Tuesday, December 15, 2015

GUS MIEK DAN NADZOM ALFIYYAH

Di madrasah, Gus Miek hanya sampai kelas per­tengahan Alfiyah. Kelas Alfiyah merupakan kelas hapalan yang terkenal rumit. Ada satu kisah menarik di sini.


Beberapa hari sebelum ujian hafalan Alfiyah. Gus Miek mengajak Khoirudin berjalan-jalan keliling kota.


“Gus, besok saatnya setoran hapalan Alfiyah, apakah kamu sudah siap?” tanya Khoirudin ketika dalam sebuah perjalanan.


“Aku sudah hafal. Lha kamu Mas Din?” Gus Miek balik bertanya.


“Aku juga hapal,” jawab Khoirudin berbohong.


“Sekarang bermain saja, Mas Din. Urusan besok gampang.”


Esok hari tiba. Saat setor hapalan dimulai, semua murid dipanggil satu per satu. Khoirudin mendapat giliran lebih dahulu. Khoirudin gugup bukan main karena dia belum hafal sampai seribu bait.


Khoirudin melirik Gus Miek seolah menghendaki isyarat tertentu. Gus Miek menatapnya tajam dan bibirnya berkomat- kamit, meski tak kedengaran.


Anehnya, tanpa sadar bibir Khoirudin menirukan bibir Gus Miek hingga Alfiyah yang seribu baris itu dirampungkannya. Sang guru tak menyadari kejadian itu.


Setelah ujian usai, Khoirudin berterima kasih kepada Gus Miek atas bantuan jarak jauhnya itu. Dia dinyatakan lulus.


Se­lanjutnya, giliran Gus Miek, dan beliau pun berhasil me­lampaui ujian itu dengan mengagumkan.


Memang, sejak kecil Gus Miek terbiasa selalu bertanggung jawab terhadap kepentingan dan nasib orang-orang yang dekat dengannya atau yang sering diajaknya bepergian, juga orang-orang yang pernah membantunya. Sebagaimana kisah Khoirudin di atas.


Lahu Al-Fatihah


Sumber : H. Hafidz, Jatinom, Blitar