Wednesday, June 10, 2015

Ketika Kiai Tidak Puasa

Belasan tahun yang lalu, jauh sebelum reformasi dan lahirnya FPI, tiga orang kiai Rembang, Kiai Asfani Toha, Kiai Kholil Bisri dan Kiai Ahmad Musthofa Bisri, bepergian ke Bangkalan, Madura, untuk menta’ziyahi seorang kiai yang wafat di sana. Waktu itu bulan puasa. Berangkat dari Rembang menjelang shubuh, sampai di Bangkalan saat dluha. Yang pertama-tama dicari adalah warung untuk sarapan. Toh sejak shubuh tadi Kiai Kholil dan Kiai Mus sudah jedhal-jedhul rokoknya.

Setelah agak lama berkeliling, didapatilah sebuah warung sederhana, salah satu dari sedikit sekali warung yang buka. Perempuan penjaga warung itu terlihat membungkuk-bungkuk dibalik meja jualannya, entah sedang sibuk apa.

“Permisi!” salah seorang menyapa. Perempuan itu mendongak dan mendapati tiga orang berkopiah putih lengkap dengan sorban. Seketika darahnya membeku.

Wajahnya pucat pasi. Tanpa sepatah kata, perempuan itu menyincing tapihnya dan melompat kabur lewat pintu belakang!

Kiai-kiai Rembang itu terpaksa tetap menahan lapar sampai selesai ta’ziah, ba’da ashar hari itu. Entah mana yang lebih disesali: menyulut rokok atau memakai kopiah putih dengan sorban ?

Sumber : Gus Yahya Cholil Staquf, TerongGosong.com, dikutip dari tulisan berjudul berjudul Takut