Friday, July 10, 2015

Sayyid Abbas Al Maliki

Beliau adalah Sayyid ‘Alawi bin ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abbas bin Muhammad al-Maliki al-Idrisi al-Hasani. Beliau adalah keturunan Idris al-Azhar bin Idris al-Akbar bin ‘Abdullah al-Kamil bin Hasan al-Mutsanna bin Hasan, putera Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fathimah al-Zahra’ binti Rasulullah SAW.


Dilahirkan di rumah al-Maliki dekat dengan Bab as-Salam pada tahun 1328H. Menghafal al-Quran ketika berusia 10 tahun dan menjadi imam sholat tarawikh di Masjidilharam. Belajar di Madrasah al-Falah dan tamat pada tahun 1346H. Kemudian menjadi tenaga pengajar di madrasah tersebut. Mengajar di halaqahnya di Masjidilharam berdekatan dengan Bab as-Salam selama 40 tahun. Juga dilantik menjadi penghulu di Mekah. Beliau wafat pada tanggal 25 Shafar 1391H dipangkuan pelayan (khadam) beliau, yaitu Tuan Guru Haji Mas’ud Telok Intan.


Al Sayyid Abbas Al Maliki, merupakan Mufti dan Qadhi Makkah dan khatib di Masjidil Haram. Beliau memegang jawatan ini ketika pemerintahan Uthmaniah serta Hashimiah, dan seterusnya terus memegang jabatan tersebut setelah Kerajaan Saudi didirikan. Raja Abdul Aziz bin Sa’ud sangat menghormati beliau.


Riwayat Hidup beliau boleh dirujuk pada kitab Nur An-Nibras fi Asanid Al-Jadd As-Sayyid Abbas oleh cucunya As-Sayyid Muhammad Al-Maliki. Keluarga Maliki merupakan salah satu keluarga yang paling dihormati di Makkah dan telah melahirkan alim ulama besar di Makkah, yang telah mengajar di Makkah sejak lama. Lima orang dari keturunan Sayyid Muhammad, telah menjadi Imam Mazhab Maliki di Haram Makkah.


Antara guru guru beliau adalah :Ayahndanya sendiri Sayyid ‘Abbas bin ‘Abdul Aziz al-Maliki;


al-Muhaddits al-Haramain Syaikh Umar Hamdan al-Mahrisi;


Syaikh Habibullah asy-Syanqiti;


Syaikh Muhammad ‘Ali bin Hussin al-Maliki;


Syaikh Jamal al-Maliki;


Syaikh al-Qurra’ Syaikh at-Tiji;


Syaikh ‘Abdullah Hamaduh;


Syaikh Hasaan as-Said as-Sanuri;


Syaikh amin Suwid ad-Dimasyqi;


Syaikh Mahmud al’Attor ad-Dimasyqi;


Syaikh Isa Rawwas;


Syaikh Salim Syafie;


Syaikh Ahmad Nadhirin;


Syaikh Muhammad al-‘Arabi at-Tabbani;


Syaikh Yahya Aman;


Syaikh Muhammad Khidir asy-Syanqiti;


Syaikh Muhammad al-Mujtaba asy-Syanqiti;


Syaikh Umar BaJunaid;


Syaikh ‘Abdul Sattar ad-Dehlawi


Selain itu beliau juga meriwayatkan ilmu, ijazah dan sanad daripada ulama keluarga Ba’Alawi (ahlul bait yang bernasabkan kepada ‘Alawi bin Ubaidullah bin Ahmad bin Isa al-Muhajir bin Muhammad bin ‘Ali al-Uraidhi bin Ja’far ash-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Hussin al-Sibth putera kepada Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fathimah al-Zahra’ binti Rasulullah SAW, antaranya:


al-Habib ‘Aydrus bin Salim al-Bar;


al-Habib Abu Bakar al-Bar;


al-Habib Abdur Rahman bin Ubaidullah as-Seggaf ;


al-Habib Alwi bin Thohir al-Haddad;


al-Habib Musthofa al-Muhdhor;


al-Habib Muhammad bin Hadi as-Seggaf;


al-Habib Umar bin Sumaith;


al-Habib Salim bin Hafidz;


al-Habib Ali bin ‘Ali al-Habsyi;


al-Habib Alwi bin Muhammad al-Haddad;


al-Habib Ali bin ‘Abdur Rahman al-Habsyi dan


al-Habib Abu Bakar as-Seggaf.


Beliau juga meriwayatkan ilmu, sanad dan ijazah daripada para ulama terkenal di zamannya, seperti: al-Imam al-Muhaddits Muhammad ‘Abdul Hayy al-Kittani; asy-Syarif ‘Abdul Hafiz al-Fasi; Syaikh Muhammad Zahid al-Kauthari; Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani; Syaikh Muhammad Bakhit al-Muti’i; Syaikh Salamah al-‘Azzami; asy-Syarif Ahmad bin Ma’mun al-Balghiti; Syaikh al-Muhaddits Muhammad Ilyas al-Kandahlawi; Syaikh al-Muarrikh al-Yamani Muhammad Zabarah, pengarang Nail al-Wator; al-Imam al-Muhaddits al-Musnid Muhammad ‘Abdul Baqi al-Ayyubi al-Madani; Syaikh Abu al-Khair al-Maidani ad-Dimasyqi; Syaikh al-Mursyid Muhammad Abu al-Nasr Khalaf al-Hims dan al-Imam al-Mursyid asy-Syarif Ahmad as-Sanusi al-Mujahid.

Keluarga Keturunan Sayyid merupakan keturunan mulia yang bersambung secara langsung dengan Junjungan kita Muhammad Sallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri. Beliau merupakan waris keluarga Al-Maliki Al-Hasani di Makkah yang masyhur yang merupakan keturunan Rasulullah Sallahu ‘Alaihi Wasallam, melalui cucu Baginda, Imam Al-Hasan bin Ali, Radhiyallahu ‘Anhum.


Keturunan beliau adalah :




  • Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki, anak

  • Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki, cucu


Kitab karangan beliau: al-‘Iqd al-Munazzam fi Aqsam al-Wahyi al-Mu’azzam; al-Manhal al-Lathir fi ahkam al-Ahadits ad-Dhoif; al-Ibanah al-Ahkam al-Kahanah; Risalah fi Ibtol Nisbah al-Qaul bi Waihdah al-Wujud li ‘Aimmah at-Tasawwuf; Risalah fi al-Ilham; Ibanatul Ahkam Syarh Bulughul Maram; Risalah al-Ahkam at-Taswir; al-Mawaiz ad-Diniyyah [himpunan ceramah beliau diradoi Saudi pada setiap pagi Jum’at]; Nailul Maram Ta’liq ‘ala ‘Umdah al-Ahkam; Fath al-Qarib al-Mujib ‘ala Tahzib al-Targhrib wat Tarhib, Diwan Syairnya. Manakala ananda beliau Sayyid Muhmmad bin ‘Alawi telah mengumpulkan sanad-sanad beliau dalam kitab al-‘Uqud al-Lu’luiyyah bi Asanid al-‘Alawiyyah; dan fatwa-fatwa beliau di dalam kitab Majmu al-Fatawa wa al-Rasail.


Sayyid Alwy tidak hanya meninggalkan ribuan murid yang tersebar di berbagai penjuru dunia Islam. Ia pun meninggalkan karya yang sangat bermanfaat. Di antara karangannya adalah Hasyiyah Faidh Al-Khabir ‘ala Syarh Manzhumah Ushul At-Tafsir, Fath Al-Qarib Al-Mujib ‘ala Tahdzib At-Targhib wa At-Tarhib, Al-Mawa’izh Ad-Diniyyah, Al-Iqd Al-Munazhzham fi Aqsam Al-Wahy Al-Mu’azhzham, Risalah Al-Manhal Al-Lathif fi Ahkam Al-Hadits Adh-Dha’if, Nail Al- Muram Ta’liq ‘ala Umdah Al-Ahkam, Syarh Bulugh Al Maram, dan kumpulan syair.


Adapun murid beliau, tidak terhingga banyaknya. Banyak di kalangan ulama Nusantara yang belajar kepada beliau di Mekah. Oleh karena itulah nama beliau tidak asing lagi di Nusantara. Salah satu muridnya adalah Hadratussyaikh Hasyim 'Asy'asri.



Kisah Kealiman Beliau


Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin–ulama Wahabi kontemporer yang sangat populer–mempunyai seorang guru yang sangat alim dan kharismatik di kalangan kaum Wahabi, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di, yang dikenal dengan julukan Syaikh Ibnu Sa’di. Ia memiliki banyak karangan, di antaranya yang paling populer adalah karyanya yang berjudul, Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, kitab tafsir setebal 5 jilid, yang mengikuti manhaj pemikiran Wahabi. Meskipun Syaikh Ibnu Sa’di, termasuk ulama Wahabi yang ekstrim, ia juga seorang ulama yang mudah insyaf dan mau mengikuti kebenaran, dari manapun kebenaran itu datangnya.




[caption id="" align="aligncenter" width="400"] Syeikh Abdur Rahman bin Sa’di duduk di tengah-tengah[/caption]

Suatu ketika, al-Imam al-Sayyid ‘Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani (ayahanda Abuya al-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki) sedang duduk-duduk di serambi Masjid al-Haram bersama halaqah pengajiannya. Sementara di bagian lain serambi Masjidil Haram tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di juga duduk-duduk. Sementara orang-orang di Masjidil Haram larut dalam ibadah shalat dan tawaf yang mereka lakukan. Pada saat itu, langit di atas Masjidil Haram penuh dengan mendung yang menggelantung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan yang sangat lebat. Tiba-tiba air hujan itu pun turun dengan lebatnya. Akibatnya, saluran air di atas Ka’bah mengalirkan airnya dengan derasnya. Melihat air begitu deras dari saluran air di atas kiblat kaum Muslimin yang berbentuk kubus itu, orang-orang Hijaz seperti kebiasaan mereka, segera berhamburan menuju saluran itu dan mengambil air tersebut, dan kemudian mereka tuangkan ke baju dan tubuh mereka, dengan harapan mendapatkan berkah dari air itu.


Melihat kejadian tersebut, para polisi pamong praja Kerajaan Saudi Arabia, yang sebagian besar berasal dari orang Baduwi daerah Najd itu, menjadi terkejut dan mengira bahwa orang-orang Hijaz tersebut telah terjerumus dalam lumpur kesyirikan dan menyembah selain Allah SWT. Akhirnya para polisi pamong praja itu berkata kepada orang-orang Hijaz yang sedang mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air Ka’bah itu,


“Jangan kalian lakukan wahai orang-orang musyrik. Itu perbuatan syirik. Itu perbuatan syirik.”


Mendengar teguran para polisi pamong praja itu, orang-orang Hijaz itu pun segera berhamburan menujuhalaqah al-Imam al-Sayyid ‘Alwi al-Maliki al-Hasani dan menanyakan perihal hukum mengambil berkah dari air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu. Ternyata Sayyid ‘Alwi membolehkan dan bahkan mendorong mereka untuk melakukannya. Akhirnya untuk yang kedua kalinya, orang-orang Hijaz itu pun berhamburan lagi menuju saluran air di Ka’bah itu, dengan tujuan mengambil berkah air hujan yang jatuh darinya, tanpa mengindahkan teguran para polisi baduwi tersebut. Bahkan mereka berkata kepada para polisi baduwi itu,


“Kami tidak akan memperhatikan teguran Anda, setelah Sayyid ‘Alwi berfatwa kepada kami tentang kebolehan mengambil berkah dari air ini.”


Akhirnya, melihat orang-orang Hijaz itu tidak mengindahkan teguran, para polisi baduwi itu pun segera mendatangi halqah Syaikh Ibnu Sa’di, guru mereka. Mereka mengadukan perihal fatwa Sayyid ‘Alwi yang menganggap bahwa air hujan itu ada berkahnya. Akhirnya, setelah mendengar laporan para polisi Baduwi, yang merupakan anak buahnya itu, Syaikh Ibnu Sa’di segera mengambil selendangnya dan bangkit menghampiri halqah Sayyid ‘Alwi dan duduk di sebelahnya. Sementara orang-orang dari berbagai golongan, berkumpul mengelilingi kedua ulama besar itu. Dengan penuh sopan dan tata krama layaknya seorang ulama, Syaikh Ibnu Sa’di bertanya kepada Sayyid ‘Alwi:


“Wahai Sayyid, benarkah Anda berkata kepada orang-orang itu bahwa air hujan yang turun dari saluran air di Ka’bah itu ada berkahnya?”


Sayyid ‘Alwi menjawab:


“Benar. Bahkan air tersebut memiliki dua berkah.”


Syaikh Ibnu Sa’di berkata:


“Bagaimana hal itu bisa terjadi?”


Sayyid ‘Alwi menjawab:


“Karena Allah SWT berfirman dalam Kitab-Nya tentang air hujan:


وَنَزَّلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۭ مُّبَرَكًۭا


“Dan Kami turunkan dari langit air yang mengandung berkah.” (QS. 50:9).


Allah SWT juga berfirman mengenai Ka’bah:


إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍۢ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَكًۭا وَهُدًۭى لِّلْعَلَمِينَ


“Sesungguhnya rumah yang pertama kali diletakkan bagi umat manusia adalah rumah yang ada di Bekkah (Makkah), yang diberkahi (oleh Allah).” (QS. 3:96).


Dengan demikian air hujan yang turun dari saluran air di atas Ka’bah itu memiliki dua berkah, yaitu berkah yang turun dari langit dan berkah yang terdapat pada Baitullah ini.”


Mendengar jawaban tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di merasa heran dan kagum kepada Sayyid ‘Alwi. Kemudian dengan penuh kesadaran, mulut Syaikh Ibnu Sa’di itu melontarkan perkataan yang sangat mulia, sebagai pengakuannya akan kebenaran ucapan Sayyid ‘Alwi:


“Subhanallah (Maha Suci Allah), bagaimana kami bisa lalai dari kedua ayat ini.”


Kemudian Syaikh Ibnu Sa’di mengucapkan terima kasih kepada Sayyid ‘Alwi dan meminta izin untuk meninggalkan halqah tersebut. Namun Sayyid ‘Alwi berkata kepada Syaikh Ibnu Sa’di:


“Tenang dulu wahai Syaikh Ibnu Sa’di. Aku melihat para polisi Baduwi itu mengira bahwa apa yang dilakukan oleh kaum Muslimin dengan mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu sebagai perbuatan syirik. Mereka tidak akan berhenti mengkafirkan orang dan mensyirikkan orang dalam masalah ini sebelum mereka melihat orang yang seperti Anda melarang mereka. Oleh karena itu, sekarang bangkitlah Anda menuju saluran air di Ka’bah itu, lalu ambillah air di situ di depan para polisi baduwi itu, sehingga mereka akan berhenti mensyirikkan orang lain.”


Akhirnya mendengar saran Sayyid ‘Alwi tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di segera bangkit menuju saluran air di Ka’bah. Ia basahi pakaiannya dengan air itu, dan ia pun mengambil air itu untuk diminumnya dengan tujuan mengambil berkahnya. Melihat tingkah laku Syaikh Ibnu Sa’di ini, para polisi Baduwi itu pun pergi meninggalkan Masjidil Haram dengan perasaan malu.


Kisah ini disebutkan oleh Syaikh Abdul Fattah Rawwah, dalam kitab Tsabat (kumpulan sanad-sanad keilmuannya).dan kisah ini sudah mendunia. Beliau termasuk salah seorang saksi mata kejadian itu.


Lalu ada cerita menarik lainnya, dikisahkan suatu hari Asy Syaikh Abbas Al-Maliki berada di Baitul Muqaddas Palestina untuk menghadiri peringatan Maulid Nabi SAW. di mana saat itu bershalawat dengan berjamaah. Saat itulah beliau melihat seorang pria tua beruban yang berdiri dengan khidmat mulai dari awal sampai acara selesai. Kemudian beliau bertanya kepadanya akan sikapnya itu.


Lelaki tua itu bercerita bahwa dulu ia tidak pernah mau mengakui acara Maulid Nabi dan ia memiliki keyakinan bahwa perbuatan itu adalah Bid'ah Sayyi'ah (bid'ah yang jelek). Suatu malam ia mimpi duduk di acara Maulid Nabi bersama sekelompok orang yang bersiap-siap menunggu kedatangan Nabi SAW ke mesjid, maka saat Rasulullah SAW tiba, sekelompok orang itu bangkit dengan berdiri untuk menyambut kehadiran Rasulullah SAW. Namun hanya ia saja seorang diri yang tidak mampu bangkit untuk berdiri. Lalu Rasullullah SAW berkata kepadanya: "Kamu tidak akan bisa bangkit!"


Saat ia bangun dari tidurnya ternyata ia dalam keadaan duduk dan tidak bisa berdiri. Hal ini ia alami selama 1 tahun. Kemudian ia pun bernadzar jika sembuh dari sakitnya ia akan menghadiri acara Maulid Nabi di mesjid dengan bershalawat. Kemudian Allah menyembuhkan nya. Ia pun selalu hadir untuk memenuhi nadzarnya dan bershalawat dalam acara Maulid Nabi SAW..


(Sumber : Kitab Al-Hady At-Tam fi Mawarid al-Maulid an-Nabawi, hal 50-51, karya Syech Muhammad Alwi Al-Maliki)


Pujian ulama kepadanya


Kata Imam al-Akbar Dr. ‘Abdul Halim Mahmud, Syaikhul al-Azhar: “……Sesungguhnya Allah telah menyinari wajahnya di atas kesungguhannya yang kuat terhadap sunnah Rasulullah SAW dalam memikul, memberi kefahaman, pengajaran, pentarbiyahan dan sebagainya jalan menuju Allah….”


Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz juga pernah memuji Sayyid ‘Alawi sebagaimana diceritakan oleh Syaikh Ahmad al-Haribi (Pemantau Majlis Pengajian di Masjidil Haram): “…. Pada suatu hari Syaikh ‘Bdul Aziz bin Baz berhenti di dalam majlis pengajian Sayyid ‘Alawi al-Maliki dan mendengar pengajaran Sayiid ‘alawi beberapa ketika. Apabila dia berpaling, Syaikh Ahmad al-Haribi bertanya pendapat Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Bin Baz tentang pengajaran Sayyid ‘Alawi al-Maliki dan dia berkata: MasyaAllah! MasyaAllah. (menunjukkan ta’jub terhadap ilmu Sayyid ‘Alawi dan pengi’tirafan keatas ketinggian ilmunya)


Syaikh Muhmmad Said al-Yamani pernah berkata kepada ayahnya Sayyid ‘Abbas al-Maliki: "Sesungguhnya anakmu ‘Alawi akan menjadi perhiasan Masjidilharam."
Syaikh Umar Khayyath berkata: Ketika kami berada di dewan rumah Syaikh ‘Ali ibn Hussin al-Maliki di dalam satu majlis, Sayyid ‘Alawi datang, lalau Sayyid ‘Ali al-Maliki berkata: Sesungguhnya anaku ini, ‘Alawi, merupakan orang yang mendapat anugerah dan ilham, di dalam percakapannya penuh dengan keindahan dan keelokkan, dia juga merupakan orang yang dikasihi ramai, semua orang suka mendengar pengajarannya dan aku adalah orang yang pertama suka mendengar kalamnya.


Setelah kewafatan beliau pada malam Rabu 25 Shafar 1391, tempat beliau diganti oleh anaknya iaitu Sayyid Muhammad, yang kemudiannya muncul sebagai ulama Mekah yang harum namanya diseluruh pelusuk dunia.Selepas kewafatan Sayyid Alawi, anaknya, Sayyid Muhammad telah menggantikan tempat beliau dalam meneruskan usaha dakwah & warisan ulama, di mana akhirnya anaknya ini menjadi ulama terkenal dan dikasihi murid-muridnya serta umat di pelusuk dunia


Riwayat hidup, syair, dan pendapat Sayyid Alwy Al-Maliki telah dikumpulkan oleh anaknya, Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam kitab khusus bernama Asyhaf Dzawi Al-Himam Al-‘Aliyyah biraf’i Asanid Walidi As-Saniyyah.


Riwayat hidup, syair, dan pendapat Sayyid Alwy Al-Maliki telah dikumpulkan oleh anaknya, Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam kitab khusus bernama Asyhaf Dzawi Al-Himam Al-‘Aliyyah biraf’i Asanid Walidi As-Saniyyah.


Semoga Allah SWT merahmati Sayyidina al-Imam ‘Alwi bin ‘Abbas al-Maliki al-Hasani. Amin.


Lahu Al-Faatihah


Diolah dari beberapa sumber