Friday, December 18, 2015

Sekaten dan Pelanggam-Jawaan

Bila hendak mencaritahu hubungan muslim di Jawa dengan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, saksikanlah tradisi sekaten yang setiap tahun digelar di alun-alun utara Karaton Yogyakarta. Bentuk acaranya memang serupa pasar malam. Tapi latarbelakangnya tiada lain hanyalah kecintaan pada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Di berbagai belahan dunia, belum ditemukan acara peringatan Hari Ulang Tahun terpalingdahsyat, terpalingmeriah, dan terpalinglama hingga sebulan lebih, selain tradisi perayaan Ulang Tahun Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW tersebut. Begitulah cinta kaum muslim Jawa pada nabinya. Begitulah orang Jawa ber-Muhammad.


Berdasarkan cerita populer di sekolahan, "sekaten" itu ungkapan Jawa atas kata “Syahadatain (dua kalimat syahadat)". Sebenarnya itu kurang tepat. Sebab huruf "Ha" dalam kata "SyaHadatain" itu bukan "Ha kecil", yang biasanya oleh orang Jawa akan dialih-ucap menjadi "Ka" seperti dalam kata "isHak", yang dialih-ucap menjadi "Iskak". Ada makna awal "sekaten" yang jarang atau luput diperpahamkan, bahkan oleh orang Jawa sendiri, yaitu "sekaten" yang berasal dari istilah "sekati(an)".


"Sekati" itu sendiri asalnya dari dua kata: seseking ati. Artinya; sarat, penuh, dan menggumpalnya sesuatu di dalam hati. Bisa berupa asmara. Bisa pula berupa duka. Bila berupa asmara, maka "sekaten" adalah bahasa untuk menumpahkan berkubik-kubik kerinduan, bergantang-gantang cinta, dan berkulit-kulit kegilaan pada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Bila berupa kesesakan, kepiluan, "sekaten" adalah kosakata untuk membahasakan betapa sakit, prihatin, dan perihnya lahir-batin seorang Muhammad SAW tatkala ia diharuskan untuk menyebarkan rahmat bagi sekalian alam.


Bagaimana bila kesesakan-hati Kanjeng Nabi diungkapkan dalam nada dan irama? Seminggu sebelum tanggal 12 Rabi'ul Awal, adalah hari "miyos gangsa" atau keluarnya Gamelan Kyai Gunturmadu dan Nyai Nagawilaga. Kalau di Kasunanan Surakarta namanya Kyai Gunturmadu dan Nyai Guntursari. Nagawilaga dan Gunturmadu adalah gamelan pusaka yang dibunyikan sejak 7 hari sebelum 12 Rabiulawal, sebagai sambutan pada maulid Kanjeng Nabi Muhammad SAW.


Keduanya dibunyikan sejak pagihari sampai sekira menjelang maghrib atau bakda ashar. Kyai Gunturmadu diletakkan di ruangan bagian Timur sebelah Utara (pagongan lor) Masjid Gedhe Kauman, dan Nyai Nogowilogo diletakkan di bagian Timur sebelah Selatannya (pagongan kidul). Upacara pembunyian gamelan itu, di sisi lain, merupakan narasi tentang proses turunnya al-Quran. Para wali menganggitnya sebagai sebuah tradisi yang diwariskan hingga kini.


“Gunturmadu” artinya bunyi ngongeng-ngongeng lebah yang mengganggu sunyi seorang penyendiri, dalam hal ini Nabi Muhammad SAW yang sedang bertahannuts di Gua Hira. Sementara “Nogowilogo” artinya bunyi gemerincing kulit naga. Keduanya merupakan simbolisasi turunnya bebunyian suara Tuhan, yaitu al-Quran.


Memang, al-Quran paling sering sampai kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW dalam rupa “bunyi”. Seperti termaktub dalam hadits nomor 2 Kitab Bad-i-l Wahyi dalam Shahih Bukhari: Suatu ketika, al-Harits bin Hisham bertanya; wahai Rasulullah, bagaimana wahyu itu sampai padamu? Ia menjawab; kadang-kadang seperti bunyi lonceng, dan itu sesuatu paling dahsyat yang sampai pada saya, kemudian lenyap dan saya dapat mengulangi apa yang dikatakan. Kadang-kadang Malaikat hadir dalam jelmaan manusia dan berkata pada saya dan saya dapat memahami apa yang dikatakan.


Nantinya, pada malam 12 Rabiul Awal, biasanya di Masjid Gedhe Kauman juga, kepada Sultan Karaton Yogyakarta akan dibacakan Kitab Maulid al-Barzanji. Tentu dengan laras atau langgam atau lagu Jawa. Pada zaman para wali sanga dulu, bila kitab maulid, terlebih-lebih lagi al-Quran dibaca dengan laras Jawa, itu artinya tindakan tersebut betul-betul dipersembahkan ke hadirat Penguasa Jagad Raya dan kekasihnya. Tidak yang lain. Entah pakai metrum Dhandanggula, Pangkur, Megatruh, Mijil, Sinom, terserah.


Intinya, tindakan pelanggam-jawaan kitab mawlid dan al-Quran merupakan amal keramat, yang terkadang dapat menggegerkan jagad raya. Tapi, mau bagaimana lagi?! Begitulah para wali, para ratu, dan orang-orang saleh di kala itu memesrai junjungannya, Kanjeng Nabi Muhammad SAW.


Allahumma sholli ngala sayyidina Muhammad, wa ngala ali sayyidina Muhammad, wa barik wa sallim ajmangin. Wallahu a'lam.


Sumber : Yaser Muhammad Arafat