Sunday, February 14, 2016

Modernisasi Tadjwid

Makin banyak santri berdatangan dari segala penjuru memaksa Madrasah Tebuireng mengganti bahasa pengantars dari bahasa Jawa ke bahasa Melayu. Repotnya, banyak ustadz dari santri generasi sebelumnya belum akrab dengan bahasa baru itu sehingga sering kesulitan mengalihbahasakan istilah-istilah baku.


Seperti guru tajwid ini, saat hendak menerangkan “ghunnah”, “Jika ada ‘nun’ meninggal dunia...”


Serempak murid-murid menyahut, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uuuun...”