Saturday, May 2, 2015

Syekh Umar Sutradana Wonosobo

Menurut Bapak Patah Tjipto Suwiryo, sesepuh setempat, beliau datang dari Arab, keturunan Nabi Muhammad SAW. Datang ke Indonesia tahun 1820 bersama ayahnya Syekh Abdul Rahim. Sebagai pedagang sekaligus menyebarkan agama Islam. Menginjakkan tanah Jawa pertama kali di Jogjakarta.


Nama aslinya hanya Umar, kemudian membaur dengan orang Jawa ditambahi Sutadrana. Lantas ia bersama ayahnya menjadi prajurit Mataram. Berjuang melawan penjajah Belanda di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro. Ketika Belanda berhasil memukul perlawanan Pangerang Diponegoro, prajuritnya kocar-kacir. Syekh Umar dan ayahnya lari ke Wonosobo. Bersembunyi di suatu tempat yang kini disebut Sudagaran. Hingga memiliki 6 anak dari istri yang berasal dari Jogja.


Enam anaknya itu bernama Eyang Jami, Eyang Mangundrana, Noyodrono, Singodrono, Surodipo, dan Abdullah. Singodrono adalah kakek penutur cerita, Bapak Patah Tjipto Suwiryo, sedangkan Abdullah menurunkan anak-anak yang kini berada di Singapura.


Meskipun sudah lama bermukim di Sudagaran, ternyata tentara Belanda masih mencium jejaknya. Akhirnya diputuskan, untuk pindah ke pinggiran kota agar lebih aman. Dusun Kaligintung Desa Guntur Madu menjadi pilihan keluarga besar Syekh Umar untuk menetap. Hingga akhir hayatnya, dia tinggal di desa tersebut. Sementara anak keturunannya tersebar di berbagai negeri sekaligus di Malaysia dan Singapura.


Makam Syekh Umar Sutadrana terletak di Dusun Kaligintung, Desa Guntur Madu, Kecamatan Watumalang,  Wonosobo.


Lahu Al-Faatihah