Saturday, December 26, 2015

Kenapa Gus Dur di Ciganjur?

Kesultanan Demak terletak di Glagah, Demak, Jawa Tengah. Raden Fatah, yang bernama asli Tan Eng Hwa, adalah raja pertamanya. Atas restu Dewan Ulama, yang kita kenal dengan Walisongo, Raden Fatah mengumpulkan balatentaranya (rakyatnya) sejumlah 350 ribu untuk membalas kedzaliman Majapahit. Yang mana dulu para orangtua mereka telah dibunuh oleh orang-orang Majapahit.


Ditunjuklah seorang panglima untuk memimpin tentara sebanyak itu, yaitu Sayyid Abdurrahman asal Ngroto Demak (sekarang masuk wilayah Grobogan Purwodadi). Beliau sosok yang cerdas, jendral yang pandai membuat taktik. Ki Ageng Genjur, adalah sebutan untuknya waktu memimpin tentara. Genjur adalah alat musik tradisional di bawahnya Gong. Dalam bahasa Jawa disebut Thuthukan, di dalam dunia perwayangan. Dinamai Genjur karena saat beliau memimpin tentara memberikan aba-aba dengan suara "Thung!" satu kali untuk berhenti. "Thung, thung" dua kali untuk berjalan. 350 ribu tentara kompak mengikuti irama alat musik Genjur tersebut.




Hingga sampailah mereka di Bengawan Solo, kemudian Bengawan Brantas di Kediri. Waktu itu belum ada perahu. Atas inisiatif Ki Ageng Genjur dibuatlah "gethek" (perahu kecil dari potongan-potongan bambu) untuk menyeberangkan semua tentara di dua bengawan besar tersebut. Dengan taktik itu beliau mampu menyeberangkan 350 ribu tentaranya dengan selamat, tidak ada satu pun yang mati.


Setelah pensiun dari kepanglimaan, beliau pergi ke Banten untuk berziarah ke Sultan Hasanudin. Beberapa saat diam di situ, kemudian dilanjutkan ke Jakarta. Daerah Jakarta yang didiami beliau itulah yang kemudian dinamai Ciganjur, saat itu masih sepi. Kemudian sekarang menjadi tempat kediaman almarhum Gus Dur. Karena Ki Ageng Genjur adalah kakek-moyangnya Gus Dur. Maka berdiamnya Gus Dur di Ciganjur sama artinya kembali ke keluarga mbahnya (kakek-buyut). Warga Ciganjur sebenarnya masih saudara satu family dengan Gus Dur.


Sumber : Sya'roni As-Samfury Disarikan dari Ceramah Gus Dur di Ponpes At-Taqiy, Kalipucang Kulon, Jepara, asuhan KH. Nurkholis.