Friday, March 4, 2016

Tradisi Kyai

Dulu, kalau saya (disuruh milih) diajak Mbah Kyai Bisri Sansuri, Wakil Rais 'Am PBNU dan Mbah saya dari pihak Ibu, ataukah berangkat dengan Mbah Wahab naik mobil ke Jakarta, saya akan ikut Mbah Wahab. Sebab, bersama Mbah Bisri Sansuri, mobil biasanya berhenti di Pekalongan, di rumahnya Munawir murid beliau. Lha, di situ baru kami dapat makan. Kalau ikut Mbah Wahab, beliau tahu di mana restoran yang enak. Nah, karena itu, saya ikut Mbah Wahab. Lha, saya ini pilih yang enak, mosok pilih yang tidak enak?




Demikianlah, saya rasa episode kecil kyai-kyai kita sudah benar-benar mengabdi kepada masyarakat. Ada yang ndelejer (lurus, tidak mau kompromi), ada yang (berusaha) ngemong (mengayomi) masyarakat.


Satu contoh lagi, suatu hari, saya mengantarkan seseorang ke Mbah Bisri. Orang itu mau kurban. Ditanya Mbah Bisri:


"Pinten arto sampean?"


"Hanya cukup untuk beli sapi satu. Tapi, anak saya delapan."


"Nggak bisa. Untuk delapan orang, harus sapi dua. Kalau sapinya satu, mestinya anaknya kan tujuh." Jawab Mbah Bisri.


Keluar lah orang tadi dari ruang beliau dengan mata sayu, penuh kesedihan.


Mbah Bisri lalu ndawuhi saya:


"Tolong antarkan bapak ini ke Kyai Wahhab."


Sampai di sana, Kyai Wahab bertanya:


"Ada apa?"


"Saya ini (mau kurban), hanya bisa beli satu sapi. Tapi anak saya delapan. Bagaimana Kyai?" Keluh bapak tadi.


"Kalau beli satu sapi, kambing satu, duit sampean cukup apa nggak?" Tanya Mbah Wahab.


"Cukup." Jawab orang tadi.


"Ya sudah. Beli satu sapi. Dan, kambing satu untuk ancik-ancik." Jelas Mbah Wahhab.


Maka keluarlah orang itu dengan hati gembira. Dia tidak tahu kalau dalam fiqih itu dhewe-dhewe (beda-beda). Korban sapi dewe, korban wedhus dewe. Sudah ada aturan mainnya. Tapi Mbah Wahab nggak mau bilang begitu.


Demikianlah betapa uniknya tradisi kekyaian. Para Kyai memiliki cara tersendiri untuk ngemong rakyat! Saya masih ingat sampai sekarang, bagaimana Kyai-Kyai mbelani masyarakat. Para Kyai tidak pernah ingin rakyat kecewa. Bahkan, mereka sanggup menjadi contoh yang baik dan sanggup mencarikan jalan keluar dari masalah-masalah yang dihadapi.


Teruntuk Gus Dur, Mbah Bisri Sansuri, dan Mbah Wahhab, Al-Faatihah


Sumber : Petikan transkip rekaman sambutan silaturrahim oleh KH Abdurrahman Wahid - waktu itu menjabat presiden RI ke 4 - dalam kunjungan ke Pondok Pesantren Al-Asy'ariyyah Kalibeber Wonosobo, 31 Agustus 2000.