Wednesday, January 20, 2016

Ketika Sang Ulama Melakukan Kesalahan

Al Kisa-i, hampir semua santri tidak asing dengan nama ini, santri ahli kitab kuning mengenalnya sebagai Jendralnya ulama Nahwu daerah Kufah yang menjadi seteru abadi Imam Sibawaih, Jendralnya daerah Bashrah, meskipun keduanya sama-sama murid dari Al Imam Kholil bin Ahmad. Sedangkan santri tahfidz Al Qur'an mengenal nama ini sebagai salah satu dari Tujuh Imam Qira-at atau Qira-ah Sab'ah. Nama asli beliau adalah Ali bin Hamzah, sedang Al Kisa-i adalah julukan beliau, julukan yang beliau dapat sewaktu menunaikan ibadah haji, yaitu ketika beliau memakai kain 'kisa'' yang tidak umum digunakan sebagai kain ihram, dan sejak itulah beliau dipanggil Al Kisa-i.


Beliau pernah bercerita :


"Saya pernah suatu kali sholat berjamaah bersama Khalifah Harun Ar Rasyid, saya yang jadi Imamnya."


Harun Ar Rasyid ini adalah salah satu pemimpin dari Dinasti Bani Abbasiyah yang terkenal sangat dekat dan menghormati para ulama, bahkan putranya juga dipondokkan di pesantren Imam Al Kisa-i ini.


"Ditengah tengah saya membaca ayat, tiba-tiba saya merasa takjub sendiri dengan bacaan saya, sehingga, karena terlena, saya keliru baca pada sebuah kata, padahal bahkan seorang anak kecil pun sebenarnya tidak akan salah membacanya. Saya membaca


يرجعين


Padahal seharusnya


يرجعون


Khalifah Ar Rasyid sepertinya tidak berani menyalahkan, hingga setelah saya salam, ia bertanya ;


"Wahai Imam, bahasa/ qiraah (si)apakah itu tadi?"


Maka saya pun berkata ;


"Wahai Amirul Mukminin, bahkan kuda yang terlatih pun kadang terpeleset."


"Ow, gitu to..", sahut Ar Rasyid.




Itulah sikap tepat dari seseorang ketika berhadapan dengan seorang ulama, apabila melihat hal yang dirasa salah tidak langsung menyalah-nyalahkan, akan tetapi klarifikasi terlebih dahulu, kadang memang salah dan itu adalah hal lumrah bagi manusia, tapi kadang kita yang belum paham atas tindakan ulama tersebut.


Sumber : Ahmad Atho