Monday, December 28, 2015

GUNUNG SLAMET DAN ISLAM NUSANTARA

Selama di Kampung halaman bapak, saya dan anak-anak selalu dengarkan cerita tentang Gunung Slamet dari orang-orang kampung. Merupakan tradisi bagi orang-orang di kampung, mendaki Gunung Slamet hingga ke pinggiran kawah. Mbah saya sendiri semasa hidup sudah tujuh kali mendaki dan sampai di puncak Gunung Slamet.


Yang menarik dari kisah tentang Gunung Slamet adalah misteri yang menyelimutinya. Dari namanya pun Gunung ini memiliki keunikan. Hampir sebagian besar gunung di Indonesia bernama Sanksekerta atau nama bahasa setempat. Tapi tidak untuk Gunung Slamet. Meskipun terkesan njawani, tapi nama Slamet adalah nama asimilasi yang bernafaskan Islam dari aspek penyebutan dan juga makna.


Keunikan yang dimiliki Gunung Slamet tidak saja terdapat pada nama. Sepupu saya, yang sudah 7 kali bolak balik mencapai puncak Gunung Slamet menegaskan bahwa banyak aspek di luar rasionalitas para pendaki profesional, yang sering dijumpai dalam proses pendakian Slamet.


Ia menuturkan bahwa bisa saja seseorang yang mampu taklukkan gunung-gunung lain, atau bahkan Gunung Everest yang merupakan gunung tertinggi di dunia, gagal mencapai puncak Slamet. Ia bahkan mengatakan, "bahkan orang yang semula diremehkan mampu mencapai puncak Slamet, dalam kenyataan justru mampu sampai di puncak."


Keterangan sepupu itu, pada waktu yang berbeda, diamini oleh penjelasan paman saya, ayah dari Gus Fauzan Adib. Paman yang sudah pernah mencapai puncak Slamet itu menuturkan bahkan di Puncak Slamet, adab dan sunnah Rosul harus dijaga supaya selamat dalam proses naik-turun.


Keterangan dari dua orang yang berbeda dan pada waktu yang berbeda itu mendorong saya untuk memahami fenomena Gunung Slamet, khususnya dari masyarakat lereng utara. Perjalanan di beberapa desa seperti Pulasari, Karangsari, Sima, Patoman, Banjaran, Plakaran, Limbangan, dan Belik, memberikaqn beberapa asumsi yang saya kira menarik untuk dipelajari.


Tradisi masyarakat lereng Gunung Slamet khususnya lereng utara adalah tradisi Islam. Meskipun tidak ditegaskan dengan istilah Arab, seperti mitoni 4 bulan, rasulan dan debaan, tradisi-tradisi itu bisa ditemukan legitimasinya di dalam kitab-kitab sunnah seperti Mu'jam al-Zawaaid atau Mu'jam al-Thobrony.


Bagi masyarakat lereng utara, mendawamkan bacaan sholawat sebelum azan shubuh merupakan "keharusan" untuk menjaga harmoni Alam. Jika di lereng Merapi pada masa lalu, seperti dituturkan Kyai Ahmad Baso, sering dibacakan Shohih al-Bukhory agar Gunung itu tidak mengamuk, maka Gunung Slamet mungkin cukup dengan solawat Nabi yang dilantukan para penghuninya.


Tidak sampai di situ. Beberapa tempat yang diduga sebagai petilasan di Gunung Slamet mempunyai nama seperti nama para nabi, semisal petilasan Mbah Soleh di arah Purwokerto dan Mbah Sulaiman di arah Bumiayu.


Simpulan sementara saya, Gunung Slamet bukan sekedar sebuah gunung yang menyimpan banyak misteri. Tapi, Gunung ini adalah representasi dari wujud Islam yang menusantara di bumi Indonesia.


Sumber : KH. Abdi Kurnia Djohan