Pada suatu hari Malik menaiki ojek perahu. Ketika perahu telah berjalan, petugas kru laut bagian menarik uang penumpang menjalankan tugasnya. Malik tak mempunyai apapun untuk membayar ongkos naik perahu, lalu si petugas memukul Malik sampai ia pingsan. Setelah Malik siuman, petugas itu menagih ongkos lagi ke Malik, malangnya Malik yg tidak memiliki uang untuk membayar itu di pukul lagi hingga pingsa yang kedua kalinya.
Setelah Malik siuman, petugas itu memegang kaki Malik dan hendak membuangnya ke laut, tiba-tiba muncul ular banyak dari laut, dan di mulut setiap ular tersebut ada 2 dinar yang terbuat dari emas, lalu Malik mengambil satu-persatu dua dinar dari mulut-mulut ular dan memberikannya pada petugas penarik ongkos.
Para penumpang kapal yang melihat kejadian tersebut pun menyesal, bertaubat dan meminta maaf atas apa yang mereka lakukan. Oleh karena itu disebut Malik bin Dinar.
Al-Kisah Malik bin Dinar menyewa sebuah rumah yang letaknya berdampingan dengan rumah orang yahudi, bahkan mihrab rumahnya sampai ke pintu rumah yahudi. Yahudi yang tidak suka pada Malik bermaksud mencelakainya dengan menggali sebuah lubang yang besar hingga menjadikannya menonjol.
Sudah jelas bahwa keadaannya demikian, namun Malik tidak mengadukan pada siapapun bahkan ia tak menampakkan kekesalannya. Sehingga orang yahudi merasa terdesak. Dan akhirnya pada suatu hari yahudi berkata pada Malik, "Hai Fulan, kenapa engkau tak merasa tersakiti dengan hal ini (adanya lubang)?"
Jawab Malik, "Aku merasa tersakiti, tetapi aku memiliki kantong juga sekop, aku membersihkan sampah yang terkumpul di dalam lubang itu."
Yahudi bertanya pada Malik, "Apa kau tak merasa marah?"
Jawabnya, "Iya aku marah, tapi aku menahan dan menyembunyikannya. Allah berfirman: "Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."
Yahudi yang mendengar hal itu seketika menyesal dan masuk islam di tangan Malik.