KH. Zainal Musthofa lahir di Kampung Bageur, Desa Cimerah, (kini termasuk wilayah Desa Sukarapih Kecamatan Sukarame) Kecamatan Singaparna, Tasikmalaya pada tahun 1899 (ada yang menyebut ia lahir tahun 1901 dan Ensiklopedia Islam menyebutnya tahun 1907, sementara tahun yang tertera di atas diperoleh dari catatan Nina Herlina Lubis, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat) dari pasangan Nawapi dan Ny. Ratmah. Sewaktu masih kecil ia bernama Umri dan sepulang dari pesantren berganti nama menjadi Hudaemi. Namanya menjadi Zainal Musthofa setelah ia menunaikan ibadah haji pada tahun 1927.
Sunday, April 26, 2015
KH. Zainal Musthofa Sukamanah
Saturday, April 25, 2015
KH. Hasyim Latief Sepanjang
KH. Hasyim Latief dilahirkan sebagai anak ke 3 dari seorang ayah yakni H. Abdul Latief yang berpenghidupan sebagai pengusaha dan pedagang, dan ibunya adalah Asiyah, seorang ibu yang taat beragama dan takdzim pada suami. Hasyim Latief lahir di desa Pakelan Kecamatan Kota Kabupaten Kodya Kediri. Dirumah H.Syukur (kakak dari Ibu Asiyah) pada tanggal 16 Mei 1928 hari Rabu ( 26 Dzul qoidah 1346 H).
Pada usia 5 tahun (1933), Hasyim Latief diajak pindah olehorang tuanya ke daerah jombang, yakni desa Somobito kec Somobito. Semenjak pindah dari Kediri ke Jombang, ayahnya tetap menjalankan usaha sebagai pandai besi dan juga pedagang. Demikian juga ibunya ikut membantu mencari nafkah dengan membuat jajan gorengan, kemudian di titipkan ke penjual keliling.
Friday, April 17, 2015
KH. Munasir Ali
KH Munasir Ali lahir pada tanggal 2 Maret 1919 di Modopuro, Mojasari, Mojokerto pada 2 Maret 1919 dari seorang ayah bernama H Ali yang merupakan seorang kepala desa yang dihormati di daerahnya.Kiai Munasir (Pak Sir) adalah kiai yang memiliki keteguhan moral dan integritas pribadi yang tinggi, semuanya itu tidak dimiliki secara serta merta, melainkan ditempa melalui pengalaman panjang sejak masa kanak-kanak sudah menghadapi berbagai ketidakadilan. Tatkala masih remaja telah menghadapi diskriminasi Belanda, yakni ketika telah lulus ujian masuk MULO, tetapi tidak diperkenankan masuk sekolah tersebut sebab ia bukan anak seorang priyayi atau bangsawan.
KH Zainul Arifin
Barus adalah sebuah kota kecil di pantai barat Sumatera, saat ini masuk wilayah Sumatera Utara. Kota kecil ini terkenal ke seluruh dunia sejak tahun 160 Masehi melalui tulisan Ptolemaus karena produk kapur barusnya yang terkenal itu. Bahkan Islam telah masuk wilayah ini sejak tahun 48 Hijriyah, seperti tertulis dalam makam Syekh Arkanuddin yang berada di tanah harum ini.
Temuan sejarah para ulama NU yang bertugas merawat makam tua itu sempat menggoncangkan teori sejarah masuknya Islam di Indonesia dalam seminar masuknya Islam pada tahun 1963. Banyak ulama besar berasal dari tempat ini, di antaranya yang paling menonjol adalah Hamzah Fansuri, yang terkenal dengan kitab tasawufnya. Di tanah Barus yang terkenal keharuman kapurnya serta keharuman para ulamanya itulah pada tahun 1909 KH Zainul Arifin dilahirkan.
KH. Sullam Syamsun
KH. Sullam Syamsun Dilahirkan pada tahun 1922 di Malang. Tidak banyak biografi yang mengulas Kiai berpangkat terakhir Brigadir Jendral bintang satu ini (satu-satunya penyandang pangkat tertinggi kemiliteran dari para tokoh NU yang pernah aktif di bidang kemiliteran), semuanya hanya cuplikan dan potongan sejarah ringkas beliau.
Beliau adalah kakak kelas dari KH. Muchit Muzadi (salah satu deklarator PKB) di Tebuireng, Jombang. Ketika di Tebuireng itu, KH. Sullam Syamsun ini mempunyai organisasi yang bernama KPIM ( Kumpulan pemuda Indonesia Merdeka), KH. Sullam Syamsun adalah ketuanya sedngkan KH. Muchit Muzadi adalah anggotanya yang paling menonjol. Karena Belanda melarang penggunaan kata-kata "Indonesia" dan "merdeka", maka kepanjangan dari KPIM diubah menjadi "Kumpulan Pemuda Islam Malang".
KH. Masykur Singosari
KH Masykur lahir di Singosari pada tahun 30 Desember 1900 M dan ada yang menyebut tahun 1904. Ketika ibunda KH Masykur mengandung dia melaksanakan haji ke tanah suci meskipun begitu dia tetap melakasanakan haji dengan khidmat. Oleh karenanya beliau sudah merasakan naik Haji bahkan ketika masih di dalam kandungan. Pada usia sepuluh tahun beliau sudah menunaikan rukun Islam yang ke-5. Ayahanda beliau sangat anti terhadap penajajah belanda. Oleh karena itu beliau menghabiskan masa muda beliau di lingkungan pesantren.
