Wednesday, December 30, 2015

Wajihuddin ‘Abdur Rahman Ad-Diba’i (Pengarang Maulid Ad-Diba’i)

[caption id="" align="alignleft" width="273"] Makam Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Yusuf bin Ahmad bin ‘Umar ad-Diba’ie asy-Syaibani Al-Yamani Az-Zabidi Asy-Syafi’i[/caption]

Ad-Diba’i Satu karya maulid yang masyhur dalam dunia Islam ialah maulid yang dikarang oleh seorang ulama besar dan ahli hadits yaitu Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Yusuf bin Ahmad bin ‘Umar ad-Diba’ie asy-Syaibani Al-Yamani Az-Zabidi Asy-Syafi’i.


Mengenai profil Ad-Diba’I disebutkan dalam kitab Maulid al-Hafidz ibn al-Daiba’i, karya Sayyid ‘Alawi al-Maliki bahwa ia adalah:


هووجيه الدين عبدالرحمن بن علي بن محمد الشيباني اليمني الزبيدي الشافعي (المعروف بابن الديبع , والديبع بمعنى الأبيض بلغة السودان هولقب لجده الأعلى بن يوسف ) ولدفى المحرم سنة 866 ه وتوفي يوم الجمعة ثاني عشر من رجب الفرد سنة 944 ه. وكان صدوق اللسان حسن اللهجة حلوالحديث (مولد الحافظ ابن الديبع , ص 5)


Dia adalah Wajihuddin ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Muhammad al-Syaibani al-Yamani al-Zubaidi al-Syafi’I (yang dikenal dengan Ibn al-Daiba’i. al-Daiba’ menurut bahasa Sudan artinya putih. Itu julukan kakeknya yang agung Ibn Yusuf). Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 866 H dan wafat pada hari jum’at tanggal 12 Rajab tahun 944 H. (Jadi usia beliau kurang lebih 76 tahun). Beliau seorang yang jujur, lemah lembut tutur katanya dan indah bahasanya. (Maulid al-Hafidz ibn al-Daiba’, hal 5)


Beliau dilahirkan pada 4 Muharram tahun 866H dan wafat hari Jumat 12 Rajab tahun 944H. Beliau adalah seorang ulama hadits yang terkenal dan tiada bandingnya pada masa hayatnya. Beliau mengajar kitab Shohih Imam al-Bukhari lebih dari 100 kali khatam. Beliau mencapai derajat Hafidz dalam ilmu hadits yaitu seorang yang menghafal 100,000 hadits dengan sanadnya. Setiap hari beliau akan mengajar hadits dari masjid ke masjid.


Di antara guru-gurunya ialah Imam al-Hafiz as-Sakhawi, Imam Ibnu Ziyad, Imam Jamaluddin Muhammad bin Ismail, mufti Zabid, Imam al-Hafiz Tahir bin Husain al-Ahdal dan banyak lagi. Selain daripada itu, beliau juga seorang muarrikh, yakni ahli sejarah, yang terbilang.


Beliau dilahirkan di kota Zabid (Zabid (salah satu kota di Yaman Utara) pada sore hari Kamis 4 Muharram 866 H.) Kota ini sudah dikenal sejak masa hidupnya Nabi Muhammad SAW., tepatnya pada tahun ke 8 Hijriyah. Dimana saat itu datanglah rombongan suku Asy’ariah (diantaranya adalah Abu Musa Al-Asy’ari) yang berasal dari Zabid ke Madinah Al-Munawwaroh untuk memeluk agama Islam dan mempelajari ajaran-ajarannya. Karena begitu senangnya atas kedatangan mereka Nabi Muhammad SAW. berdoa memohon semoga Allah SWT memberkahi kota Zabid dan Nabi mengulangi doanya sampai tiga kali (HR. Al-Baihaqi). Dan berkat barokah doa Nabi, hingga saat ini, nuansa tradisi keilmuan di Zabid masih bisa dirasakan. Hal ini karena generasi ulama di kota ini sangat gigih menjaga tradisi khazanah keilmuan islam.


Banyak hal yang bisa dijadikan bukti bahwa beliau termasuk golongan Sunni. Antara lain, di dalam shalawat yang dikarang, beliau mengatakan:


يارب وارض عن الصحابة * يارب وارض عن السلالة * (مجموعة مولد وأدعية , ص 66)


“Ya  Rabbi, ridlailah para sahabat Nabi SAW, Ya Rabbi ridlailah keturunan Nabi SAW.” (Majmu’ Mawalid wa Ad’iyah, hal 66).


Beliau diasuh oleh kakek dari ibunya yang bernama Syekh Syarafuddin bin Muhammad Mubariz yang juga seorang ulama besar yang tersohor di kota Zabid saat itu, hal itu dikarenakan sewaktu beliau lahir, ayahnya sedang bepergian, setelah beberapa tahun kemudian baru terdengar kabar, bahwa ayahnya meninggal didaratan India. Dengan bimbingan sang kakek dan para ulama kota Zabid, ad-Diba’i tumbuh dewasa serta dibekali berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Diantara ilmu yang dipelajari beliau adalah: ilmu Qiroat dengan mengaji Nadzom (bait) Syatibiyah dan juga mempelajari Ilmu Bahasa (gramatika), Matematika, Faroidl, Fikih.


Pada tahun 885 H. beliau berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya. Sepulang dari Makkah Ibn Diba’ kembali lagi ke Zabid. Beliau mengkaji ilmu Hadis dengan membaca Shohih Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Al-Muwattho` dibawah bimbingan syekh Zainuddin Ahmad bin Ahmad As-Syarjiy. Ditengah-tengah sibuknya belajar hadis, Ibn Diba’ menyempatkan diri untuk mengarang kitab Ghoyatul Mathlub yang membahas tentang kiat-kiat bagi umat muslim agar mendapat ampunan dari Allah SWT.


Ibn Diba’ mempunyai kebiasaan untuk membaca surat Al-fatihah dan menganjurkan kepada murid-murid dan orang sekitarnya untuk sering membaca surat Al-fatihah. Sehingga setiap orang yang datang menemui beliau harus membaca Fatihah sebelum mereka pulang. Hal ini tidak lain karena beliau pernah mendengar salah seorang gurunya pernah bermimpi bahwa hari kiamat telah datang lalu dia mendengar suara “ wahai orang Yaman masuklah ke surga Allah” lalu orang –orang bertanya “kenapa orang-orang Yaman bisa masuk surga ?” kemudian dijawab, karena mereka sering membaca surat Al-fatihah.


Si Kecil yang penuh cinta kepada Baginda Nabi

Ada suatu kisah yang terjadi di zaman Syeikh Abdurrahman ad-Diba’i asy-Syaibani (Shobihul Maulid Ad-Diba’i).


Diceritakan tatkala itu Syeikh ad-Diba’i sedang berkumpul dengan orang-orang di kota Zabid (ujung kota Yaman) untuk berziarah ke makam Sayyidina Rasulillah Muhammad ibn Abdillah shallallâhu ‘alaihi wa sallam di kota Madinah al-Munawwarah.


Pada saat itu, jarak perjalanannya bisa memerlukan waktu hingga selama 2 minggu. Ketika rombongan tadi hendak pergi ke kota Madinah datanglah seorang anak kecil usianya sekitar 8 tahun, lalu ia berkata kepada Syeikh ad-Diba’i, “Wahai Syeikh izinkanlah aku ikut ziarah ke makam Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam?”


Tetapi, permintaan anak kecil itu tidak dizinkan oleh Syeikh Abdurrahman ad-Diba'i. “Karena nanti kamu membuat susah, orang ingin kesini kamu malah ingin kesana?”
(Maklum namanya juga masih anak kecil, ditakutkan justru menggangu yang lainnya ketika sampai disana)


Lalu Syeikh ad-Diba’i bertanya kepada anak kecil itu, “Kenapa kamu ini kok ingin sekali ikut?” Kemudian anak kecil itu berkata, “Wahai Syeikh percayalah, aku ini sangat rindu dengan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam?” Namun dijawab oleh Syeikh, “Sudahlah kamu tetap tidak boleh ikut.”


Maka berjalanlah rombongan tadi. Setibanya tiba dikota Madinah, tepatnya di makam Baginda Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam terkejutlah Syeikh Abdurrahman ad-Diba’i lantaran melihat anak kecil itu sudah ada di hadapannya.


“Wahai anak kecil, dari mana kamu datang? Bagaimana kamu ini bisa ikut?” kata Syeikh. "Ketika kalian berangkat, aku masuk ke dalam kotak/peti yang juga ikut bersama rombongan ziarah ke makam Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.” jawab anak kecil itu.


Lalu Syeikh ad-Diba'i menimpali, “Aku tidak heran kalau kamu ini masuk ke dalam peti, tetapi (yang aku heran adalah) selama 2 minggu kamu makan dan minum dari mana? Tidak ada makan dan tidak ada minum?” ujar Syeikh terheran-heran.


Maka anak kecil itu pun berkata, “Wahai Syeikh, sungguh aku ini sudah dilupakan dari makan dan minum karena sangat rindunya kepada Baginda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam?”


MasyaAllah Tabarakallah!! Kemudian, anak kecil itu berkata lagi kepada Syeikh ad-Diba’i, “Wahai Syeikh, apakah benar tanah ini pernah dipijak oleh kaki Rasulullah?” Kata Syeikh, “Iya.” Begitu saja mengetahuinya, kemudian anak kecil itu mengambil tanah tersebut lalu diciumnya tanah itu.


Lantas, anak kecil itu tiba-tiba saja rebah (tersungkur) seakan pingsan. Ketika dilihat tenyata ia sudah wafat karena kerinduannya yang luar biasa kepada Baginda Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.


Karya ad-diba’i


Ibn Diba’ termasuk ulama yang produktif dalam menulis. Hal ini terbukti beliau mempunyai banyak karangan baik dibidang hadis ataupun sejarah. Karyanya yang paling dikenal adalah syair-syair sanjungan (madah) atas Nabi Muhammad SAW. yang terkenal dengan sebutan Maulid Diba’i.


Istilah ini diambil dari nama pengarangnya yaitu Al-Imam Wajihuddin Abdur Rahman bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar ad-Diba`i Asy-Syaibani Al-Yamani Az-Zabidi Asy-Syafi`i. Diantara buah karyanya yang lain : Qurrotul `Uyun yang membahas tentang seputar Yaman, kitab Mi`roj, Taisiirul Usul, Bughyatul Mustafid dan beberapa bait syair. Beliau mengabdikan dirinya hinga akhir hayatnya sebagai pengajar dan pengarang kitab.


Ibn Diba’I wafat di kota Zabid pada pagi hari Jumat tanggal 26 Rojab 944 H.


Robbi fanfa’naa bibarkatihim wahdinal husnaa bihurmatihim.


Lahu Al-Faatihah


Sumber : NU Online