Suatu ketika Abuya Sayyid Muhammad Alawi rahimallahu pernah bercerita.
Dikisahkan bahwa ada orang Turki yang bekerja di Makkah untuk mencari rizqi demi mencukupi kebutuhan keluarganya,selama bertahun-tahun ia meninggalkan Turki dan bermukim di Makkah dan tinggal disebuah kontrakan tanpa seorang istri dan anak-anaknya. Sehingga lama kelamaan ia merasa kesepian, dan ia bertekat untuk menabung supaya dia bisa mendatangkan istri serta anak-anaknya ke Makkah untuk bisa melaksanakan ibadah umroh, namun jika tabungannya tidak mencukupinya maka terpaksa ia akan mendatangkan istrinya saja.
Walhasil dengan semangatnya menabung akhirnya berhasil juga mendatangkan istrinya ke Makkah sekaligus menunaikan ibadah umroh, dengan rombongan jamaah umroh dari Negaranya ( Turki ).
Akhirnya mereka berdua sudah bertemu ,dengan rasa rindu yang tidak bisa terbendung. maka ketika itu sangatlah wajar jika dia mempunyai naluri rasa ingin mencumbui istrinya,padahal sang istri harus bergabung dengan jamaah lainnya, sehingga muncullah ide untuk menyewa hotel yang hanya untuk mereka berdua. Maka mulailah mereka berdua mendatangi hotel disekitaran Masjidil Harom, akan tetapi pada saat itu tidak ada hotel yang kosong, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk tetap mencari tempat demi memuaskan kebutuhan batinnya, setelah menelusuri kota Makkah maka mereka mendapati sebuah mushola kecil yang sepi yang letaknya disekitaran pasar yang ramai. Tanpa berfikir panjang mereka lalu memasuki sebuah kamar yang ada dimushola tersebut, walaupun kamar tersebut penuh dengan alat-alat pengeras suara. Maka disitulah mereka melepas rasa rindu serta melepaskan hasratnya.
Akhirnya waktu dzuhur menjelang tiba, disaat itulah sang muadzin datang untuk mengumandangan adzan, karena kamar tidak dikunci dan hanya ditutup saja, maka dengan mudah sang muadzin membuka pintu tersebut, akan tetapi ketika tahu bahwa didalam kamar tersebut ada dua insan yang berlainan jenis sedang berkasmaran maka sang muadzin tersebut berkata “ Iman Ma fii…, Akhlak ma fii…, haya’ Ma fii.., ( Tidak punya Iman, tidak punya akhlak, tidak punya malu ) “.
Namun si pekerja ( Turki ) tersebut menjawab :” Kulluh fii, bas mahal ma fii..( Semuanya punya, hanya tempat saja yang tidak punya ) “
Maksud semuanya punya adalah, dia punya iman,punya akhlak, punya rasa malu, namun mereka berdua tidak punya tempat untuk melampiaskan nafsunya yang halal.
Disarikan dari : KUMPULAN KISAH-KISAH INDAH DAN LUCU ( Petikan dari Ta'lim Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki )