Saturday, May 2, 2015

Penemuan Harta Karun Cirebon Dapat Ubah Sejarah Islam Indonesia

[caption id="attachment_597" align="alignleft" width="300"]Fred Dobberphul, penyelam yang juga ilmuwan, dia merintis penelitian dan ekskavasi kapal-kapal kuno yang tenggelam di Laut Jawa dari abad 9-10 M yang dikenal sebagai "Kapal-kapal karam dari Cirebon", dia juga membantu pengangkatan beberapa artefak dari dasar laut Fred Dobberphul, penyelam yang juga ilmuwan, dia merintis penelitian dan ekskavasi kapal-kapal kuno yang tenggelam di Laut Jawa dari abad 9-10 M yang dikenal sebagai "Kapal-kapal karam dari Cirebon", dia juga membantu pengangkatan beberapa artefak dari dasar laut[/caption]

Silang perentang masuknya Islam di era Jayabaya atau jaman Majapahit terbantahkan. Bahkan sebelum Prabu Jayabaya berkuasa Islam ternyata sudah masuk Jawa/. Penemuan kapal berisi harta karun di perairan utara Cirebon mengubah sejarah masuknya Islam ke Indonesia, yang semula tertulis sekitar tahun 1.100-an, menjadi lebih awal, yakni tahun 904 Masehi.

Dari penelitian yang dilakukan ilmuwan Jerman dan Perancis terdapat bukti-bukti sejarah mengenai masuknya Islam ke Indonesia pada tahun 904 Masehi.

Pemerintah berharap penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Jerman Fred Dobberphul, dan ilmuwan Perancis Jean Paul Blancan itu bisa diteruskan keduanya untuk mengungkap lebih jauh sejarah kedatangan Islam. Kapal yang ditemukan pertama kali pada awal 2004 itu disinyalir dibangun oleh putra-putra Indonesia pada masa Kerajaan Sriwijaya dengan keahlian arsitektur yang tinggi, karena kapal tersebut bisa berlayar sampai ke daratan China, Arab, dan negara-negara lain.

Ini yang dibuktikan oleh kedua peneliti itu. Ada bukti tulisan dalam bahasa Arab hasil temuan di kapal yang menunjukkan masuknya ke Indonesia pada tahun 904 Masehi saat Dinasti Tsung berkuasa.

Artefak-artefak yang berhasil ditemukan dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa artefak tersebut dibeli dan dijual dari daerah sekitaran China dan Timur Tengah, termasuk di dalamnya terdapat ukiran dari batu dan kristal. Juga berhasil diangkat dari dasar laut, terdapat artefak-artefak cawan, mutiara dari pelosok daerah, perunggu dan emas dari Malaysia dan guci dari zaman kekaisaran China.

Sejauh ini, di seluruh perairan Indonesia sekitar 463 bangkai kapal telah ditemukan titik-titik karamnya, menurut Komite Nasional Kekayaan Bawah Laut. Sementara itu, lebih dari 10.000 bangkai kapal diyakini masih masih berada di dasar laut.

Hampir semua temuan itu ditemukan di perairan antara Indonesia dan Asia daratan. Hanya sekitar lusinan yang pernah ditemukan di perairan Kepulauan Mentawai, di sekitar kepulauan di bagian barat Mentawai, dimana keadaan perairannya lebih berbahaya. Kuburan kapal sudah lama menjadi sumber referensi yang bisa dikaji, biasanya ditemukan pertama kali titik tersebut melalui para nelayan.

Bangkai kapal yang tidak memuat barang-barang adalah kapal yang dimaksudkan untuk dijual pada serikat-serikat dagang dimana hal itu ditujukan untuk mengangkat harga kargo yang diangkut untuk selanjutnya dijual seketika itu juga.