Muhammad Zia Ul Haq, pernah menjabat sebagai presiden Pakistan selama sepuluh tahun, hingga akhirnya tewas dalam ledakan pesawat pada 17 Agustus 1988, bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Jika bukan karena mushaf Al-Quran yang utuh dan selalu dikantongi di saku jasnya, pasti orang-orang tak bisa mengenali jenazahnya yang hangus terbakar saat itu.
Pada akhir bulan Oktober tahun 1945, Muhammad Zia Ul Haq mengalami hari-hari terngeri dalam hidupnya selama kecamuk Perang Dunia II. Peristiwa itu bernama Pertempuran Surabaya, suatu peristiwa yang menjadi bibit sejarah Hari Pahlawan 10 November.
Pada 14 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dua kotanya dibom oleh Amerika lima hari sebelumnya, dan menandatangani dokumen penyerahan diri di atas geladak kapal USS Missouri pada 2 September 1945. Menyusul kejadian ini, Kerajaan Inggris mengirim ribuan orang India, termasuk Muhammad Zia Ul Haq, untuk melucuti tentara Jepang yang masih bersenjata di Jawa. Mereka tergabung dalam resimen Gurkha, yakni suatu formasi tentara Inggris yang terdiri dari prajurit Muslim, Sikh, Jat dan Marhata. Tiga brigade mendarat, Brigade I di Jakarta, Brigade 38 di Semarang dan Brigade 49 di Surabaya.
Selama di Jawa, operasi yang diinstruksikan kepada tentara Gurkha ini adalah pelucutan serdadu Jepang. Namun ternyata tenaga mereka diselewengkan untuk menekan rakyat Indonesia, orang-orang pribumi, yang berjuang mati-matian mempertahankan kemerdekaan. Yang membuat para Gurkha kaget adalah yel-yel para pejuang pribumi itu;
“Allaahu Akbar! Allaahu Akbar!”
Teriakan itu sangat familiar di telinga tentara Gurkha tersebut, sebagai sesama muslim. Lantas mereka menyadari bahwa orang-orang yang sedang mereka tekan ini adalah saudara. Mereka berjuang untuk bangkit dari penjajahan, kolonialisme dan perbudakan. Gema takbir yang terus berkumandang dari mulut para pejuang selama pertempuran menyadarkan tentara Gurkha tersebut bahwa musuh yang dihadapi adalah saudara seiman yang sedang berjihad membela negara dan agamanya. Apalagi, dihadapkan dengan kenyataan, ternyata musuh itu banyak dari kalangan para ulama (kiai), para santri, serta rakyat sipil yang bersenjatakan perkakas seadanya.
Pidato-pidato anti-kolonialisme dari Muhammad Ali Jinnah, Mahatma Gandhi, dan Abul Kalam Azad yang tentara Gurkha dengar di radio-radio cukup meyakinkan mereka untuk membela kaum tertindas ini. Apalagi mereka ternyata masih sesama muslim. Maka banyak dari tentara Gurkha itupun membelot.
Lebih dari enam ratus personil pasukan Gurkha membelot dari tentara Kerajaan Britania dan ikut bertempur bersama barisan pejuang Indonesia. Beberapa nama komandannya seperti Lance Naik Mir Khan, Gilmar Bani, Muhammad Yacub, Umar Din, Ghulam Rasul, Ghulam Ali, Major Abdul Sattar, Muhammad Sidik, Muhammad Khan, Fazul dan Senjah Fazul Din.
Ghulam Ali, pimpinan divisi 32 dari Brigade I yang di kemudian hari mendapat penghargaan Yanautama dari presiden Sukarno pada tahun 1963, menyalurkan pakaian kepada penduduk pribumi. Ghulam Rasul mendistribusikan beras, gula, garam dan berbagai macam sembako lain. Bahkan dalam suatu insiden, tentara Gurkha sempat bertempur menyelamatkan Soekarno dari kepungan NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Ia selamat tanpa luka, sedangkan mobilnya remuk.
Banyak di antara tentara Gurkha itu yang turut bergabung di barisan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) maupun BKR (Badan Kemanan Rakyat), seperti Mayor Ahmad Husein yang bahkan menjadi komandan di Resimen III dengan pangkat Letnan Kolonel. Tanpa sepengetahuan Inggris, tujuh tentara Gurkha dipimpin Ghulam Rasul mengadakan pertemuan rahasia dengan para komandan di Divisi Siliwangi. Kode ‘rahasia’ mereka saat itu adalah ucapan salam;
“Assalaamu ‘Alaykum.”
Dari target tiga hari, pertempuran besar Surabaya berlangsung selama tiga minggu. Kota Surabaya betul-betul luluh lantak. Pertempuran sengit yang betul-betul mengerikan terjadi di sana. Inggris memang akhirnya berhasil menguasai Kota Surabaya, namun semuanya harus dibayar mahal. Ia kehilangan dua jenderal terbaik, Mallaby dan Mansergh, kehilangan dua ribu lebih pasukan terlatih, kehilangan peralatan perang yang cukup banyak, terkuras habis logistiknya, tidak sebanding dengan luas wilayah yang ia rebut, dan tentu saja: pembelotan beberapa tentara Gurkha sebagai prajurit mereka.
Banyak dari tentara Gurkha yang kemudian menetap, menikah, dan melanjutkan hidupnya di Indonesia. Muhammad Zia Ul Haq sendiri memutuskan untuk menarik pasukan yang dia pimpin dan kembali ke negeri tempatnya berasal. Atas tindakan inilah, Muhammad Zia Ul Haq dicap sebagai pengkhianat Inggris sampai dia mati dalam ledakan pesawat C-130 di Bandara Bahawalpur.
Sumber : Zia Ul Haq