Saya jadi teringat pada waktu Pilpres, teman saya yang santri nyeletuk, "Pokoknya nanti saya milih presiden yang ditakuti oleh orang-orang, pokoknya yang pinter bikin orang ketar-ketir," Saya pun cuma mengernyitkan dahi, bingung dengan perkataannya.
"Kok gitu, kang?" Tanya saya. Teman saya terkekeh.
"Iya, dengan bikin orang ketar-ketir, maka orang-orang itu jadi banyak menyebut nama Allah, orang-orang jadi banyak sambat (mengadu) sama Allah, " katanya, saya pun terkekeh.
Kalau bicara akibat itu tak lepas dari sebab, sebab itu macam-macam, ada yang buruk dan ada yang baik, akibat pun begitu, ada yang buruk ada yang baik. Kalau dipikir -pikir, ini mirip2 kaidah ushul fiqih, dimana semua amalan itu pasti ada perantara dan tujuan. Jadi, wasilah itu gak kalah penting sama maqosidnya, karena yang menentukan sampainya suatu tujuan itu adalan perantaranya, sedang tujuan itulah acuan.
Berikut ini ada anekdot yang memberi contoh pada kita lagi tentang bagaimana akibat itu dipengaruhi oleh sebab-sebabnya.
Alkisah terjadi pada saat seleksi penerimaan penghuni surga. Sampai akhirnya tiba pada 2 anggota peserta terkhir yang akan terseleksi, yakni seorang Kyai dan seorang sopir bis Lorena yang terkenal suka ngebut dan ugal-ugalan dalam mengemudikan kendaraaannya sewaktu masih hidup.
Alhasil ternyata yang masuk menjadi penghuni surga adalah si Sopir Bis Lorena. Sang kyai akhirnya protes keras kepada Allah, kenapa tidak dirinya yang masuk surga, padahal sewaktu di dunia dia terkenal sebagai mubaligh yang giat menyebarkan agama islam dan mengisi khutbah jum'at? Kenapa kok malah yang masuk surga seorang sopir yang record ugal-ugalannya tertinggi di catatan kantor polisi?
Akhirnya Allah menjawab " Kamu tidak saya masukkan surga adalah karena sering ketika kamu berkhutbah di dunia kamu tidak pernah memperhatikan yang mendengarkan, kamu terlalu panjang dalam berkhutbah yang akhirnya banyak yang mendengarkan menjadi tertidur dan terlupa kepada-Ku, wahai Pak Kyai , Sedangkan si Sopir Bis Lorena justru karena ugalan-ugalannya dan ngebutnya sehingga menyebabkan para penumpangnya ketakutan sehingga tidak henti-hentinya menyebut nama-Ku."
Tentunya, cerita di atas jangan lalu diartikan berbuat ugal-ugalan itu sangat sunnah. Di cerita ini Allah menilai orang dari seberapa besar dampak perilakunya bagi orang lain, dan pastinya berbuat baik namun adil dan tidak berlebihan itu sangat disukai dan sangat dimuliakan oleh Allah. Hikmah lainnya, ada kalanya keburukan orang lain itu menjadi wasilah bagi orang lain untuk lebih dekat dengan pencipta-Nya. Jadi sebagai umat Islam, tak perlu kita memaki berlebihan pada orang yang telah berbuat buruk pada kita. Asal selalu ingat Tuhan, insyaAllah ada nilai tersendiri di sisi Allah.