Sunday, May 17, 2015

Syekh Abdul Muhyi Pamijahan

Sebagaimana telah diketahui, bahwa pelaku utama berkembangnya Thariqat Syathariyah di Asia Tenggara pada peringkat awal dilakukan oleh Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri di Aceh dan Syeikh Abdul Mubin bin Jailan al-Fathani di Pattani.
Syeikh Abdur Rauf mempunyai beberapa orang murid sebagai kadernya. Yang terkenal di antara mereka ialah: Syeikh Burhanuddin Ulakan di Minangkabau, Syeikh Abdul Malik di Terengganu, dan banyak lagi, termasuk Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan yang akan dibicarakan di sini.


Syekh Abdul Muhyi Pamijahan cukup terkenal dalam cerita tutur di Jawa Barat, terutama mengenai keramat-keramatnya. Bahan mentah yang berupa cerita lisan masyarakat yang bercorak mitos atau legenda atau dongeng dalam berbagai versi penyampaiannya, lebih banyak diperoleh jika dibandingkan dengan berupa bahan yang bertulis. Tetapi ternyata ada tiga buah manuskrip yang bisa dijadikan sumber, yaitu manuskrip nomer LOr.7465, LOr 7527 dan LOr.7705, di Museum Negeri Belanda yang dikatakan bahwa kitab tersebut adalah karya Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan.


Sewaktu penulis melakukan tugas mengkatalogkan manuskrip yang tersimpan di Museum Islam Pusat Islam (BAHAEIS), 1992, maka pada manuskrip nomer kelas MI 839, di beberapa tempat terdapat nama Syeikh Abdul Muhyi Karang Pamijahan, seolah-olah naskah itu dinuqil daripada ajaran ulama sufi tersebut. Naskah ditulis dalam bahasa Melayu dan disalin di Pulau Pinang. Selain itu, penulis juga mempunyai sebuah karya Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, juga dalam bahasa Melayu, yang membicarakan Martabat Tujuh.

ASAL USUL DAN PENDIDIKAN

Syeikh Haji Abdul Muhyi adalah salah seorang keturunan bangsawan. Ayahnya bernama Sembah Lebe Warta Kusumah, adalah keturunan Raja Galuh (Pajajaran). Abdul Muhyi lahir di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 1071 H/1660 M dan wafat di Pamijahan, Bantarkalong, Tasikmalaya, Jawa Barat, 1151 H/1738 M. Abdul Muhyi dibesarkan di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Pendidikan agama Islam pertama kali diterima dari ayahnya sendiri dan kemudian dari para ulama yang berada di Ampel. Dalam usia 19 tahun, ia berangkat ke Aceh untuk melanjutkan pendidikannya dan belajar dengan Syekh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Kurang lebih enam tahun lamanya Syeikh Abdul Muhyi belajar dengan ulama besar Aceh itu, yaitu sekitar tahun 1090 H/1679 M-1096 H/1684 M.


Tahun Syeikh Abdul Muhyi belajar di Aceh kepada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri itu, dapat kita bandingkan dengan tahun pembelajaran Syeikh Burhanuddin Ulakan yang diyakini termasuk teman seperguruan dengannya.


Syeikh Burhanuddin Ulakan yang berasal dari Minangkabau itu belajar kepada Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri pada tahun1032 H/1622 M, tetapi tahun ini masih diperdebatkan karena riwayat yang lain menyebut bahwa ulama yang berasal dari Minangkabau itu dilahirkan pada tahun 1066 H/1655 M. Maka kita perlu membandingkan dengan tahun kelahiran Syeikh Yusuf Tajul Khalwati dari tanah Bugis-Makasar, yaitu 1036 H/1626 M, selanjutnya menuju ke Banten tahun 1054 H/1644 M, lalu ke Aceh belajar kepada Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri juga. Selain itu, dapat juga kita bandingkan dengan tahun kehidupan Syeikh Abdul Malik (Tok Pulau Manis) Terengganu, yaitu tahun 1060 H/1650 M hingga tahun 1092 H/1681 M; Semua ulama yang tersebut dikatakan adalah murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Banyak pula ulama bercerita bahawa semua mereka termasuk Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan adalah bersahabat.

Dengan perbandingan-perbandingan tahun tersebut, dapat kita ketahui bahwa tahun-tahun itu masih simpang siur, masih sukar untuk ditahqiqkan. Yang sahih dan tahqiq hanyalah mereka adalah sebagai murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri di Aceh. Yang lebih menarik lagi, bahwa semua mereka, kecuali Syeikh Burhanuddin Ulakan, diriwayatkan sempat belajar ke luar negeri ke Mekah, Madinah, Baghdad dan lain-lain. Termasuk Syeikh Abdul Muhyi diriwayatkan adalah murid kepada Syeikh Ibrahim al-Kurani di Mekah dan Syeikh Ahmad al-Qusyasyi di Madinah, yang keduanya merupakan ulama ahli syariat dan haqiqat yang paling terkenal pada zamannya.

Setelah Syeikh Abdul Muhyi lama belajar di Mekah dan Madinah, beliau melanjutkan pelajarannya ke Baghdad. Tidak jelas berapa lama beliau tinggal di Baghdad, tetapi diriwayatkan ketika beliau berada di Baghdad hampir setiap hari beliau menziarahi makam Syeikh Abdul Qadir al-Jilani yang sangat dikaguminya.

Dalam cerita tutur, Syeikh Abdul Muhyi adalah termasuk keturunan/zuriat Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, Wali Allah, Quthbul Ghauts, yang sangat terkenal itu. Riwayat yang lain diceritakan bahwa Syeikh Abdul Muhyi ke Baghdad dan Mekah adalah mengikuti rombongan gurunya, Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Dari Baghdad beliau kembali lagi ke Mekah dan selanjutnya kembali ke Jawa dan menikah di Ampel.


AKTIVITAS

Setelah menikah di Ampel, Syeikh Abdul Muhyi bersama isteri dan orang tuanya berpindah ke Darma, dalam daerah Kuningan, Jawa Barat. Selama kurang lebih tujuh tahun (1678 M-1685 M) menetap di daerah itu mendidik masyarakat dengan ajaran agama Islam. Kemudian berpindah pula ke daerah Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Di daerah itu, beliau hanya menetap kurang lebih setahun saja (1685-1686), meskipun sebentar, beliau berhasil menyebarkan agama Islam kepada penduduk yang ketika itu masih menganut agama Hindu.


Pada 1686 ayahnya meninggal dunia dan dimakamkan di kampung Dukuh, di tepi Kali Cikangan. Beberapa hari selepas pemakaman ayahnya, Syeikh Abdul Muhyi berpindah ke daerah Batuwangi. Beliau berpindah pula ke daerah yang dekat dengan Batuwangi yaitu ke Lebaksiuh. Selama kurang lebih empat tahun di Lebaksiuh (1686 M-1690 M), Syeikh Abdul Muhyi berhasil mengislamkan penduduk yang masih beragama Hindu ketika itu.


Menurut cerita, keberhasilannya dalam melakukan dakwah Islam terutama kerana Syeikh Abdul Muhyi adalah seorang Wali Allah yang mempunyai karamah, yang dapat mengalahkan bajingan-bajingan pengamal “ilmu hitam” atau “ilmu sihir”. Di Lebak Siung, Syeikh Abdul Muhyi mendirikan masjid, tempat ia memberikan pengajian untuk mendidik para kader yang dapat membantunya menyebarkan agama Islam lebih jauh ke bagian selatan Jawa Barat.

Kemudian Syeikh Abdul Muhyi berpindah ke satu desa, yaitu Gua Safar Wadi di Karang Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat. Perpindahannya ke Karang Pamijahan itu, menurut riwayat disebabkan beliau diperintahkan oleh para Wali Allah dan perjumpaan secara rohaniah kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, supaya beliau mencari suatu gua untuk tempat berkhalwat atau bersuluk di Jawa Barat. Cerita mengenai ini banyak dibumbui dengan berbagai kisah mitos yang merupakan kepercayaan masyarakat terutama golongan sufi yang awam.


Ada kisah yang mengimbangi cerita yang bercorak mitos itu, disebutkan riwayat yang bercorak sejarah, bahwa Syeikh Abdul Muhyi diundang oleh Bupati Sukapura, Wiradadaha IV, R. Subamanggala untuk memerangi dan membasmi ajaran-ajaran sihir yang sesat, Batara Karang, di Karang Pamijahan dan di gua Safar Wadi itu. Kedua tempat tersebut adalah tempat orang-orang melakukan pertapaan karena mengamalkan ilmu-ilmu sihirnya.

Oleh sebab Syeikh Abdul Muhyi memang hebat, beliau pula dianggap sebagai seorang Wali Allah, maka ajaran-ajaran sihir yang sesat itu dalam waktu yang singkat sekali dapat ditumpas. Penjahat-penjahat yang senantiasa mengamalkan ilmu sihir untuk perampokan, penggarongan dan kejahatan-kejahatan lainnya berubah menjadi manusia yang bertaubat pada Allah, setelah diberikan bimbingan ajaran Islam yang suci oleh Syeikh Abdul Muhyi, Wali Allah yang tersebut itu.


Gua Safar Wadi pula bertukar menjadi tempat orang melakukan ibadat terutama mengamalkan zikir, tasbih, tahmid, selawat, tilawah al-Quran dan lain-lain sejenisnya. Maka terkenallah tempat itu sebagai tempat orang melakukan khalwat atau suluk yang dipelopori oleh ulama yang terkenal itu.

Singkat kata, kita patut mengakui dan menghargai jasa Syeikh Abdul Muhyi yang telah berhasil menyebarkan Islam di seluruh Jawa Barat itu. Bukti bahwa beliau sangat besar pengaruhnya, sebagai contoh Bupati Wiradadaha IV, yaitu Raden Subamanggala, pernah berwasiat bahwa jika beliau meninggal dunia supaya beliau dikuburkan di sisi gurunya Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan itu. Tempat tersebut sekarang lebih dikenali dengan nama Dalem Pamijahan.


Pada murid-murid tertentu, Syeikh Abdul Muhyi mentawajjuhkannya menurut metode atau kaedah Thariqat Syathariyah yang salasilahnya diterima dari Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Walaupun tarekat yang sama diterimanya juga dari Syeikh Ahmad al-Qusyasyi, yaitu guru yang juga berguru pada Syeikh Abdur Rauf al-Fansuri, namun Syeikh Abdul Muhyi memulakan salasilahnya tetap menyebut Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Hal demikian karena tarekat tersebut memang terlebih dulu diterimanya dari Syeikh Abdur Rauf bin Ali al Fansuri.

Setelah beliau ke Mekah, Syeikh Abdul Muhyi menerima tawajjuh lagi dari Syeikh Ahmad al-Qusyasyi itu. Maka berkembanglah Thariqat Syathariyah yang berasal dari penyebaran yang dilakukan oleh Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri itu di tempat-tempat yang tersebut, melalui bai’ah, tawajjuh, dan tarbiyah ruhaniyah yang dilakukan oleh Syeikh Abdul Muhyi muridnya itu.


KETURUNAN

Menurut riwayat, Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan mempunyai empat isteri. Hasil pernikahannya itu, beliau menurunkan 18 anak. Dari Raden Ayu Bakta, memperoleh anak bernama Kiyai Haji Muhyiddin atau digelar Dalem Bojong. Namun menurut Aliefya M. Santrie, dalam buku Warisan Intelektual Islam Indonesia, setelah beliau pulang dari Pamijahan beliau menemukan satu artikel dalam majalah Poesaka Soenda yang menunjukkan bahwa tidak identiknya Kiyai Haji Muhyiddin dengan Dalem Bojong.


Kedua-duanya memang anak Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, tetapi Kiyai Haji Muhyiddin merupakan orang yang berbeda dengan Dalem Bojong. Menurutnya, makam Kiyai Haji Muhyiddin dalam majalah itu disebut namanya yang lain, yaitu Bagus Muhyiddin Ajidin, terletak di sebelah selatan makam Syeikh Abdul Muhyi, sedang makam Dalem Bojong terletak di sebelah timur.


Ada kemungkinan keturunan Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan itu sangat banyak yang menjadi ulama di daerah Jawa Barat, sewaktu penulis berulang-kali mengunjungi Pondok Gentur, Cianjur (1986 M-1987 M) diberi tahu bahwa Kiyai Haji Aang Nuh di pondok pesantren adalah termasuk keturunan Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan. Penulis sendiri menerima beberapa amalan wirid dari kiyai itu dan ternyata memang terdapat hadiah al-Fatihah untuk Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan dan beberapa ulama lainnya untuk mempelopori amalan tersebut.


Dari Kiyai Haji Aang Nuh juga, penulis mendengar cerita-cerita yang menarik mengenai Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan. Sampai sekarang Pondok pesantren Gentur dikunjungi mereka yang mempunyai permasalahan yang sukar diselesaikan dari seluruh Indonesia, tempat itu sentiasa ramai kerana doa kiyai itu dianggap mustajab.


Di Pondok pesantren Gentur itu tidak mengajar disiplin ilmu sebagaimana pondok-pesantren lainnya, di situ hanya mengajar amalan-amalan wirid terutama selawat atas Nabi Muhammad SAW. Penulis sempat mewawancara pengunjungnya, menurut mereka wirid atau amalan yang diterima dari kiyai itu terbukti mustajab.

PENYELIDIKAN ILMIYAH

Sebab kepopuleran ulama yang dianggap Wali Allah ini, beberapa sejarawan, budayawan dan lain-lain telah berusaha menyelidiki biografi ulama yang berasal dari Pulau Lombok itu. Di antara mereka umpamanya seorang Belanda, Snouck Hurgranje, pernah mengembara di Jawa Barat dan di Sukabumi menemukan beberapa naskhah karya yang dinisbatkan kepada karya Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan.


R. Abdullah Apap ibn R. Haji Miftah menyusun sebuah buku berjudul, Sejarah Pamijahan: Kisah Perjuangan Syeik Haji Abdulmuhyi Mengembangkan Agama Islam di Sekitar Jabar. Aliefya M. Santrie menulis artikel Martabat (Alam) Tujuh Suatu Naskah Mistik Islam Dari Desa Karang, Pamijahan. Dan banyak lagi tokoh yang membuat kajian mengenai ulama yang dibicarakan ini.


Terutama mengenai artikel Aliefya M. Santrie, yang lebih menjurus kepada pengenalan ajaran Martabat Tujuh versi Kiyai Haji Muhyiddin yang ditulis dengan huruf pegon. Setelah penulis teliti dan membanding dengan naskhah yang ada pada penulis yang ditulis dalam bahasa Melayu/Jawi, yang juga tercatat sebagai karya Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, memang banyak persamaan.Demikian juga dengan manuskrip koleksi Museum Islam Pusat Islam Malaysia nombor kelas MI 839, membicarakan Martabat Tujuh yang merupakan nukilan karya Syeikh Abdul Muhyi itu.


Walaupun demikian, perlu kita ketahui bahwa ajaran Martabat Tujuh sebenarnya bukanlah ciptaan Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan tetapi yang pertama membicarakan ajaran itu ialah dalam kitab bahasa Arab berjudul Tuhfatul Mursalah karya Syeikh Muhammad bin Fadhlullah al-Burhanpuri. Kitab tersebut disyarah oleh Syeikh Abdul Ghani an-Nablusi.


Martabat Tujuh dalam bahasa Melayu selain yang dibahas oleh Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan juga banyak, dimulai oleh ulama-ulama tasawuf di Aceh, diikuti oleh Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari dengan Ad-Durrun Nafisnya, Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani juga membicarakannya dalam Siyarus Salikin, Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani dalam Manhalus Shafi dan banyak lagi.

Oleh karena itu, perkembangan ilmu tersebut di dunia Melayu tumbuh subur, tak ubahnya seperti perkembangan ilmu tauhid metode sifat 20 dan fiqh menurut Mazhab Syafi'i pada zaman itu.

Sebagai penutup artikel ini, perlu penulis nyatakan bahwa, walaupun Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan terkenal di seluruh Jawa Barat, tetapi riwayat hidupnya hampir-hampir tak dikenal di dunia Melayu lainnya. Oleh karena itu, artikel ini adalah satu usaha memperkenalkannya, beliau adalah seorang ulama yang kealimannya disejajarkan dengan ulama-ulama terkenal yang lain, yang hidup sezaman dengannya, yaitu Syeikh Abdul Malik Terengganu Syeikh Burhanuddin Ulakan, Syeikh Yusuf Khalwati, Syeikh Abdur Rahman Pauh Bok al-Fathani dan banyak lagi.

Sumber : Koleksi tulisan HAJI WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH, tulisan asli berbahasa Melayu, diterjemahkan oleh pemilik blog fahmialinh.wordpress.com