Sebelum muncul nama besar Syaikhona Mbah Dimyati Rois sebagai tokoh Kendal ke kancah Nasional, ada satu nama Ulama Besar dari Kendal. Sayang sekali keberadaan beliau seperti tidak begitu dikenal, terutama oleh generasi muda Kendal sendiri.
Beliau adalah Yang Mulia Simbah Kyai Haji Ahmad Abdul Hamid Al Qondaly. Ulama Besar ini merupakan sosok yang sangat enerjik, sangat dihormati oleh sahabat-sahabatnya. Beliau pernah mengemban amanah sebagai Dewan Musytasyar PBNU dan Ketua MUI Jawa Tengah .
Disamping itu, beliau juga terbilang aktif dalam menulis beberapa kitab. Konon sekitar 25 kitab telah beliau hasilkan. Sayang sekali kita kesulitan mendapatkan kitab-kitab karya beliau, bahkan di Kendal sendiri.

Beliau adalah salah satu sosok Kiai unik yang pernah ada. Di manakah letak keunikan beliau? Ya, disamping beliau adalah sosok Kiai yang mumpuni dan pakar dalam ilmu-ilmu agama—dan itu terbukti dari banyaknya karya-karya berupa kitab yang lahir dari buah pemikiran beliau—ternyata beliau juga adalah seorang olahragawan. Terlebih lagi adalah sepak bola yang merupakan salah satu olahraga favorit beliau semenjak kecil. Bahkan dalam satu kesempatan, beliau tidak segan-segan untuk menerima tawaran para pejabat di kabupaten Kendal agar beliau mau menyambut kedatangan api PON XI, untuk lalu membawanya dengan berlari dari depan pendopo kabupaten Kendal, sampai sejauh 1 km. Oleh karenanya, tak aneh jikalau kemudian beliau juga menduduki jabatan penasehat KONI dati II Kendal. Di samping juga mendapatkan predikat sebagai bapak Angkat grak jalan di daerah tersebut tadi.
Beliau KH. Ahmad Abdul Hamid Al-Qondali RahimahuLlah. Tambahan kata “Al-Qondali” pada nama beliau adalah merupakan identitas tempat mukim dan dakwah beliau, yakni Kabupaten Kendal. Dari karya beliau—walaupun tidak bertemu langsung dengan beliau— kita akan menemukan sosok Kiai yang benar-benar mengejawantahkan ajaran “Arhamun-Nas Bi Ummati ‘Ulama-uha”. Hal ini sangat nampak dari banyaknya karya tulis beliau, yang hampir sebagian besar berisi tentang tuntunan bagi masyarakat awam. Atau dengan bahasa lain, karya-karya beliau merupakan ‘buku pintar’ yang tidak terlalu njlimet sehingga enak dan renyah untuk di konsumsi oleh masyarakat secara umum.
Tapi, walaupun sasaran ‘tembak’ dakwah beliau adalah masyarakat, ada satu karakter khas beliau yang dapat kita temukan dalam karya-karya tersebut, dimana kekhasan inilah yang pada akhirnya menunjukkan kedalaman ilmu beliau. Yakni beliau tetap menyebutkan dalil-dalil Naqli, baik dari al-Qur’an maupun al-Hadis. Dan tidak jarang pula, kemudian beliau tambahi dengan interpretasi para Ulama guna menyedapkan racikan argumentasi yang beliau hidangkan kepada pembaca. Sehingga kitab-kitab sederhana karya beliau, pada dasarnya tidaklah sesederhana yang kita bayangkan. Dan satu lagi yang terlewat, yakni beliau juga menyinggung beberapa problematika kontemporer yang terjadi pada era beliau. Dan hampir semua jawaban itu beliau tampilkan dari hasil Bahtsul Masail NU.
Beliaulah penggagas Silaturahim Ngumpulke Balung Pisah, sebuah forum silaturahim untuk mempertemukan berbagai kalangan dalam satu jalinan persaudaraan. Sebab, umumnya orang satu kampung atau satu keguruan ilmu kalau diurutkan bisa ketemu nasabnya. Inilah salah satu kehebatan beliau.
Salah satu wakaf beliau untuk umat ini adalah ucapan penutup pidato wabillahi taufiq wal hidayah. Konon kalimat ini diucapkan beliau pertama kali di Magelang, dan kemudian dicopy paste seluruh ulama di Nusantara hampir tanpa kecuali. Hingga kemudian, ulama diluar NU juga ikut memakai kalimat tersebut.
Akhirnya, pada saat pertemuan ulama-ulama di Kendal, beliau memperkenalkan penutup kalimat baru, yakni: wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thoriiq. Dan ternyata kalimat ini juga seperti menjadi kalimat yang diamini dan diadopsi oleh seluruh ulama di Nusantara hingga detik ini.
Dan, sekali lagi, sayangnya, banyak kaum muda yang belum mengetahui bahwa kalimat tersebut adalah buah karya wakaf dari Yang Mulia Mbah Ahmad Abdul Hamid, salah satu ulama besar dari Kendal.
Lahu Al-Faatihah
Sumber : Shuniyya Ruhama dan Kutub Khonah via Turats Ulama Nusantara