Wednesday, November 25, 2015

Asy-Syaikh Al Kabir Abdullah bin Ahmad Basaudan, Shahibul Hadrah Basaudan

Setiap hari selasa, di beberapa tempat di Provinsi Hadramaut, Yaman Selatan, kita bisa menjumpai majelis Hadrah Basaudan. Di beberapa kota di Nusantara, majelis semacam itu juga sudah mulai diadakan. Hadrah Basaudan adalah kumpulan syair dan doa karya seorang ulama yang di masanya diakui sebagai mufti tertinggi dalam pengetahuan, Syaikh Abdullah bin Ahmad Basaudan. Ia telah mencapai derajat “ijtihad fatwa” yang tak bisa diraih sembarang ulama. Begitu hebatnya Syaikh Abdullah Basaudan, hingga para ulama Hadramaut tak canggung menyandangkan gelar Hujjatul Islam kepadanya.




Gelar kehormatan ini dulu pernah disandang Imam Al-Ghazali. Mufti besar yang bernama lengkap Abdullah bin Ahmad bin Abdullah bin Abdurrahman Basaudan ini dilahirkan pada tahun 1178 Hijriyah di Hurebeh, sebuah kota di lembah Duan, Hadramaut. Ia adalah keturunan al-Miqdad bin al-Aswad al-Kindy, salah seorang sahabat Baginda Rasul SAW. Seperti kebanyakan ulama Hadramaut, Syaikh Abdullah Basaudan mendapat pengetahuan dasar dari ayahandanya sendiri. Kemudian ia menggali ilmu dari sejumlah ulama yang terkenal tahqiq (detail) dalam pengetahuan. Ia menyempatkan diri belajar kepada Syaikh Abdullah bin Ahmad Bafaris, seorang ulama yang dikenal sangat alim dan ahli beribadah. Syaikh Basaudan bermukim di rumah Syaikh Abdullah dan dengan setia melazimi majelis-majelis gurunya itu sampai wafatnya.


Ia mempelajari banyak disiplin ilmu darinya. Di antara kitab-kitab yang ia hatamkan di bawah bimbingan gurunya itu adalah Ihya Ulumuddin, Risalah Qusyairiyah, dan ‘Awarif. Setelah itu, ia memperdalam pengetahuan fikih, sastra dan tasawuf kepada Habib Umar bin Abdurrahman al-Barr, sosok ulama dan wali besar yang disegani di Hadramaut. Bagi Syaikh Basaudan, Habib Umar adalah Syaikh futuh (guru yang membuka cakrawala ilmunya), lantaran Habib Umarlah yang menyempurnakan ilmu dan membentuk karakter dirinya sampai di kemudian hari ia menjadi ulama besar. Habib Umar juga sangat memperhatikan muridnya yang satu ini. Pada tahun 1209 H Ia mengajak Syaikh Basaudan berziarah kepada beberapa ulama besar Hadramaut dan memintakan ijazah untuknya. Di antaranya kepada Habib Hamid bin Umar Hamid, Habib Ahmad bin Hasan al-Haddad, Habib Husein bin Abdullah bin Sahal, Habib Umar bin Segaf as-Segaf dan Habib Umar bin Zein bin Sumaith.


Mengenai pengalaman ziarah bersama gurunya itu, Syaikh Basaudan berkisah, “Ketika aku mendampingi Habib Umar bin Abdurrahman al-Barr mengunjungi Habib Umar bin Zein bin Sumaith, aku saksikan Habib Umar al-Barr mendapatkan ijazah serta ilbas darinya. Guruku lalu berbisik kepadaku,“ Dia (Habib Umar bin Zein), ilmunya berada di belakang akalnya.” Ucapan Habib Umar itu merupakan isyarat akan kehebatan Habib Umar bin Zein yang kala itu digelari “Quthbuz Zaman.” “Para ulama yang kami kunjungi sangat menghormati guruku,” kata Syaikh Basaudan. “ Hal itu dikarenakan kedalaman ilmu Habib Umar, terutama dalam ilmu hadits. Beliau dulu pernah merantau ke berbagai negara untuk mencari ilmu. Salah satu guru beliau adalah al-Qadli Ahmad bin Qathin as- Shon’any.”


Mengenai perhatian Habib Umar kepada dirinya, ia berujar, “ Habib Umar sering menganjurkanku agar tiada pernah jemu belajar dan mengajar, mengambil serta memberikan manfaat. Beliau senantiasa siap membantuku, baik dengan harta atau doa beliau“. Syaikh Basaudan tak pernah absen menyertai Habib Umar kemana pun ia pergi. Bahkan ia tepat berada disanding gurunya, tatkala sang guru menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanan ke Haramain, tepatnya di sebuah desa di wilayah Hijaz yang bernama Jalajil. Oleh karena itu, maka Habib Umar bin Abdurrahman al-Barr juga mendapat julukan Shahib Jalajil.


Melanglang


Syaikh Basaudan pernah menuntut ilmu di Haramain. Di antara para gurunya di Mekah adalah Syekh Umar bin Abdurrasul al-Attar, seorang guru besar yang telah mencetak banyak ulama terkenal. Selama tinggal di kota itu, Syaikh Basaudan juga mengaji kepada Habib Ali bin Muhammad al-Baity. Kemudian ia pindah ke Madinah untuk belajar kepada Habib Muhsin bin Alwi Muqaibal. Ia juga memperdalam pengetahuan haditsnya dengan mempelajari kitab Shahih Bukhori kepada Habib Ahmad bin Alwi Bahasan Jamalullail, serta memperkokoh ilmu fikihnya kepada Syaikh Muhammad bin Sholeh ar-Rais, guru besar fikih mazhab Syafi’i di kala itu.


Pengembaraan Syaikh Basaudan untuk mereguk manisnya ilmu pengetahuan tak hanya sampai disitu. Ia pernah melanglang ke negeri Mesir untuk belajar kepada ilmuwan-ilmuwan besar yang bermukim di sana. Bukanlah suatu kebetulan apabila sebagian besar guru-gurunya adalah para habaib. Ia memang memendam rasa cinta yang mendalam kepada anak-cucu Baginda Nabi SAW. Kelak, oleh para ulama ia digelari “Salman” ahlul bait. Ketekunan Syaikh Basaudan dalam menimba ilmu pengetahuan pada akhirnya membuahkan hasil yang optimal. Ia menjadi sosok yang allamah (sangat alim) dan kemudian diangkat menjadi mufti, yakni ulama yang memperoleh kewenangan mengeluarkan fatwa-fatwa. Keluasan ilmunya itu juga membuatnya digelari “Hujjatul Islam.”


Guru yang bijak


Sikap rendah hati Syaikh Abdullah Basaudan terlihat dari keakrabannya dengan murid-muridnya. Ia tak pernah risih untuk sekadar duduk-duduk dan berbincang dari hati ke hati dengan mereka. Baginya, murid bukanlah bawahan, akan tetapi amanat yang harus dijaga. Suatu ketika ia berdiskusi dengan salah seorang murid terbaiknya, Sayid Sholeh bin Abdullah al-Attas. “Wahai guru, aku pernah memimpikan anda,” kata Sayid Sholeh. “Dalam mimpi itu anda bertanya kepadaku, ‘Siapakah yang lebih utama, anda ahlul bait) ataukah kami (ulama)?’ maka aku menjawab pertanyaan anda, ‘Anda (ulama) menjadi utama karena kami, sementara kami (ahlul bait) menjadi utama karena Allah dan anda.” Syaikh Abdullah kemudian mentafsirkan mimpi muridnya itu dengan ucapan yang bijak. “Sungguh, Allah SWT telah mempererat hubungan kita (ulama dan ahlul bait) dengan mimpi itu.”


Selain kumpulan fatwa, syair dan wasiat, Syaikh Abdullah juga menulis beberapa kitab. Di antaranya adalah Syarh Rasyafaat, Syarh Ratibul Haddad, Faidhul Asrar, Hadaiqul Arwah dan Jawahirul Anfas. Karya masterpiece Syaikh Abdullah Basaudan adalah “Hadrah Basaudan.” Hadrah ini dibaca secara rutin setiap selasa sore di beberapa tempat di Hadramaut. Hadrah ini berisikan kumpulan kasidah, doa-doa, dan tawassul kepada imam-imam Alawiyyin. Akhir-akhir ini hadrah tersebut dibaca di beberapa kota di Indonesia.


Syaikh Abdullah Basaudan meninggal dunia pada hari ketujuh bulan Jumadil Ula tahun 1266 Hijriyah dengan meninggalkan murid-murid yang belakangan menjadi ulama besar.
Mereka adalah Habib Abubakar bin Abdullah al-Attas{Guru Futuh Al Imam Quthbul Wujud Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi}, Habib Sholeh bin Abdullah al-Attas, Habib Idrus bin Umar al-Habsyi, Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdor, Habib Abdurrahman bin Ali as-Segaf dan putranya sendiri, Syaikh Muhammad bin Abdullah Basaudan. Menjelang wafatnya, banyak orang yang mengenang bahwa wajah Syaikh Abdullah Basaudan menyerupai sosok salah satu gurunya yang paling beliau kasihi, yaitu Habib Thahir bin Husein bin Thahir.


Lahu Al-Faatihah


Sumber : Ali Abdurrahman AlHabsyi