Setiap bulan Ramadhan atau puasa datang, masjid ataupun musholla selalu ramai oleh jamaah yang berbondong-bondong datang untuk memperbanyak amal ibadah. Shalat fardhu berjamaah, pengajian sambil menunggu waktu berbuka, shalat tarawih dan witir berjamaah, dan tak lupa tadarus al-quran bersama-sama. Shalat tarawih dan witir adalah amalan sunah yang tidak ditemui di bulan-bulan lain kecuali bulan Ramadhan. Setelah shalat tarawih dan witir biasanya diteruskan dengan tadarus Al-qur’an bersama-sama sambil menghidupkan mikrofon di masjid agar suaranya terdengar ke seluruh penjuru desa. Ibnu Abbas r.a., beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah saw. “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Al-hal wal murtahal.” Orang ini bertanya lagi, “Apa itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu yang membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai, Ia mengulanginya lagi dari awal.” (Hadist riwayat. Tirmidzi). Hadist diatas menyebutkan amalan tadarus Al-qur’an sangat dianjurkan, apalagi ketika memasuki bulan Ramadhan, sehingga banyak masjid menggelar tadarus Al-qur’an.[1]
Tadarus Al-quran juga dilaksanakan di Masjid Sultan Agung, tepatnya di Jl. Kaliurang km.7 Kampung Babadan Baru, Condong Catur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Tadarus Al-qur’an dilaksanakan setiap hari selama bulan Ramadhan setelah shalat tarawih dan witir. Dilaksanakan di dalam masjid, dan dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu: kelompok anak-anak, kelompok pemuda, kelompok bapak-bapak, dan kelompok ibu-ibu. Semua membaca Al-quran sesuai dengan kelompoknya di dalam satu masjid, kecuali pemuda yang membaca di masjid Mujahiddin terletak tidak jauh dari masjid Sultan Agung.
Tradisi tadarusan Al-qur’an di Masjid Sultan Agung dilakukan sejak dahulu, sewaktu masjid belum dipindahkan dari kampung lama. Hingga kini, tradisi ini masih terjaga. Selain itu, ada hal yang masih dipertahankan hingga sekarang. Walaupun bukan tradisi yang sejak dahulu, namun tradisi khataman Al-qur’an dilakukan di Masjid Sultan Agung untuk mengucapkan rasa syukur karena telah diberi karunia, rahmat, dan nikmat selama satu bulan diperkenankan khatam[2] Al-qur’an. Khataman Al-qur’an dilaksanakan di masjid Sultan Agung semenjak tahun 2003. Diawali dengan tadarus/membaca Al-qur’an setiap hari pada bulan Ramadhan, kemudian diakhiri dengan khataman Al-qur’an pada satu atau dua hari menjelang hari raya Idul Fitri.
Pada tahun 2015 ini, Ramadhan 1436 H, Masjid Sultan Agung masing-masing jamaahnya mengakhatamkan Al-qur’an dengan berbeda-beda. Jamaah ibu-ibu khatam Al-quran sebanyak 10 kali, bapak-bapak 6 kali, sedangkan untuk anak-anak dan pemuda 1 kali. yang merupakan keseluruhan dalam satu bulan Ramadhan. Untuk khataman dilaksanakan bersama-sama pada tanggal 14 Juli 2015, atau pada 27 Ramadhan selepas shalat tarawih dan witir. Khataman ini kemudian menjadi agenda tahunan Masjid Sultan Agung, disamping khataman pada bulan ruwah akhiru sunnah yang biasa diselenggarakan mendekati acara nyadran[3].
Acara khataman berlangsung dengan khusyuk dan hikmat, dihadiri oleh masyarakat sekitar, masyarakat Babadan Baru. Seluruh jamaah bersama-sama membaca surat-surat pendek menuju khatam Al-quran, diawali dengan surah ad-dhuha sampai khatam an-nas. Hal yang paling menarik perhatian ketika para jamaah membacakan surat-surat pendek, ada 3 baskom yang lumayan besar berada di depan jamaah. Baskom tersebut berisikan 3 ekor ayam kampung yang sudah dimasak. Khataman yang berarti menyelesaikan membaca Al-qur’an juga dimaknai mengucap syukur kepada Allah SWT. Tradisi masyarakat Jawa ketika menyelenggarakan syukuran dengan menyajikan makanan berupa ayam kampung jantan yang sudah dimasak opor. Hal ini sudah dilakukan secara teratur dari tahun ke tahun.
Ayam kampung jantan atau yang sering disebut dengan ingkung mempunyai makna dalam bagi masyarakat Jawa. Ingkung mempunyai makna manekung yang artinya menyembah kepada Allah SWT Sang Pencipta alam dunia beserta isinya. Ritual menyembah kepada sang pencipta disimbolkan dengan ayam kampung yang selalu mengayun-ayunkan kepala ke atas dan ke bawah ketika berkokok, dan saat posisi ketika dihidangkan juga manekung. Proses menyembah kepada Allah SWT dilakukan secara wening atau hati yang tenang. Menyembelih ayam kampung Jantan atau ingkung dapat diilustrasikan sebagai simbol menghindari sifat-sifat buruk yang terdapat pada ayam jantan. Contohnya congkak, sombong, merasa menang sendiri, tidak setia dengan anak istri, dan mudah sekali marah.[4] Sifat-sifat ini yang selalu ada pada ayam kampung jantan. Selain sebagai santapan saat khataman, makna yang dalam juga terkandung didalam perangkat-perangkat acara khataman.
Teman sejati ingkung yaitu nasi gurih atau sering disebut nasi uduk. Nasi gurih dihidangkan dengan kuah opor, kemudian ingkung yang sudah di doakan didepan jamaah tadi dimakan bersama-sama seluruh jamaah yang hadir. Kebersamaan memakan makanan tersebut masih sangat terjaga. Tidak menggunakan sendok, namun menyantap dengan menggunakan tangan, para jamaah memakan nasi gurih opor ingkung dengan lahap. Tidak lupa pada waktu itu juga disediakan nasi gudangan[5] yang dihidangkan dalam rangka tasyakuran khataman. Sehingga setiap warga masyarakat terkadang tidak melewatkan khataman Al-qur’an pada bulan Ramadhan, karena sembari menyantap masakan yang jarang sekali dihidangkan, namun juga mengharapkan berkah dan nikmat di bulan Ramadhan.
Seluruh makanan yang dihidangkan di Masjid Sultan Agung merupakan sumbangan dari masjid sendiri, dan beberapa dari masyarakat. Keseluruhan makanan dimasak oleh ibu-ibu takmir Masjid Sultan Agung. Hal ini yang menjadikan masakan memiliki cita rasa yang terjaga dari tahun ke tahun, sehingga masyarakat selalu datang memenuhi masjid guna mendapatkan makanan sembari mengucap syukur kepada Allah SWT. Tradisi yang sudah dilakukan sejak tahun 2003 ini, harapannya akan terus dilaksanakan hingga turun temurun sesuai tradisi masyarakat dan selama tidak melenceng dari syariat agama Islam.
Daftar pustaka
Wawancara dengan Bapak Muh. Suryadi (54 tahun)
foto dokumen pribadi.
[1] http://www.dakwatuna.com/2007/04/17/158/keutamaan-mengkhatamkan-al-quran/#ixzz3gJPX0JQQ diakses tanggal 19 Juli 2015.
[2] Khatam adalah tamat; selesai; habis: dalam artian menyelesaikan membaca Alquran sampai habis dari jus 1-30. http://kbbi.web.id/khatam-2, diakses tgl 19 juli 2015.
[3] Nyadran adalah salah satu tradisi masyarakat Jawa ketika mendekati bulan Ramadhan mengunjungi makan untuk mendoakan arwah leluruh.
[4] Wawancara dengan bapak Suryadi 54 tahun, takmir masjid Sultan agung pada tanggal 14 juli 2015 pukul 22.00.
[5] nasi gudangan adalah nasi berisikan sayuran mentah terdiri dari terancam, kacang panjang, kubis, dan bumbu berupa parutan kelapa yang sudah dimasak dengan bumbu-bumbu.