayu mengalami kemerosotan, bahkan ada yang hanya dikenang namanya saja, rasanya perlulah penulis mengingatkan insan-insan kaum Muslim yang sadar untuk berjuang menghidupkannya kembali. Ini karena sistem pengajian pondok pesantren ketika dulu, diakui oleh banyak pihak sebagai institusi yang mencerdaskan umat seluruh tanah Melayu. Dengan perkembangan dunia yang serba canggih dan modern, institusi pondok perlu juga untuk berbenah diri sehingga sistemnya mengikuti perkembangan zaman juga. Pondok Pesantren Saigoniyah yang satu ketika dulu pernah terkenal di Kalimantan Barat, bahkan menjadi kebanggaan masyarakat Banjar di mana saja mereka berada, sekarang telah tiada. Penulis mengharapkan pejuang-pejuang pendidikan sistem pondok dunia Melayu tetap berfikir dan berusaha untuk menghidupkan kembali Pondok Pesantren- Pondok Pesantren di tanah Melayu sebagai kebanggaan baru.
Sebagaimana kita ketahui, Muhammad Yusuf Saigon, yang berperanan dalam pembinaan Pondok Pesantren Saigoniyah, adalah salah seorang keturunan Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari. Perlu juga kita ketahui, pada masa yang sama, keluarga ini juga menjalankan kegiatan serupa di tempat-tempat lainnya di dunia Melayu, bahkan termasuk juga Mekah. Sebagai contoh Mufti Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari mendirikan pengajian pondok di Parit Hidayat, Sapat, Inderagiri Hilir, Sumatera. Tuan Husein Kedah al-Banjari mendirikan beberapa tempat pendidikan sistem pondok di Malaysia. Beliau memuai kegiatannya di Titi Gajah, Kedah, selanjutnya di Pokok Sena, Seberang Perai, Pulau Pinang yang dikenal dengan Yayasan Pengajian Islam Madrasah Al-Khairiah.
Selain institusi pendidikan di Pontianak, Kalimantan Barat, Sapat, Inderagiri dan Malaysia sebagaimana yang disebutkan di atas, masih banyak lagi institusi pendidikan keluarga ulama Banjar tersebut di tempat-tempat lain, baik yang ada di Banjar maupun di Pulau Jawa. Di Bangil, Jawa Timur ada pondok pesantren yang didirikan keluarga ini, seperti Pesantren Datuk Kalampayan. Pondok tersebut didirikan oleh al-`Alim al-Fadhil Kiai Haji Muhammad Syarwani Abdan al-Banjari. Datuk Kalampayan adalah gelar untuk Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari karena beliau dimakamkan di Kalampayan. Di Dalampagar (Banjar), setidaknya terdapat dua buah institusi pendidikan yang didirikan oleh keluarga ini, demikian pula di Teluk Selong, Kampung Melayu dan lain-lain. Dua buah madrasah di Dalampagar diberi nama Madrasah Sullam Al-'Ulum dan Madrasah Mir'ah ash-Shibyan. Yang di Teluk Selong diberi nama Madrasah Sabil Ar-Rasyad. Yang di Sungai Tuan diberi nama Madrasah Al-Irsyad.
Yayasan yang didirikan oleh keluarga ulama Banjar tersebut juga terdapat di beberapa tempat, seperti Yayasan Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Yayasan terbentuk dalam rangka haul ulama tersebut yang ke 160 kali oleh panitia pada 30 November 1967, hari kewafatan beliau yang jatuh pada 7 Syawal 1387 H/7 Januari 1968 M, diadakan di Kompleks Kubah Kalampayan, Kalimantan Selatan. Guru agama dalam keluarga ulama Banjar ini bernama Kiai Haji Muhammad Saman bin Muhammad Saleh (lahir 3 November 1919) yang telah berhasil mendirikan Yayasan Pendidikan dan Pengembangan Ilmu Makrifatullah wa Makrifatur Rasul Nurul Islam di Banjar dan sejak tahun 1972 telah berhasil mengajar dan berdakwah di negeri Sabah. Ada beberapa orang besar dan tokoh terkemuka di Sabah yang merupakan murid beliau, di antaranya ialah Datuk Mohammad Ainal bin Haji Abdul Fattah, PGDK, LLB, MBA (UMS), penyusun buku Dokumentasi Pilihan Raya Ke-11, cetakan pertama tahun 2005 yang lengkap dengan pelbagai gambar. Buku tersebut telah diterbitkan oleh Datuk Seri Abdullah Badawi, Perdana Menteri Malaysia pada hari Jumat 22 Juli 2005 di Pusat Dagangan Dunia Putera (PWTC).
Karya Tulis
Muhammad Arsyad bin Haji Muhammad Thasin al-Banjari adalah seorang ulama. Beliau juga menyebarkan Islam dengan cara berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Walaupun beliau merantau, namun sempat juga menghasilkan beberapa buah karangan. Di antaranya yang diberi judul Tajwid Fatihah. Karya beliau pula ialah Tajwid al-Quran, diselesaikan di Pontianak, hari Senin, 8 Ramadan 1347 H. Cetakan pertama kedua karya tersebut dicetak oleh Mathba'ah Al-Ahmadiah, 82 Jalan Sultan, Singapura, 29 Jumadilawal 1348 H. Menurut keterangan anak beliau, Fauzi Arsyad masih ada beberapa buah karangan Muhammad Arsyad, ayahnya, di antaranya ialah Ilmu Ushul Fiqh. Dengan sangat disesali, penulis hanya memperoleh dua judul yang tersebut di atas saja, ketika penulis menyusun buku Syeikh Muhd. Arsyad Al-Banjari Matahari Islam (1402 H/1982 M), beliau berjanji akan membongkar kitab-kitab yang ada dalam simpanan untuk mendapatkan semua karangan ayahnya, namun hingga beliau meninggal dunia karangan-karangan yang dimaksudkan gagal diperoleh.
Ilmu Ushul Fiqh termasuk salah satu ilmu yang tidak banyak ditulis dalam bahasa Melayu, Prof. Dr. Hamka menulis, "Orang pertama menulis Ilmu Ushul Fiqh dalam bahasa Melayu ialah Dr. Haji Abdul Karim Amrullah yang diberinya judul Sullamul Ushul Yurqabihi Samma'u Ilmul Ushul, selesai ditulis pukul 6.30 pagi, hari Sabtu, 24 Muharram 1333 H atau 12 Desember 1914 M di Jambatan Besi, Padang Panjang". Jika ushul fiqh karya Muhammad Arsyad bin Haji Muhammad Thasin dapat ditemui tentu kita dapat membandingkannya dengan karya ayah Buya Hamka itu. Kemungkinan karya ulama keturunan Banjar itu lebih dulu atau dalam jarak tahun yang tidak begitu jauh. Karena kedua ulama yang berasal dari Banjar dan Minangkabau itu menjalankan kegiatan pendidikan, dakwah dan penulisan adalah dalam tahun-tahun yang bersamaan.
Lahu Al-Faatihah
Sumber : Wan Mohd. Shaghir Abdullah