Tuesday, July 28, 2015

Keta'dziman Mbah Hasyim Asy'ari

Mbah Hasyim Asy’ari ketika nyantri di Mbah Kholil Bangkalan, hampir tidak pernah mengaji, tapi bisa menjadi seorang ulama standard internasional dan pendiri Nahdhatul Ulama, organisasi terbesar dan umatnya terbanyak di Indonesia. Padahal ketika mondok hampir tidak pernah mengaji karena selalu diperintah oleh Mbah Kholil untuk suatu tugas diluar mengaji.


Ketika jadwal mengaji setelah Dhuhur jam setengah satu akan dimulai, jam dua belas Mbah Hasyim sudah siap duduk di depan membawa kitab untuk mengaji (muthola’ah). Sementara santri yang lain belum datang. Baru kemudian santri yang lain datang berduyun-duyun, disusul Mbah Kholil datang ke tempat muthola’ah dan duduk di tempatnya.


“Syim...,” Mbah Kholil memanggil Mbah Hasyim.


“Dalem, Yai,” Mbah Hasyim menyahut.


“Itu Nyai mau mandi, kamar mandinya kosong, sana isi bak kamar mandinya sekarang,” Perintah Mbah Kholil.


“Baik, Yai,”, Mbah Hasyim yang diperintah pun menyanggupi, menutup kitabnya dan bergegas menuju kamar mandi.


Beliau mengerjakan tugas tersebut dengan tulus, penuh keikhlasan dan tanpa menyia-nyiakan waktu, tugas tersebut lekas diselesaikan sehingga beliau bisa cepat menghadiri pengajian Mbah Kholil tersebut. Setelah kamar mandi penuh, lekas Mbah Hasyim mengambil wudhu lalu bergegas menuju tempat ngaji. Ketika Mbah Hasyim duduk dan membuka kitab, ternyata..


“WaLlahua’lam bish Showaab, cukup sampai di sini keteranganku hari ini, semoga barokah, Aamiin,“ Mbah Kholil sudah menutup pengajiannya, sehingga Mbah Hasyim hanya kebagian Aamiin saja.


Esoknya, ketika akan mengaji, terulang kejadian seperti hari kemarin. Ketika akan memulai pengajiannya, Mbah Hasyim diberi perintah lagi oleh Mbah Kholil.


“Syim, Nyai mau memasak, kayunya habis, sana kamu cari kayu di hutan buat memasak, “ Perintah Mbah Kholil.


“Baik, yai,” Jawab Mbah Hasyim.


Penuh keta’dziman, Mbah Hasyim menyanggupi dan bergegas lari ke hutan dan mencari kayu untuk memasak. Segera setelah Mbah Hasyim sudah cukup banyak mendapat kayu, dipikulnya kayu tersebut lalu lari menuju pondok agar tidak ketinggalan pengajian. Setelah meletakkan kayu di kombongan, lekas Mbah Hasyim wudhu dan masuk ke tempat pengajian. Baru saja Mbah Hasyim membuka kitab, Mbah Kholil berujar.


“WaLlahua’lam bish Showaab, cukup sampai di sini keteranganku hari ini, semoga barokah, Aamiin,“ Mbah Kholil sudah menutup pengajiannya, sehingga sekali lagi Mbah Hasyim hanya kebagian Aamiin saja.


Esoknya seperti kejadian kemarin-kemarin. Ketika akan memulai pengajiannya, Mbah Hasyim yang sudah siap mengaji dengan kitabnya, diberi perintah lagi oleh Mbah Kholil.


“Syim, Nyai tadi ke kakus (WC), cincinnya hilang masuk ke kakus, Nyaimu sedih dan menangis, Syim, carikan cincinnya Nyai ya, “ Mbah Kholil memberi perintah kepada Mbah Hasyim.


“Baik, Yai,” Ujar Mbah Hasyim penuh ta’dzim.


Mbah Hasyim segera menutup kitab dan segera masuk kakus mencari cincinnya Nyai Kholil hingga ketemu.Dan akhirnya ditemukan juga cincin dalam kakus milik Nyai Kholil oleh Mbah Hasyim.


Begitulah santri zaman dahulu yang penuh keta’dziman dan tanpa banyak tanya, segera siap dan melaksanakan apapun yang diperintahkan Kiainya. Sehingga barokahnya nurut dengan ulama, nama Mbah Hasyim menjadi besar dan harum hingga sekarang. Semoga menjadi penyemangat dan motivasi kita semua dalam mengikuti segala perkataan dan perintah-perintah para ulama, habaib dan terutama Kanjeng Nabi SAW. Semoga bermanfaat.


Al-Faatihah


Sumber : Nafisyah Nur Syahadah