"Kang Bahlul, kamu pergi ke kota sebentar, beli beberapa parang, cangkul sama sabit di pasar, soalnya besok mau panen".kata Abah.
Kang Bahlul pun menyambutnya dengan antusias. Sungguh suatu momen yang langka santri bisa keluar pesantren, apa lagi turun ke kota. Kang Bahlul pun berdandan dengan necis. Pakai baju keren, rambut berminyak kelimis, tak lupa pakai jaket kulit kesayangan, tapi ya, tetep pakai sarung dan peci. Maklum, kan santri, sekalian ngisis, hehehe...
Singkat cerita, setelah membeli beberapa cangkul, sabit dan parang, Kang Bahlul pun langsung cabut. Tapi karena rada malu membawa cangkul, sabit dan parang karena penampilanya sudah necis, ahirnya muncul ide di otak Kang Bahlul. Parang,sabit dan cangkul itu dia sembunyikan di balik bajunya.
"Nah...kalau gini kan sudah aman..", fikir Kang Bahlul.
Tapi, waktu Kang Bahlul mau berjalan pulang, dia di palak oleh dua orang preman. Tapi karena memang tak punya uang, Kang Bahlul pun tak mau memberi. Merasa korbanya melawan, tiba-tiba salah satu preman mengeluarkan pisau dan berusaha menusuk Kang Bahlul.
Karena terkejut dan ketakutan, Kang Bahlul hanya bisa memejamkan mata dengan spontan. Karena tak bisa silat, Kang Bahlul sudah pasrah pada takdir. Tapi ketika pisau itu mengenai perut Kang Bahlul, gantian premannya yang terkejut. Pisau yang dia tusukan tak mampu menembus tubuh Kang Bahlul. Tiap pisau itu mengenai perut Kang Bahlul, yang terdengar hanya suara "ting...! ting...!", seperti besi yang beradu.
"Lho, kok....!", kedua preman saling berpandangan heran.
Tiba-tiba, dalam keadaan masih merem, Kang Bahlul bersin-bersin keras sekali. Tak ayal, parang, sabit dan cangkul pun berhamburan kemana-mana dari balik jaketnya. Kedua preman itu pun lebih kaget lagi.
Melihat itu, tanpa menunggu aba-aba, kedua preman itu pun mulai berlari tunggang langgang meninggalkan Kang Bahlul yang masih merem ketakutan. Tanpa di sengaja, ternyata dari tadi ada seorang warga kampung yang melihat kejadian itu dan cuma bisa melongo melihat kejadian itu.
Ketika Kang Bahlul membuka mata, dia keheranan karena dua preman yang tadi menghadangnya sudah hilang. Kang Bahlul pun segera pulang ke pondok untuk menyerahkan cangkul dan parang yang tadi dia beli. Kemudian Kang Bahlul ke kamar mandi dan berangkat sholat Jum'at seperti tak pernah mengalami kejadian apa-apa.
Tapi kehebohan terjadi di luar pesantren. Berita dengan cepat tersebar dan membuat warga gempar. Tersebar berita bahwa para santri pondok itu sakti-sakti, mereka kebal bacok dan bisa mengeluarkan berbagai senjata hanya lewat bersin.