Tuesday, January 12, 2016

MA’RUF AL-KHARQI

Tempat Kelahirannya


Nama lengkapnya adalah Abu Mahfudh Ma’ruf bin Fairuz al-Kurkhi / al-Karkhi (w. 200H./815M.). Perihal nisbah beliau al-Kurkhi atau al-Karkhi tidak diketahui alasan yang pasti. Akan tetapi diyakini bahwa al-Kurkhi atau al-Karkhi adalah : (1) nama sebuah kawasan di Irak Timur, (2) nama sebuah pemukiman di Kota Baghdad. Di tempat inilah sufi itu menetap hingga wafat.


Masa Kecilnya


Ma’ruf al-Karkhi dilahirkan dari keluarga Nashrani. Sejak kecil Ma’ruf dididik di lingkungan Romo (pendeta) dan dibekali dengan kepercayaan Nashrani. Ada sebuah kejadian yang menarik dari Ma’ruf al-Karkhi ini, yaitu ketika ada seorang Romo yang sedang mengajarkan tentang Tuhan dan menyatakan bahwa “Allah itu satu dari Trinitas”.


Pada saat itu juga Ma’ruf menolak terhadap pernyataan tersebut, dan dia menyatakan bahwa Allah itu Maha Esa dan tidak dalam Trinitas. Karena pernyataannya itu melawan kepercayaan Gereja dan Romo tersebut, maka Ma’ruf diusir dari lingkungan Gereja, kemudian dia memutuskan untuk mengembara dan mencari sebuah kebenaran.


Pada pengembaraannya itu bertemu dengan seorang ahlulbait, yaitu Imam Ali bin Musa al-Ridha. Pada beliaulah dia belajar tentang banyak hal, dan pada akhirnya beliau menyatakan masuk Islam di hadapan Imam Ali bin Musa tersebut. Imam Ali ar-Ridha memberikan pengajaran terpenting kepada Ma’ruf al-Karkhi, yaitu sebuah tradisi Intelektual dan tradisi Spiritual atau Ibadah.


Ketika sekian lama beliau belajar bersama dengan Imam Ali bin Musa al-Ridha, maka semakin kuatlah keimanan dan keyakinan beliau tehadap Islam. Maka beliau sudah mulai dipandang sebagai seorang yang mempunyai intelektual yang cerdas dan menjadi seorang sufi.


Pada suatu ketika kedua orang tua Ma’ruf al-Karkhi sangat merindukannya, dan menginginkan beliau untuk kembali kepada mereka. Karena kerinduan kedua orangtuanya itu, maka terjadilah kontak batin antara beliau dengan Ibunya. Dengan perasaan itu maka beliau kembali kepada keluarganya dan bertemu dengan orang tua beliau.


Beberapa lama telah berlalu. Pada suatu hari Ma'ruf pulang dan mengetuk pintu rumah orang tuanya.


"Siapakah itu?", tanya kedua orang tuanya. "Ma'ruf", jawabnya.


"Agama apakah yang telah engkau anut?"


"Agama Muhammad Rasulullah". Ayah-bundanya segera menganut agama Islam pula.


Setelah itu Ma'ruf belajar di bawah bimbingan Daud at-Ta'i dan menjalani disiplin diri yang keras. Terbuktilah bahwa ia sedemikian taat beragama dan mempraktekkan disiplin yang sedemikian keras-nya sehingga ketabahannya itu menjadi termasyhur ke mana-mana.



Karomah Ma’ruf Al-Kharqi


Dikisahkan bahwa suatu hari Ahmad bin Fath mimpi bertemu dengan Bisyir bin Haris yang telah wafat lebih dahulu. Ahmad bin Fath menyatakan tentang keadaan yang dialami Ma’ruf al-Karkhi, dirinya diampuni Allah. "Kulihat Ahmad bin Hanbal berdiri sedang antara mereka terdapat pembatas. Karena Ma’ruf al-Karkhi menyembah Tuhan bukan mengharap surga, tidak pula karena takut kepada neraka, karena itu ia diangkat ke tempat yang tinggi yang tidak ada pembatas antaranya dengan Tuhan." Begitulah pengakuannya tentang martabat Ma’ruf al-Karkhi. Ma’ruf al-Karkhi terkenal di kalangan sufi memiliki banyak karamah yang di antaranya ketika terjadi kemarau panjang ia berdoa dalam shalat istisqa meminta hujan, sebelum doanya selesai hujan turun.


Sebagai seorang sufi yang terkenal beliau mempunyai beberapa keistimewaan dan kelebihan, antara lain sebagai berikut : Beliau banyak dikunjungi oleh orang-orang yang sebelumnya tidak dikenal. Mereka berkunjung kepada al-Karkhi karena mereka pernah bermimpi mengunjungi beliau.


Salah seorang murid beliau yang bernama Sarri as-Saqathi pernah menuturkan, "Dalam tidurku, aku pernah bermimpi melihat Ma'ruf al-Karkhi seolah berada di Arasy. Pada waktu itu, Allah SWT berfirman: "Siapakah dia?" Para Malaikat menjawab, "Engkau lebih mengetahui ya Tuhan." Maka Allah SWT berfirman: "Orang itu adalah Ma'ruf al-Karkhi yang sedang mabuk Cinta kepada-Ku."


Muhammad bin Al Hasan, bahwa ayahnya berkata: “Aku melihat Ma’ruf dalam mimpi setelah dia meninggal dan aku berkata: “Apa yang diperbuat Allah terhadapmu?” Ma’ruf menjawab: “Allah mengampuni aku”. Aku bertanya: “Karena zuhud dan wiraimu?” Ma’ruf menjawab: “Tidak, namun karena aku menghayati nasehat Ibnu Simak, selalu melarat dan cinta orang-orang melarat”. Nasehat Ibnu Simak adalah yang didengar Ma’ruf ketika lewat di Kufah: “Barangsiapa berpaling dari Allah secara keseluruhan, maka Allah berpaling darinya secara total. Barangsiapa menghadap Allah dengan hatinya, maka Allah menghadap dengan rahmat-Nya dan menghadapkan makhluk kepadanya. Barangsiapa kadang demikian dan kadang demikian, maka Allah merahmatinya suatu saat”.


Sirri As Saqathi berkata: “Aku melihat Ma’ruf Al Karkhi dalam mimpi, seakan-akan ia bergantung di bawah Arasy, sedangkan Allah berfirman kepada para malaikat: “Siapa orang ini?” Mereka menjawab: “Engkau lebih tahu daripada kami, Tuhan”. Allah berfirman: “Ini Ma’ruf Al Karkhi, dia mabuk karena cinta Aku, maka dia tidak sadar kecuali karena bertemu dengan-Ku”.


Di antara keramatnya yang lain adalah bahwa ada orang-orang berkata pada saat kemarau yang sangat terik: “Abu Mahfudh (Ma’ruf), sebaiknya anda meminta Allah agar menghujani kita”. Ma’ruf berkata: “Angkatlah pakaian kalian”. Belum sempurna mereka mengangkat pakaian, hujan telah turun”.


Dalam kesempatan lain seseorang berkata: “Abu Mahfudh, aku mendengar bahwa anda berjalan di atas air”. Ma’ruf menjawab: “Aku tidak pernah berjalan di atas air, hanya saja jika aku ingin lewat, kedua sisi sungai berkumpul, sehingga aku melewatinya”.


Setelah wafatnya tanda-tanda kewaliannya semakin bersinar, sehingga banyak ulamak yang berzirah dan tawasul kepada beliau. Imam Al Buhuti Al Hambali mengutip perkataan Imam Ibrohim Al Harbi ini dalam kitabnya yang berjudul "Kasy-syaful-Qina' 2/69" sebagai berikut:


”قَالَ إِبْرَاهِيْمُ الْحَرْبِيُّ: الدُّعَاءُ عِنْدَ قَبْرِ مَعْرُوْفٍ الْكَرْخِيِّ التِّرْيَاقُ الْمُجَرَّبُ”


"berkata Ibrohim Al Harbi: berdoa di makam Ma’ruf al karkhi adalah pengobatan yang mujarab".


Thorikot Yang Sanadnya Silsilah Emas


Tasawuf tidak berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya, ia memiliki sanad yang bersambung hingga Rasulullah. Dengan demikian, pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa tasawuf adalah sesuatu yang baru, bid’ah sesat, atau ajaran yang tidak pernah dibawa oleh Rasulullah, adalah pendapat yang tidak memiliki dasar sama sekali. Adanya sanad dapat mempertanggungjawabkan kebenaran tasawuf ini. Dan keberadaan sanad ini sekaligus sebagai bantahan terhadap pembenci tasawuf, bahwa kebencian mereka tidak lain adalah karena didasarkan kepada hawa nafsu dan kerena mereka sendiri tidak memiliki sanad dalam keilmuan dan dalam cara beragama mereka.


Adapun silsilah sanad dari Ma’ruf al-Kharqi adalah Yaitu; Imam Ma’ruf al-Karkhi dari Imam ‘Ali ar-Ridla, dari Imam ayahnya sendiri; Imam Musa al-Kadlim, dari ayahnya sendiri; Imam Ja’far ash-Shadiq, dari ayahnya sendiri; Imam Muhammad al-Baqir, dari ayahnya sendiri; Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin, dari ayahnya sendiri; Imam al-Husain (Syahid Karbala), dari ayahnya sendiri; Imam ‘Ali ibn Abi Thalib, Dari Rasulullah. Lihat mata rantai berikut:



Sanad di atas sangat kuat sekali, orang-orang saleh yang terlibat dalam rangkaian sanad ini tidak diragukan lagi keagungan derajat mereka. Sanad di atas disebut dengan Silsilah Adz-Adzahabiyah yang berarti rantai keemasan. Karena silsilahnya berasal dar jalur Ahlul Bait dan bersambung kepda Rasulullah saw.


Munculnya istilah silsilah emas dalam sanad adalah ketika Imam Ali Ar-Ridha berada di Khurasan Iring-iringan kafilah Imam Ali Ar-Ridha dijemput oleh masyarakat di sana dengan penuh suka cita, sementara ratusan ulama dan pelajar berdiri paling depan.


Para ulama dan ahli hadis berkumpul di sekitar para pengiring Imam, sedang di tangan mereka buku dan alat menulis. Mereka menunggu Imam meriwayatkan hadis-hadis dari kakeknya Rasulullah saw, sampai-sampai di antara mereka ada yang memegang tali kekang tunggangan Imam dan berkata, “Demi kebenaran ayahmu yang suci, riwayatkanlah kepada kami hadis sehingga kami dapat mendapatkan ilmu darimu.”


Imam berkata, “Aku mendengar ayahku Musa bin Ja’far berkat, ‘Aku mendengar Ayahku, Ja’far bin Muhammad berkata, ‘Aku mendengar ayahku Muhammad bin Ali berkata, ‘Aku mendengar ayahku Ali bin Husain berkata, ‘Aku mendengar ayahku Husain bin Ali berkata, ‘Aku mendengar ayahku Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Aku mendengar Jibril berkata, ‘Aku mendengar Allah berfirman, “Kalimat La Ilaha illallah adalah bentengku. Barang siapa masuk ke dalam bentengku, niscaya ia terbebas dari azabku.’”


Hadis ini terkenal dengan Hadis Silsilah Dzahabiyah (Untaian Emas). Sebanyak dua ribu perawi mencatat hadis ini.


Ma’ruf Al-Kharqi juga meriwayatkan hadits, banyak hadits dimusnadkan Ma’ruf dari Bakr bin Khunais, Ar Rabi’ bin Shabih, Abdullah bin Musa dan Ibnu Simak. Termasuk murid Ma’ruf adalah Khalaf bin Hisyam Al Bazzar dan Zakariya bin Yahya Al Marwazi. Menurut Imam Adz-Dzahabi Dalam Kitabnya Mizanu al-I’tidal, Bahwa Ma’ruf al-Kharqi adalah pengikut Syiah dan terpercaya.



Ketika Ma'ruf wafat, banyak orang dari berbagai golongan datang berta'ziyah, Islam, Nasrani, Yahudi. Dan ketika jenazahnya akan diangkat, para sahabatnya membaca wasiat almarhum: "Jika ada kaum yang dapat mengangkat peti matiku, aku adalah salah seorang diantara mereka." Kemudian orang Nasrani dan Yahudi maju, namun mereka tak kuasa mengangkatnya. Ketika tiba giliran orang-orang muslim, mereka berhasil, lalu mereka menyalatkan dan menguburkan jenazahnya.


Lahu Al-Faatihah


Sumber : Cahaya Gusti, dari berbagai sumber