Monday, November 9, 2015

KH. Nawawi Jagalan Mojokerto

KHKH Nawawi lahir di Dusun Les Padangan Desa Terusan Kabupaten Mojokerto pada tahun 1886. Beliau adalah putra dari pasangan Munadi dan Khalimah. Beliau merupakan pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU) pertama kali di Mojokerto, Jawa Timur.


Ia lulusan Hollandsch Inlandsche School Partikelir (HIS-P) atau setingkat SD. Semasa remaja, Kiai Nawawi pernah menjadi santri Hadratussyiakh KH. Hasyim Asy'ari di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Selain itu, pernah menjadi santri KH. Qosim Siwalan Panji Buduran Sidoarjo, serta KH. Sholeh Mojosari, KH. Zainuddin, Mojosari Nganjuk dan KH. Kholil Kademangan Bangkalan.


Kiai Nawawi aktif dalam organisasi keagamaan dan pertama kali mendirikan organisasi NU di Mojokerto pada tahun 1928. Beliau juga menjadi komandan laskar Sabilillah dan turun langsung memimpin pergerakan melawan penjajah di wilayah pergerakannya yakni di Mojokerto, Kedamean Gresik, Sepanjang dan Sukodono Sidoarjo. Saat itu KH Nawawi memimpin peperangan usai diminta Walikota Surabaya Rajiman Nasution Gelar Sutan Komala Pontas. Hal itu dikarenakan beliau dikenal ulama yang berpengaruh pada waktu itu, salah satu karomahnya adalah tidak bisa ditembus peluru.




[caption id="" align="aligncenter" width="486"] Danrem 082/CPYJ Kolonel Czi Suparjo berkesempatan memimpin ziarah Qubro ke makam Syuhada Kemerdekaan KH. Nawawi yang diikuti oleh unsur – unsur Forpimda kota Mojokerto, para Kepala Sekolah, Guru Sejarah, Guru Agama, para Rektor dan Dosen Universitas se kota Mojokerto bersama para pengurus Ormas, Organisasi Kepemudaan, Pondok pesantren dan keluarga serta kerabat Almarhum KH. Nawawi.[/caption]

Kala Kiai Nawawi memimpin peperangan melawan Belanda, usai kota Surabaya jatuh ke tangan Sekutu, setelah peristiwa 10 Nopember 1945, Kiai Nawawi gugur pada 22 Agustus 1946 saat dikeroyok pasukan Belanda dengan menancapkan empat tusukan pisau bayonet tepat di lehernya.  Beliau gugur di Dusun Sumantoro Desa Plumbungan Sukodono. Jenazahnya ditandu oleh pasukan laskar Sabilillah menuju rumah duka di Kelurahan Jagalan Kecamatan Magersari Kota Mojokerto tepatnya di Ponpes Tarbiyah Tahfidzul Qur’an An Nawawi, di Jl Gajah Mada 118 Kota Mojokerto. Beliau akhirnya dimakamkan di pemakaman umum Desa Losari Gedek Kabupaten Mojokerto.


Jenazah KH Nawawi terpaksa dibawa berjalan kaki melalui jalan berliku hingga akhirnya tiba di rumah KH Nawawi di Mojokerto. Sebab tentara Belanda tidak menginginkan jenazah KH Nawawi dibawa pulang menuju Mojokerto. Butuh perjuangan, karena tentara Belanda berusaha menghadang jenazah KH Nawawi agar tidak dibawa ke Mojokerto.  Dan anehnya lagi, saat membawa jenazah yang sudah berhari-hari itu mengeluarkan darah segar, tanda-tanda amal jihadnya diterima oleh ALlah SWT. Tempat meninggalnya KH Nawawi, diabadikan dengan peluru yang masih menancap di semen. Jenazah KH Nawawi sendiri setelah tewas di Plumbungan.




Dengan prinsip yang tertanam dalam dada beliau “Pahlawan Perang Tak Akan Pernah Mati” semoga kita bangkit dan terbangun ruhul jihad, berjuang demi Agama, Bangsa dan Negara.


Lahu Al-Faatihah