Thursday, January 21, 2016

Sebuah Teladan Dari Mbah Kyai Sholeh Darat Semarang.

Nama lengkapnya adalah Muhammad Saleh bin Umar As-Samarani, yang dikenal dengan sebutan Mbah Soleh Darat, hidup sezaman dengan Syekh Nawawi Banten dan Syekh Kholil Bin Abdul Latif Bangkalan Madura, lahir di Kedung Cemlung, Jepara pada tahun 1235 H./1820 M, dan wafat di Semarang pada hari Jum’at 29 Ramadhan 1321 H atau 18 Desember 1903 M. Ketiga ulama yang berasal dari Jawa itu juga sezaman dan seperguruan di Mekah dengan beberapa ulama dari Patani diantaranya adalah Syekh Muhammad Zain bin Mustafa Al-Fathani (Lahir 1233 H./1817 M., wafat 1325 H./1908 M.). Mereka juga seperguruan di Makkah dengan Syekh Amrullah (Datuknya Prof. Dr. Hamka) dari Minangkabau, Sumatera Barat.




Sebenarnya sudah banyak yang menulis biografi tentang Kyai Sholeh Darat yang merupakan Guru RA Kartini, KH. Hasyim Asyari, KH M. Dahlan (Muhammadiyah) ini. Beliau ini adalah Ulama yang sangat rendah hati/ tawadu', santun, tidak sok pintar, sok alim, dan merasa benar sendiri.


Ketawadhu'an itu dapat terlihat dalam kitab Minhajul Atqiya', beliau tulis dengan redaksi bahasa yang sangat santun: " awit nulis jumadil awal (mulai menulis kitab ini bulan Jumadil awal).. Udzur maridh (udzur sakit) beberapa hari. Moga-moga bisoho khatam serta manfaat". Dan ada pula di dalam Muqaddimahnya halaman 12 secara gamblang beliau berkata: " Moko lamun ningali siro Ya ikhwani ing iki kitab iku bener cocok pengendikane poro ulama moko iku saking fahame Ulama Muhaqqiqin , moko lamun ono ingkang luput ora bener moko iku saking Salahe Faham ingsun, moko ingsun nuwun ngapuro lan podo benerno supoyo ojo dadi sasar (perhatikan, beliau tidak menggunakan redaksi sesat) ing atase wongkang bodoh-bodoh, ojo siro poyoki (gojloki) lan istihza' (tertawa meremehkan) krono ingsun wus weroh kelawan yaqin setuhune ingsun (Mbah Sholeh sendiri) iku bodoh ora ngerti ilmu arabiyyah lan ingsun muflis minal ilmi wal amal (miskin ilmu dan amal)."



Kurang lebih jika di-Indonesiakan begini: "Maka jika kalian lihat wahai saudaraku! dalam kitab ini benar dan cocok dengan dawuh para ulama, maka itu dari pemahaman ulama ahli hakikat. Jika dalam kitab terdapat kesalahan atau tidak benar, maka itu dari kesalah pahaman saya, oleh karena itu, saya minta maaf dan benarkanlah agar tidak menjadi kesasar (salah jalan) terhadap orang yang bodoh-bodoh. Jangan Kalian meledek dan tertawa mengejek, karena saya sudah tahu dengan yakin akan kebodohan saya yang tidak mengerti ilmu arabiyah dan saya miskin ilmu amal."


Nah, masihkah kita merasa paling benar sendiri dan menyesatkan orang lain dengan seenaknya sendiri?!


Khususon Mbah Soleh Darat Lahu Al-Faatihah.


Sumber : LTN NU Jatim