Sunday, November 15, 2015

Kisah heroik pendekar wanita Banten, Nyimas Gamparan dan Nyimas Melati

Banten dikenal banyak memiliki jawara alias pendekar sejak zaman penjajahan. Salah satu yang menarik adalah kisah pendekar wanita asal Banten, Nyimas Gamparan dan Nyimas Melati. Siapa keduanya?


Pasca perang Banten dan gerilyanya Sultan Ageng Tirtayasa di daerah hutan pinggiran Bogor, Sajera (1683) hingga tertipu oleh utusan keluarga keraton Surosowan atas permintaan anaknya, Sultan Haji. Sekenario selanjutnya, ditangkap dan meninggal dalam penjara Kompeni Belanda, Benteng Batavia (1692). Perjuangan menghadapi penjajah di Bumi Banten tidak begitu saja pupus. Diantaranya, perang dengan milisi pimpinan Nyimas Gumparo/ Nyimas Gamparan (1829-1830).


Nyimas Gamparan dikenal dalam perang Cikande. Perang tersebut terjadi sekitar tahun 1829 hingga 1830. Perang tersebut terjadi lantaran Nyimas Gamparan yang memimpin 30 pendekar wanita menolak Cultuurstelsel (1830) yang diterapkan Belanda kepada penduduk pribumi.


Nyimas Gamparan dan puluhan prajurit wanitanya menggunakan taktik perang gerilya untuk menghadapi pasukan Belanda. Perang Cikande, Rangkas, Serang hingga ke Pandeglang pun tak terelakan. Serangan-serangan dilakukan Nyimas Gamparan beserta pasukannya. Korban dari kedua belah pihak pun tak terelakan. Pasukan Nyimas Gamparan ini memiliki markas persembunyian di wilayah yang kini disebut Balaraja.


Konon penamaan Balaraja berasal dari pasukan Nyimas Gamparan. Balaraja, tempat singgah para raja (Asal kata Balai dan Raja) dan juga yang menyebutkan tempat berkumpulnya Bala (teman) tentara Raja.


Serangan demi serangan yang dilakukan oleh pasukan Nyimas Gamparan membuat Belanda sangat kerepotan. Berbagai cara pun dilakukan untuk menumpas pasukan Srikandi pimpinan Nyimas Gamparan. Disebutkan Kompeni Belanda pada waktu itu telah banyak mengalami kerugian dan kebangkrutan.


Pasukan Nyimas Gamparan tidak mudah ditumpas oleh pasukan Kompeni Belanda. Kenyataannya, pasukan wanita ini mampu bertahan menghadapi serangan pasukan pengalaman perang. Adapun keunggulannya antara lain: Pertama, Pasukan wanita ini tangguh di medan perang (salah satu menyebutkan sakti-sakti mandraguna). Yang kedua, pasukan Nyimas Gamparan menguasai medan perang gerilya di teritorialnya.


Ada satu daerah yang menjadi persembunyian orang-orang Balaraja ketika zaman ngeli (hijrah) yakni di Desa Kubang Kec. Sukamulya (Pemekaran Kec. Balaraja). Banyak diyakini oleh orang Balaraja bahwa jika ngeli ke daerah tersebut susah dilacak oleh tentara penjajah. Diperkirakan tempat penyumputan (persembunyian) Nyimas Gamparan di daerah tersebut. Sebab daerah ini letaknya berada jauh di pedalaman.


Kalau kita bentangkan garis lurus, Kubang wilayahnya cukup jauh dari proyek Jalan Anyer-Panarukan juga diapit antara Sungai Cidurian dan Cimanceuri. Sehingga transportasi penyerangan bisa dilakukan dari berbagai arah. Selanjutnya, dulu masih banyak peninggalan patung pejuang dan makam tua yang mengarah pada pejuang Banten.


Selain itu, akses dari jalan Anyer-Panarukan (kota Balaraja) menuju Kubang harus melewati hutan lebat (yang sekarang menjadi Kampung Leuweung Gede). Disebelah hutan itulah didirikan barak pasukan yang belakangan disebut Pondok Gede atau rumah besar.


Belanda lalu menggunakan politik devide et impera. Raden Tumenggung Kartanata Nagara yang menjadi Demang di wilayah Jasinga, Bogor diminta bantuan untuk menumpas milisi Srikandi ini. Tumenggung Kartanata diiming-imingi bakal dijadikan penguasa di daerah Rangkasbitung.


Pasukan Ki Demang inilah yang kemudian diadu dengan Pasukan Nyimas Gamparan. Akibat perang yang berkepanjangan pasukan Nyimas Gamparan yang bergerak dari Balaraja-Cikande menuju Rangkasbitung dapat diperdaya saat perang Pamarayan oleh pasukan Kartanata Nagara. Taktik Belanda ini rupanya cukup ampuh. Nyimas Gamparan akhirnya berhasil dikalahkan oleh pasukan Kartanata Nagara. Nyimas Gamparan pun disemayamkan di daerah Pamarayan, Serang-Banten.



Kisah Nyimas Melati juga tidak kalah heroik dalam upaya melawan segala bentuk penjajahan di wilayah yang kini disebut Banten. Bahkan Nyimas Melati tercatat sebagai pahlawan wanita dalam sejarah perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia di wilayah Tangerang.


Nama Nyimas Melati kini diabadikan sebagai nama sebuah Gedung Wanita Nyi Mas Melati di Jalan Daan Mogot di mana terdapat kantor sekretariat TP PKK Kota Tangerang dan nama sebuah Jalan Nyi Mas Melati dimana berdiri gedung Kantor KPUD Kota Tangerang.


Kisah perjuangan Nyi Mas Melati dalam melawan penjajahan kompeni juga pernah beberapa kali dipentaskan dalam bentuk drama kolosal di era tahun 80-an.


Menurut beberapa catatan literatur sejarah, Nyimas Melati adalah anak perempuan dari Raden Kabal yang turut dalam perjuangannya melawan penjajahan Belanda. Sekitar tahun 1918, Tangerang saat itu dikuasai sekelompok tuan tanah yang mendapat dukungan dari pemerintahan kolonial.


Partikelir antara tahun 1921-1930 di Distrik Blaradja, seperti Blaradja en Boeniajoe, Tigaraksa, Tjikoeja, Karangserang dalem of Kemiri, Pasilian, Djenggati, Tjakoeng of Kresek. Adapun di Distrik Tangerang, diantaranya tjikokol tg., Panunggangan, Pondok Djagoeng, Paroengkoeda, Batoe Tjeper, Tanah Kodja, dan lain-lain. Sedangkan di Distrik Maoek antara lain: Kramat en Pakoeadji, Sepatan, Teloeknaga, Ketapang Maoek, Rawakidang, Kampoeng Malajoe, Pekadjangan, Tegalangoes, Bodjong Renget, Ketos dan lain-lain. Hampir semua tanah dikuasai Tuan Tanah.


Mereka, dengan dukungan kompeni, menguasai berbagai sendi kehidupan masyarakat bidang sosial, ekonomi hingga budaya. Karena terjadi tekanan, pemerasan dan pemaksaan sehingga membuat kehidupan rakyat pada masa itu sangat menderita.


Pemberontakan-pemberontakan rakyat pun akhirnya meletus, salah satunya pemberontakan yang dipimpin oleh Raden Kabal. Nyi Mas Melati, puteri R Kabal pun tidak mau tinggal diam dan turut dalam pertempuran melawan pasukan penjajah.


Pasukan Raden Kabal sering mengadakan penghadangan di daerah-daerah Tangerang. Dalam pertempuran melawan Kompeni Belanda, Sang Raden dibantu oleh Nyimas Melati dan Pangeran Pabuaran Subang.


Salah satu pertempuran yang tercatat adalah pertempuran Pabuaran Subang yang dijadikan tempat gugurnya Pangeran Pabuaran dari Subang saat perang dengan Kompeni. Keberanian Nyimas Melati sangat terkenal. Nyimas juga dikenal jago dalam hal ilmu bela diri maupun olah kanuragan. Nyimas Melati dijuluki Singa Betina.


Keberanian Nyimas Melati terkenal akan ketangguhannya dalam ilmu bela diri maupun olah kanuragan. Konon, kesaktiannya menjadi tuturan para orang tua tempo doeloe. Saat bentrok pasukan terjadi di daerah perbatasan Balaraja. Sambil mengacungkan centong (baca: keris) berteriak lantang “Serang…!” pasukan Kompeni yang dibantu Cina pro Kompeni langsung ciut nyalinya. Suaranya, yang menggelegar meluluhlantakan semangat pasukan lawan. Bahkan diceritakan burung-burung yang mendengar teriakannya beterbangan karena gaungannya. Nyimas Melati laksana Singa Betina ketika menyerang musuh-musuhnya kebenaranianya tercatat dalam benak para orang tua dahulu. Sehingga untuk mengubur jejak kepahlawanannya Nyimas Melati akhirnya dimakamkan dibanyak tempat, diantaranya di Desa Bunar Kec. Sukamulya (pemekaran Balaraja), Tangerang Barat.


Al-Faatihah


Sumber : tangbar.wordpress.com ; merdeka.com