Sunday, October 25, 2015

Takjil Gule Kambing Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

Marhaban ya Ramadhan, bulan suci Ramadhan penuh berkah yang selalu dinanti-nanti oleh semua masyarakat Islam di dunia, khususnya di Indonesia telah kembali datang. Masyarakat Islam menanti-nanti bulan penuh ampunan ini, tak lupa berbagai persiapan untuk menyambut bulan Ramadhan. Banyak pula kegiatan yang berkaitan dengan tema keagamaan disiapkan oleh berbagai pihak, terutama oleh takmir-takmir masjid di seluruh penjuru Indonesia. Salah satunya di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, terletak di sebelah barat keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, kampung Kauman kecamatan Gondomanan, tepat di pusat kota Yogyakarta.



            Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta tak ubahnya sepeti masjid lainnya, sama halnya dengan masjid gede atau masjid raya di tiap kota. Masjid ini memiliki sejarah panjang, sepanjang sejarah berdirinya kota Yogyakarta. Masjid Gedhe atau sering disebut masjid Agung Yogyakarta tidak terlepas dari sosok Sultan Hamengku Buwono I, yaitu sultan Ngayogyakarta Hadiningrat pertama sekaligus pendiri kota Yogyakarta dan pemrakarsa berdirinya masjid Gedhe. Bersama dengan Kyai Penghulu Faqih Ibrahim Diponingrat, Sultan Hamengku Buwono I membangun masjid gedhe di area pemukiman masyarakat kauman. Sultan juga memerintahkan Kyai Tumenggung Wiryokusumo sebagai arsitek masjid ini. Tepat pada tanggal 29 Mei 1773 (dalam prasasti: Pada hari Ahad Wage, 6 Robiul’akhir tahun Alip, sengkalan[1] :“gapura trus winayang jalma” (1699 Jawa,1187 Hijriyah, dan 1773 Masehi) masjid Gedhe kauman mulai dibangun.[2]



            Arsitektur Masjid Gedhe Kauman Jogjakarta merujuk pada bangunan tradisional Jawa, yaitu beratap tumpang tiga, dengan mustaka menggambarkan daun kluwih dan gadha. Arti makna atap tumpang tiga ialah tahapan kehidupan manusia dari Hakekat, Syari’at, dan Ma’rifat. Kemudian makna daun kluwih adalah linuwih yaitu punya kelebihan yang sempurna, dan gadha berarti tunggal atau menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Makna keseluruhan maknanya ialah bila manusia sudah sampai Ma’rifat, hanya menyembah kepada Allah SWT, yang Tunggal (taukhid), maka manusia itu punya kelebihan kesempurnaan hidup. Dengan demikian siapa saja yang ikhlas ke masjid untuk ibadah kepada Allah SWT, maka akan selamat dunia akhirat.


            Keunikan lainya ketika bulan puasa atau bulan pasa yaitu ketika pengurus masjid Gedhe menyiapkan takjil berbuka untuk jamaah masjid yang datang. Layaknya seperti masjid lainnya, pengurus masjid Gedhe menyiapkan tidak kurang 1000 porsi makan dan minum untuk para jamaah masjid ketika berbuka. Antusiasme masyarakat dari berbagai tempat untuk dapat merasakan berbuka di masjid ini sangat luar biasa. Hidangan takjil yang disiapkan oleh pengurus masjid selalu habis dibagikan kepada jamaah. Bahkan ada kalanya masyarakat yang datang terakhir mendekati waktu berbuka tidak kebagian takjil.



            Ada satu waktu dalam seminggu pengurus masjid Gedhe menyediakan hidangan yang berbeda, yaitu nasi gulai kambing. Menu ini sebenarnya biasa dihidangkan ketika takjil di beberapa masjid seperti biasanya, namun di masjid Gedhe menu nasi gulai kambing ini selalu dihadirkan setiap hari kamis.[3] Menu berbuka nasi gulai kambing ini ternyata sudah turun temurun semenjak puluhan tahun. Menurut Bapak Prayudi sambil bercerita “Kira-kira tahun 1970an ada seorang warga yang merayakan aqiqah puteranya di masjid Gedhe ketika itu bulan ramadhan, dan perayaan aqiqah tersebut digunakan untuk buka puasa di masjid Gedhe, semenjak itulah masjid gedhe selalu menyiapkan takjil gulai kambing dalam seminggu.” Sedangkan menurut Bapak Prayudi tidak diketahui secara pasti pemilihan hari kamis ketika menu nasi gulai kambing disediakan, namun jika dilihat dari pemilihan hari bahwa kamis sore sudah memasuki hari Jum’at menurut penanggalan Islam, dan Jum’at adalah hari baik. Sehingga pemilihan hari kamis memasuki hari jum’at adalah mengharap kebaikan yang lebih, walaupun semua hari itu baik.



            Pengurus Masjid Gedhe kauman Yogyakarta menyediakan takjil dengan menu gulai kambing sebanyak 1300 porsi. Berbeda dengan hari-hari biasa, ketika hari kamis porsi Takjil diperbanyak menjadi 1300 dari biasanya 1000 porsi. Dikarenakan masyarakat yang datang pada hari tersebut lebih banyak, dan masjid penuh sesak. Sedangkan dana yang digunakan untuk takjil berasal dari sumbangan masyarakat. Masyarakat yang ingin bersedekah, biasanya akan menanggung semua dana Takjil dalam sehari, ataupun dengan berombongan.


Menurut Bapak Prayudi, “dulu ketika awal-awal menu gulai kambing ini dihidangkan ke masyarakat untuk berbuka puasa, menu gulai kambing tersebut dimasak sendiri oleh ibu-ibu sekitar masjid”. Hal ini karena dahulu jamaah masjid belum banyak seperti sekarang saat datang untuk berbuka. Kini seluruh menu Takjil dipesan melalui katering yang terdiri lebih dari satu perusahaan catering. (Eko Ashari)



Sumber:


Wawancara dengan takmir masjid Gedhe bapak Prayudi umur 51 tahun, pada 2 Juli 2015 pukul 18.00


http://adabydarban.blogspot.com/2009/09/masjid-gedhe-kauman-jogjakarta.html










[1] Sengkalan sering dengan chronogram. Artinya, tulisan/pernyataan yang mengandung makna angka tahun. Meski demikian, sengkalan tidak terbatas pada tulisan, tetapi juga pada gambar. Sengkalan bentuk gambar biasanya terdapat pada bangunan candi atau istana. Sengkalan yang berbentuk tulisan biasanya termaktub dalam naskah Jawa kuna.




[2] http://adabydarban.blogspot.com/2009/09/masjid-gedhe-kauman-jogjakarta.html




[3] Wawancara dengan takmir masjid bapak Prayudi umur 51 tahun, pada 2 Juli 2015 pukul 18.00.